Percikan Api Sepanjang Tahun: Il-Feel

0
1,615 views
Ilustrasi (Ist)

FamilyBANDARA Udara Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat, pertengahan Januari  silam. Saya duduk di ruang tunggu bandara yang ramai. Saat itu saya menunggu keberangkatan pesawat GA 504 tujuan Jakarta. Untuk membunuh waktu, saya membaca komik kesukaan saya yakni  kisah petualangan Tintin dan anjingnya, Milo dari PC (Personal Computer) tablet saya.

Namun  tiba-tiba konsentrasi saya buyar. Lengkingan tangis seorang anak kecil menarik perhatian saya dan orang-orang yang sedang berada di ruang tunggu tersebut. Rupanya ada anak laki-laki kira-kira berumur 6 tahun yang sedang menangis meraung-raung di lantai.

Anehnya, orangtuanya yang duduk tak jauh dari anak tersebut kelihatan tenang saja. Ibunya sibuk ber-BBM-an dengan Blackberrynya sementara sang bapak juga sama, sibuk terus dengan gadgetnya.

“Ya,ampun,apa yang terjadi dengan kedua orangtua itu?,” jerit saya dalam hati.

Si anak masih terus menangis dan beberapa penumpang sudah mulai tak tega dengan anak malang tersebut. Mereka mencoba mendiamkan dengan menyapa,menawarkan makanan dan mainan supaya tangisannya reda. Namun si anak tetap saja mengguling-gulingkan badannya di lantai. Mungkin karena malu atau apa,  akhirnya si ibu dan bapak anak itu pun sadar juga dari rasa cuek mereka. Si bapak yang masih muda itu lalu menarik, lebih tepatnya, menggeret tangan anak yang masih menangis itu dan dipangku dengan ekspresi marah karena perilaku anaknya.

Duh..duh..!

Faktor internal dan eksternal

Saya, kok, jadi ilfil (ilang feeling) ya, menyaksikan kejadian itu. Saya jadi malas baca komik lagi. Pikiran saya melayang ke bangku kuliah beberapa waktu lalu. Waktu itu mata kuliahnya Psikologi Kepribadian.

Dijelaskan dosen saya bahwa proses pembentukan kepribadian seseorang selain ditentukan oleh faktor internal seperti gen dan sifat bawaan, dipengaruhi juga oleh faktor eksternal misalnya lingkungan sosialnya dan pola pengasuhan orangtua.

Seorang pakar psikologi yakni Darling  N dalam sebuah jurnal psikologi berjudul Parenting Style and Its Correlates,  mengemukakan pola asuh sebagai suatu aktivitas yang kompleks, yang meliputi beragam perilaku orangtua dalam mempengaruhi perilaku anak. Sementara, ahli  lain yakni Roberta M. Berns dalam bukunya Child, Family, School, Community: Socialization and Support  juga menggarisbawahi  pola asuh merupakan cara perlakuan orang tua dalam hal mendidik anak. Maka tak dapat dipungkiri bahwa cara orangtua mengasuh anak-anak  dapat mempengaruhi cara anak-anak ini berkembang dan memandang dunia sekitarnya.

Mengingat hal itu, saya jadi khawatir apabila sikap orangtua yang cuek seperti tadi dilakukan terus menerus terhadap si anak, bisa jadi kepribadian si anak bisa terganggu nantinya. Sikap orangtua yang melakukan “pembiaran”, tidak memberi perhatian dan kehangatan saat si anak mengalami kesedihan atau kemarahan bisa berpotensi menumbuhkan masalah emosional di masa dewasa. Itu seperti misalnya jadi orang yang pasif, skeptis, mudah menyerah, pemarah, tidak percaya diri, kasar, keras sampai jadi orang yang berdarah dingin, agresif dalam kegiatan seks atau perilaku-perilaku menyimpang lainnya.

Si Jacko

Beberapa tokoh dunia  yang berpengaruh juga mengalami perlakuan buruk dari orangtuanya.

Michael Joseph Jackson, atau yang lebih dikenal sebagai Michael Jackson, penyanyi legendaris dunia (1958-2009),  sangat trauma apabila mengenang masa kecilnya. Ia mengisahkan bahwa ia diperlakukan secara kasar, baik mental dan fisik oleh ayahnya. Ia sering dicambuk, ditakut-takuti dan kerap dipanggil dengan panggilan kasar.

Michael JacksonMeskipun meraih sukses tetapi sampai akhir hayatnya Michael tetap menjadi pribadi yang labil, tidak bahagia dan kesepian.

Tokoh lain adalah Adolf Hitler, seorang diktator dan tokoh fasis  Jerman (1889-1945) yang terkenal karena kekejamannya. Ia melewatkan masa kecilnya dalam tekanan orangtuanya. Ayahnya tak segan menggunakan kekerasan untuk mendidik Hitler. Perlakuan ayahnya yang kasar dan keras telah membuat Hiltler merasa inferior dan tidak berguna.

Pada masa hidupnya, Hitler dikenal sebagai pribadi yang kejam, sadis dan tanpa perasaan saat ia menyiksa ribuan tawanan di kamp-kamp konsentrasi Jerman. Akhirnya ia pun memutuskan bunuh diri di bunkernya akibat perasaan tidak bahagia yang menghantuinya seumur hidup.

Terakhir, tokoh lain yang saya baca adalah Steve Jobs (1955-2011), CEO perusahaan Apple  yang kondang seantero dunia. Ia mengalami masa kecil yang pahit akibat ditelantarkan orangtua kandungnya hingga ia diadopsi orang lain. Akibat pengalaman traumatis itu, kabarnya sampai detik kematiannya ia tidak bersedia bertemu dengan orangtua kandungnya.

Jejak hitam sejarah

Saya jadi tercenung. Perlakuan orangtua yang tidak menyayangi anak-anak sebagaimana mestinya telah meninggalkan jejak hitam sepanjang hidup. Tentu saja pengasuhan orangtua bukan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak di kemudian hari, akan tetapi tetap saja orangtualah yang bertanggungjawab dan menjadi pemegang kendali yang besar dalam perkembangan kepribadian anak. Lha, wong, orangtua adalah figur paling dekat dengan anak. Tiba-tiba saya jadi tambah kasihan dengan anak itu tadi.

Sesaat kemudian, pengumuman untuk boarding mengagetkan lamunan saya. Mata saya celingukan mencari anak yang menangis dan orangtuanya tadi. Mereka tidak nampak lagi dalam antrian, entah kemana. Sambil menggendong ransel yang penuh dengan oleh-oleh khas kota Pontianak,  saya hanya berdoa semoga pikiran saya tentang orangtua tadi salah, semoga anak tersebut tidak benar-benar berada di pengasuhan yang salah sehingga semua yang saya khawatirkan tadi tidak terjadi. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here