Pilihan

0
91 views
Ilustrasi: Menolak. (Ist)

Renungan Harian
Minggu, 22 Agustus 2021
Hari Minggu Biasa XXI

Bacaan I: Yos. 24: 1-2a. 15-17. 18b
Bacaan II: Ef. 5: 21-32
Injil: Yoh. 6: 60-69

“ROMO, saya ini berdosa besar. Meski saya sudah berulang kali mengaku dosa, rasanya dosa ini tidak akan pernah hilang dari saya.

Saya sudah siap untuk menerima hukuman karena memang saya berdosa besar.

Romo, saya pernah mengingkari iman saya, bahkan saya menolak Tuhan. Meskipun ada unsur paksaan, tetapi pada saat itu saya sadar saya telah mengingkari iman saya dan menolak Tuhan.
 
Romo, pada waktu itu, saya mengikuti suatu aliran agama tertentu.

Awalnya, saya diajak teman saya untuk ikut aliran agama yang sungguh-sungguh menyenangkan. Cara beribadatnya boleh sesuai dengan selera saya tidak ada aturan-aturan yang membuat seseorang menjadi berdosa.

Intinya, aliran keagamaan ini adalah aliran yang menyenangkan. Pada saat saya mengikut aliran itu, saya merasakan bahwa aliran ini membuat diri saya bergembira.

Saya menikmati ikut aliran ini. Saya bukan saja menemukan kegembiraan, tetapi juga mendapatkan bantuan secara ekonomi, saat saya mengalami kesulitan.
 
Dalam perjalanan waktu, ternyata ada saatnya bahwa saya diminta untuk mengingkari iman saya, menolak Tuhan bahkan menghina Tuhan.

Pada awalnya karena kegembiraan yang saya rasakan, maka pengingkaran iman, penolakan Tuhan, dan menghina Tuhan tidak menjadi masalah bagi saya.

Namun, lama kelamaan, dalam diri saya seperti ada yang menggoncang-goncang mempertanyakan perbuatan saya.

Pada saat saya sendiri, hati saya sesak seperti tertekan dengan gugatan mengapa saya menolak Tuhan dan menghina Tuhan.

Awalnya saya bisa menepis pertanyaan-pertanyaan yang menggugat itu, tetapi lama kelamaan semakin kuat dan saya tidak bisa lagi menepisnya.

Dalam goncangan itu akhirnya saya menemukan jawaban bahwa saya memilih Tuhan, saya siap menanggung risiko apa pun.
 
Romo, agar saya aman, artinya keselamatan hidup saya tidak terancam, maka saya pindah ke kota lain di luar pulau.

Saya datang kepada imam dan mendapatkan Sakramen Rekonsiliasi. Meski begitu, rasa berdosa ini selalu ada.

Tetapi sebagaimana saya sampaikan di depan Romo, saya tidak takut dengan rasa berdosa ini, karena memang saya berdosa berat.

Satu hal, saya amat bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, berani untuk memilih Tuhan,” seorang bapak menceritakan perjalanan imannya.
 
Setiap hari, setiap saat, kita semua selalu dihadapkan pada pilihan untuk memilih Tuhan atau menolak Tuhan.

Dan dalam banyak pengalaman, memilih Tuhan sering kali tidak menyenangkan dan terasa berat dalam menjalaninya.

Sebagaimana pengalaman para rasul sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes, mereka dihadapkan pada pilihan, setia pada Tuhan atau meninggalkan Tuhan.

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku selalu setia untuk memilih Tuhan?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here