Pernikahan Katolik di Pedalaman Keuskupan Ketapang: No Ribet, Biaya Minim, Nilai Sakramental Sama (8)

0
637 views
Pastor Sepo CP melakukan pelayanan pastoral liturgi perkawinan katolik di Stasi Sekukun, Paroki St. Gabriel Sandai. (Ist)

INI komentar pendek penuh makna dari Pastor Sepo CP, pastor Ordo Passionis yang kini melayani tugas pastoral di Paroki St. Gabriel Sandai –jauh dari ‘pusat kota’ Ketapang. Kali ini, yang mau diungkapkan oleh pastor pribumi Dayak kepada Sesawi.Net ini adalah sesuatu yang sangat ‘biasa’ namun penuh makna.

“Pernikahan Katolik di stasi-stasi pedalaman di Keuskupan Ketapang ini sangat sederhana,” kata Pastor Sepo CP mengawali perbincangannya.

“Letak sederhana ya itu tadi –sesuai dengan lokasi stasi yang jauh masuk ke pedalaman hutan di hulu sungai—yakni no ribet, biaya minim, namun nilai sakramentalnya tetap sama,” terang Pastor Sepo CP yang pada Hari Raya Natal 2016 lalu menikahkan calon pasutri katolik di Stasi Sekukun –jauh sekali dari ‘pusat kota’ Sandai.

Stasi Sekukun ada di jalur Sungai Bihak di bagian hulu.

Moda transportasi sampan bermotor yang biasa disebut ‘speed’ melayani rute pusat kota Sandai menuju stasi-stasi terluar Paroki St. Gabriel Sandai seperti Riam Dadap dan Sekukun di kawasan hulu Sungai Bihak. Aliran sungai menuju kawasan hulu ini  penuh dengan tantangan berupa riam-riam bebatuan di tengah aliran sungai. (Mathias Hariyadi)

Baca juga:

Bersama Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi, Sesawi.Net pernah sampai tiba di Stasi Riam Dadap. Dari ‘pusat kota’ Sandai, Stasi Riam Dadap bisa dicapai dengan dua moda transportasi: jalur sungai menyusuri aliran Sungai Bihak dan jalur darat melalui ‘jalan perusahaan’. Inilah jalur darat yang merupakan sisa peninggalan perusahaan-perusahaan kayu pemegang HPH ketika harus mengangkut log kayu dari pedalaman menuju pusat ‘kota’.

Jangan tanya kondisi jalannya. Lewat jalur darat, komentarnya hanya satu: penuh perjuangan karena berdebu bila kemarau dan sangat licin penuh kobangan lumpur bila hujan. Lewat jalur air aliran Sungai Bihak, ekstra waspada adalah aturan nomor satu karena di sini banyak riam-riam bebatuan yang ‘bertebaran’ di aliran sungai. Salah alur saat mengemudikan sampan motor aias speed, maka nyawa taruhannya. Belum lagi, kalau penumpang harus rela turun dari sampan, berjalan kaki sebentar karena sampan harus ‘menerjang’ arus deras dengan beban seminim mungkin agar mengurangi risiko terbalik.

Pastor Sepo CP bersama OMK yang kadang ikut menyertai perjalanan pastor ke pedalaman untuk ‘uji nyali’ sekaligus pengalaman personal mengikuti pastor turne masuk hutan dan kawasan hulu sungai.  Tampak dalam foto pemandangan riam berupa bebatuan cadas di tengah aliran air Sungai Bihak. (Ist)

Dari ‘pusat kota’ di Sandai, Stasi Riam Dadap ditempuh dengan sampan motor kurang lebih dua jam perjananan menyusuri Sungai Bihak. Nah, Stasi Sekukun berada lebih jauh lagi dibanding Stasi Riam Dadap dan Stasi Aur Gading. “Jadi, sampan motor harus melaju ke bagian hulu Sungai Bihak dengan kondisi tantangan alam yang luar biasa: riam-riam bebatuan cadas di aliran sungai,” terang Pastor Sepo CP.

Baca juga: 

Dari Stasi Sekukun itu, Keuskupan Ketapang dalam hal ini Paroki St. Gabriel Sandai masih memiliki wilayah reksa pastoral yang lebih ‘pelosok’ lagi. “Di bagian hulu sana masih ada tiga stasi lagi hingga akhirnya jalur sungai itu ‘habis’,” tandas Pastor Sepo.

Jalan darat yang biasa disebut ‘jalan perusahaan’ ini penuh kobangan lumpur dan sangat licin di kala musim hujan dan penuh debu di kala kemarau. (Topan Putra Tan)

Melayani reksa pastoral dengan penerimaan sakramen di stasi-stasi pedalaman tersebut tentu tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu, mengingat transportasi ke wilayah pedalaman ini sangat tergantung dengan  kondisi alam dan cuaca. Karena itu, memberi layanan Sakramen Pernikahan Katolik di saat Natal pun –hal yang sangat jarang terjadi di paroki-paroki di Jawa—menjadi hal sangat biasa di stasi-stasi terluar di paroki-paroki di Keuskupan Ketapang.

Yang pasti, kata Pastor Sepo CP, menikahkan pasutri katolik di pedalaman rumusnya ada tiga: no ribet, sederhana, dan nilai sakramentalnya sama dengan misa pernikahan megah mewah yang biasa terjadi di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here