Pita

0
85 views
Ilustrasi: Ibu adalah pahlawan (Romo Antonius Suhud SX)

DUA puluh lima ribu rupiah. Hanya itu. Dan empat ribu dari jumlah itu terdiri dari uang receh bernilai lima ratus, dua ratus. Itu semua adalah isi celengan Pita yang selama ini didapatnya dengan cara mendesak orang-orang sekampungnya untuk menjualkan pisang, sayur, cabai, dan hasil ladang lainnya kepada Pita.

Perempuan itu tak segan-segan mendesak para petani di kampungnya agar sudi kiranya menjual barang dagangannya kepada Pita.

Dari situlah, Pita mengambil sedikit keuntungan.

Beginilah cara kerja pedagang eceran. Proses tawar-menawar itu tidak jarang membuatnya malu, hingga pipinya memerah, sebagaimana semua orang pasti merasakan hal yang sama jika mereka ada di posisinya.

Bahkan Pita rela mengambil pucuk sayur jipang ke hutan sehingga keuntungan yang diterima jauh lebih besar.

Beberapa kali sudah Pita mempermalukan diri sendiri. Dua puluh lima ribu rupiah. Lebih sial lagi, uang sekolah Jaka sudah menunggak selama tiga bulan.

Bahkan sang malaikat pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib. Perempuan bernama Pita sangat di kagumi oleh orang-orang sekampungnya.

“Apakah kamu tidak sekolah nak?,” begitu kata Pita kepada Jaka, anaknya yang kedua dari tiga bersaudara.

“Tidak bu, Jaka tidak mau sekolah lagi karena uang sekolah Jaka tidak Ibu bayar selama tiga bulan.”

Pita mengusap dadanya yang sesak. Menyembunyikan kesedihan pada Jaka dan mencoba membujuk Jaka untuk pergi sekolah.

Demi meyakinkan anaknya, ia mengatakan, “Jaka… Ibu pasti akan membayar uang sekolahmu Nak.  Yakinlah…, minggu ini Ibu akan membayarnya.”

“Tidak… Itu pasti tidak benar.”

“Ibu mau ambil uang dari mana?”

“Pokoknya Jaka tidak mau sekolah lagi,” tegas Jaka kepada Ibunya dari dalam selimut. Lantaran kejengkelan Jaka kepada ibunya, Jaka hanya memperdengarkan suaranya tanpa melihat wajah ibunya.

“Nak…kamu harus rajin sekolah supaya jadi anak yang dewasa dan bijak. Kamu adalah anak laki-laki ibu satu-satunya… Jadi, kamu harus jadi anak yang pintar agar mampu mengubah nasib kita,” bujuk sang ibu pada Jaka.

Jaka pun mengindahkan perkataan ibu. Maka dijawabnya, “Ya” dengan acuh tak acuh dan melemparkan selimutnya. Jaka bergegas mandi dan menyiapkan dirinya ke sekolah yang berjarak dua kilo meter dari rumahnya. Cukup jauh.

Namun Jaka biasa jalan kaki pergi dan pulang sekolah.

Adalah hari Jumat, tepatnya pukul 15.00 WIB, Jaka pulang dari sekolah. Seperti biasanya, Jaka langsung melihat tulisan di kertas yang ditinggalkan ibunya. “Jaka… Ibu di Sintang.”

Pastinya Jaka sudah tau maksud dari tulisan itu, yakni ibu sedang mengambil sayur di hutan yang bernama Sintang. Perlu diketahui bahwa ada beberapa jenis sayur yang tumbuh di hutan itu seperti pakis, pucuk jipang dan masih banyak lagi.

Sayur yang tumbuh di hutan itu tentu tidak ada pemilik yang jelas. Itulah sebabnya, meskipun Sintang jauh dan jalan yang curam nan seram, Pita selalu mengincar tempat ini, karena dia bisa mengambil sayur dengan cuma-cuma dan menjualnya ke pasar.

Biasanya Jaka selalu rajin membantu ibunya untuk membawa pulang sayur mayur itu.

Kala itu, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Nyaris Jaka bingung. Bagaimana ibuku sekarang? Antara bingung dan sedih. Perasaan yang bercampur aduk dalam hati Jaka.

“Seperti apa dia sekarang?,” tanyanya lanjut dalam hatinya.

Jaka menatap sang langit. Teringat dengan kata-kata ibu padanya. “Saat kita mengharapkan sesuatu, bicaralah pada alam. Maka, alam akan membantu kita untuk menggapainya”.

Sontak wajah ibu terlintas di wajahnya. “Hujan….berhentilah, kasihan buku sendirian  basah-basah di hutan,” pinta Jaka yang masih berumur 14 tahun itu.

Dan sang hujan pun menaruh belas kasihan pada Jaka, perlahan-lahan hujan mereda. Jaka dengan senang hati berlari menghampiri ibunya. Tiba ditempat yang dituju. Jaka berteriak memanggil ibunya.

“Ibu….Ibu… Ibu di mana?”.

“Ibuuu…uuu…..”

“Ibu di mana ….a …..a…a?,” panggil Jaka dengan volume suara meninggi namun tak ada balasan dari Pita, ibu Jaka.

Hati Jaka mulai gundah, sedih dan takut. Pikiran kalut hampir menguasainya. Jangan-jangan Ibu…oh tidak. Tidak mungkin.

Jaka berdialog sendirian dalam hatinya”. “Ibu… jangan tinggalkan Jaka, ibu,” tangis Jaka d itengah hutan.

Jaka berjalan terus menyusuri lorong-lorong kecil. Tiba-tiba dia terkejut, melihat ibunya yang sudah rebah dibawah pohon. Jaka menyangka ibunya telah tiada. Jaka menangis. Namun, ibunya tiba-tiba bangkit dan melihat Jaka.

“Ibu kenapa ibu,” tanya Jaka.

“Ibu istirahat nak. Hujan begitu lebat sehingga bu tidak mampu mengambil sayur lebih banyak. Ibu istirahat saja”.

“Baik bu, kita berangkat untuk pulang karena hari semakin gelap.”

“Baiklah Jaka, kita kembali pulang nak.”

Sudah sepuluh tahun, Pita menjalani hidup seperti ini. Kondisi ekonomi keluarga Pita memang cukup memprihatinkan. Pita memperjuangkan ketiga anaknya dengan pekerjaan sebagai pedagang eceran.

Sedangkan suami Pita tak pernah peduli akan kebutuhan istri dan anak-anaknya. Panda, suaminya bekerja sebagai petani. Namun, tak pernah memberikan sepeser pun uang untuk kebutuhan keluarganya.

Dan bahkan, Panda sering meminta uang kepada Pita istrinya untuk membeli rokok dan modal berjudi.

Pita adalah perempuan yang tabah dan sabar. Pita tak pernah memancing pertengkaran dengan suaminya. Dari pada ribut, Pita memberi saja uang untuk suaminya.

Lima ribu per hari. Itulah jumlah uang yang diberikan Pita kepada suaminya. Pita bahkan mengajarkan kepada ketiga anaknya, Lira, Jaka dan Putri supaya tetap menghormati ayah mereka dan jangan meniru sikap ayahnya.

Dan sepertinya seluruh semesta menaruh perhatian pada Pita. Ia tak pernah tergoda untuk menceritakan sikap suaminya kepada tetangga dan orang-orang yang ia jumpai.

Yang ada dalam niatnya adalah memelihara keluarga yang rukun dan damai. Dan memperjuangkan masa depan ketiga anaknya.

Ada kebiasaan Pita untuk menemani anak-anaknya belajar malam. Putri yang masih duduk di kelas dua SD suka membaca kuat-kuat. Suatu malam, Putri membaca buku bahasa Indonesia.

Sambil mengeja, ia kemudian membaca keseluruhan huruf-huruf itu. Jaka yang mendengarkan secara seksama mulai menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam, “Hmmm. Tidak seperti itu cara membaca yang baik, Dik”.

“Mengejanya dalam hati, terus waktu membaca semua kata-kata baru kedengaran suaranya sehingga orang pikir Putri udah pintar baca tanpa mengeja.”.

“Nggak…kata Bu Guru Nina nggak gitu kok,” balas Putri kritis mempertahankan pendapatnya.

Pita hanya menggeleng-gelengkan kepala, bahagia saat menyaksikan tingkah anaknya. Seperti rapat dewan rakyat yang ingin menyampaikan ide dan harapannya.

“Lira,” katanya, lirih dan hangat. “Kamu adalah anak ibu yang paling besar. Kelak kamu yang harus menjadi panutan untuk kedua adikmu. Saat ayah dan ibumu telah tiada, kamulah yang harus menjadi orangtua bagi mereka. Dan Jaka akan menjadi bapak kalian berdua, kamu dan Putri.”

“Iya ibu,” sahut Lira tanpa banyak tanya.

Lira memeluk Ibunya erat. Dan Pita pun sebaliknya. Sepuluh tahun. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain. Aku akan mati karena usia tua, karena organ-organ tubuhku gagal berfungsi. 10 tahun bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Mungkin aku dan ayahmu telah kembali kepada Bapa.

Sementara itu, Putri dan Jaka masih asyik mengerjakan PR dari sekolah.

Jaka selalu mengajari Putri dalam mengerjakan PR nya.

 “Mana garis-garisnya? Di mana kamu menulis?,” begitu tanya Jaka kepada Putri.

“Kalau mau belajar buat tulisan sambung, Putri harus membuat garis-garisnya terlebih dahulu sehingga tulisan Putri bisa lurus dan tidak bengkok kesana-kemari,” kata Jaka.

“Iya bang, Putri memang lupa. Tadi Ibu Nina bilang gitu di sekolah, tapi Putri lupa.”

“Tu kan….abang bener,” lirih Jaka pada adiknya Putri.

Maka seperti yang dikerjakan anak-anak kecil lainnya, tulisan Putri belumlah sempurna, namun Jaka selalu bersabar mengajari adiknya.

Selesai belajar malam, mereka biasanya doa bersama sebelum tidur. Mereka membuat giliran dalam petugas membuat doa. Kebiasaan baik ini sudah diajarkan Pita, ibu mereka sejak masih kecil.

Mungkin inilah yang membuat hati Pita selalu tenteram, meskipun kondisi ekonomi keluraga mereka begitu memprihatinkan ditambah lagi dengan sikap suaminya yang tak mau bertanggungjawab itu.

Jaka yang tidur disamping Pita tiba-tiba bergumam.

“Ibu….uang sekolah Jaka, bagaimana ibu?,” pinta Jaka pada ibunya.

“Jaka malu sama teman-teman dan kepala sekolah.”

“Jaka selalu dipanggil ke kantor kepala sekolah karena uang sekolah Jaka menunggak tiga bulan”.

Kembali hati Pita kalut mendengar celotehan Jaka, anaknya.

“Iya nak, besok Ibu akan ke sekolah Jaka ya.”

“Iya Ibu, jawab Jaka.”

Pita menepati janjinya untuk bertemu dengan kepala sekolah Jaka.

Pendeknya, kepala sekolah memahami situasi keluarga Jaka. Kepala sekolah memberikan keringanan kepada Jaka yakni dengan memberikan potongan 50% dari jumlah yang sebenarnya.

Luar biasa senang hati Pita. Dan untuk pembayaran 50% lagi, Jaka dapat membayarnya dengan bekerja di kantor saya setiap pulang sekolah selama satu bulan ini, tambahnya.

Tanpa pikir panjang, Pita mengindahkan kemauan bapak kepala sekolah Jaka.

Pita kemudian menjelaskan semuanya kepada Jaka. Jaka pun mengiyakan kata ibunya. Biasa Jaka taat atas perintah orangtuanya dan tanpa banyak komentar.

Dulu Jaka hanyalah seorang anak sekolah SMP kelas dua yang terpaksa bekerja membersihkan lingkungan sekolah setiap pulang sekolah untuk meringankan uang sekolahnya.

Lihatlah Jaka yang sekarang, tak lain adalah seorang kepala sekolah SMP di tempat dia menimba ilmu. Dia begitu disegani guru-guru dan segenap warga sekolah karena wibawa dan kebaikan hatinya kepada siswa-siswi.

Jaka yang dulu mendapat bantuan dari sekolah, kini membalas semua itu dengan merangkul siswa/i yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya.

Benar kata pepatah “satu kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain”.

Dan diatas segalanya itu, Tuhanlah yang punya rencana atas hati dan diri manusia. Tuhan memilih hati anaknya sebagai tempat bertumbuh dan kembangnya kasih dan kebaikan.

Dan akupun menarik simpul dari cerita kehidupan Pita, setetes tapi bening. Kondisi finansial Pita begitu memprihatinkan dan hanya mengandalkan sayur-sayuran yang didapat dari hutan Sintang, namun kebahagiaan dan sukacita selalu memenuhi dirinya dan anak-anaknya.

Pita tidak memiliki rekening gede tetapi rezeki yang pas-pas an itu cukup membahagiakannya. Pita juga sudah mempraktekkan dalam hidupnya apa yang dikatakan oleh Sang Guru, “Berbahagialah orang yang miskin  di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.

Berkat Tuhan cukup membuat Pita untuk bahagia.

Pita yang menjalani kehidupan yang sederhana itu menghayati sikap kemiskinan hati di hadapan Allah. Kemiskinan karena tidak memiliki jaminan hidup dan sumber pertolongan kecuali Allah sendiri.

Pita yang miskin mempercayakan diri kepada Allah. Kenyataan dalam hidup ini bahwa banyak orang kaya yang tidak mampu berbahagia. 

Tapi Pita telah mengajarkan sesuatu tentang kehidupan, setetes saja asal bening.

Sematkanlah di dalam hatimu. Saat kamu berhasil melakukan satu kebaikan, maka kebaikan lain akan menyusul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here