Prodiakon Kecewa, Peraturan Batasi Masa Baktinya

0
450 views
Ilustrasi: Sedih (Ist).

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Selasa, 19 Oktober 2021.

Tema: Kesetiaan ciptaan.

  • Rm. 5: 12, 15b, 17-19, 20b-21.
  • Luk..12: 35-38.

KESETIAAN itu mengagumkan. Sikap hati sebagai ciptaan kepada Dia yang adalah setia. Ia menanamkan dan menganugerahkan rahmat dan kemampuan untuk tumbuh. Bersama dengan kesadaran, manusia meniti hidup dalam kebenaran-Nya.

Kendati kadang keliru, Ia tetap menumbuhkan harapan dan kekuatan baru untuk bangkit dan meneruskan perjalanan hidup. Ia pun menyadarkan manusia sebagai ciptaan yang dicinta. Dalam cinta-Nya, kita berziarah dan berzirahkan iman.

Seorang asisten imam yang sudah berumur berkeluh kesah dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ada apa ya om?” tanyaku.

“Saya bahagia, bangga. Tapi juga sedih,” jawabnya singkat.

“Lha kenapa?”

“Saya merasa hidup saya tidak jauh dari Tuhan. Sejak muda saya aktif di Gereja. Keluarga kami bersyukur dipercaya dalam pelayanan. Itulah balasan kami, karena kami mengalami kebaikan Tuhan yang tak terkira.

Saya pun bangga dapat melayani umat membagi komuni kepada yang sakit dan juga pada hari minggu bersama imam membagikan Tubuh Kristus. Saya percaya, menghayati dan mengamini. Itulah pengutusan Tuhan bagi saya, Mo,” tegasnya.

“Memang pada awalnya, 35 tahun yang lalu, saya dekat dan sering membantu romo dalam hal apa pun. Kedekatan saya dengan Gereja, pelayanan yang disuruh romo membuat saya teguh; melayani itu indah di mata Tuhan.

Acap kali diutus membagikan komuni pada yang sakit, yang jauh. Akhirnya romo mengangkat saya menjadi pembantu rohaninya.

Saya bangga dan bahagia, panggilan hati untuk melayani di dengar Tuhan.

Saya mengalami puluhan pergantian gembala di paroki ini. Keluarga pun kenal dan dekat. Para gembala pernah kami jamu di rumah. Kami senang sekali. Bahkan ada satu kamar khusus untuk para romo yang berkenan menginap di rumah. Sekedar  beristirahat dan mengalami suasana kekeluargaan.

Tapi saya sekarang sedih. Tidak mengerti. Hanya menangis di kamar di dalam doa-doa saya,” keluhnya.

“Ada kedukaan tah?” segera tanyaku.

“Tidak ada kedukaan fisik atau materi. Saya sedih, karena saya tidak boleh lagi melayani membagi komuni. Padahal saya masih sehat; tangan pun belum bergetar. Tetapi memang jalan lebih pelan. Saya tidak bisa lagi mengantar Tubuh Kristus kepada yang sakit; juga pada Ekaristi minggu. Itu penderitaan batin bagi saya,” sedihnya terkatakan.

Katanya, ada peraturan baru. Ada periodesasi dan batasan umur. Saya meyakini pelayanan itu seumur hidup, bagian hakiki ungkapan iman,” ungkapnya gundah.

“Gitu ya om. Harapannya gimana?”

“Saya masih ingin melayani sampai mati. Itu janji iman saya. Saya ingin setia melayani Gereja; selalu dekat dengan Tuhan

Saya ingin membawa orang lain dekat dengan Tuhan. Saya percaya, dengan melayani, Tuhan yang penuh kasih setia membimbing umat-Nya pada kekudusan.

“Apakah Om masih mau melayani Gereja sesuai dengan rahmat yang Tuhan berikan?”

“Sangat romo,” jawabannya super tegas.

“Om, pelayanan dan pengutusan itu bisa melalui aneka bentuk dan cara.

Kadang kita harus rela dan berbesar hati untuk melayani Tuhan dan dekat dengan Gereja dengan pelayanan dan pengutusan yang lain.

Saya mendengar dan percaya, Om itu multi talenta, serba sedia. Om selalu siap mengabdi Gereja dan bersedia diutus ke mana dan apa pun. Saya mendapatkan catatan baik dari para pendahulu tentang om,” caraku menghiburnya.

Seperti ranting yang hidup dari pokok pohon demikian pun kita melekatkan hidup pada Tuhan dengan doa. Doa mendekatkan dan memurnikan hati. Doa merupakan pelayanan dasar. Dasar segala yang lain.

“Om, saya punya daftar nama dan keluarga yang harus didoakan setiap hari.

Om doakanlah bersama Gereja ya. Doa yang tulus adalah kekudusan. Doa juga merupakan cara Tuhan melukis hidup kita semakin indah di tangan-Nya. Tertera di hati-Nya.

Doa dapat menjadi sarana ampuh memurnikan diri dihadapan-Nya. Doa adalah bensin Roh dalam perjalanan menuju pada-Nya,” kataku menjelaskan jenis pengutusan lain.

“Ya, Romo. Lega masih boleh melayani dan diutus,” jawabnya ringkas tapi suka.

Saya kagum dan memuji kerendahatinya.

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Berbagilah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika Ia datang.” ay 35, 37a.

Tuhan, akulah pengutusan. Nyalakanlah selalu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here