Proses Pengutusan

0
340 views
Ilustrasi - Tenggelam saat berenang. (Ist)

Minggu, 3 Juli 2022

HARI MINGGU BIASA XIV

  • Yes. 66:10-14c;
  • Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20;
  • Gal. 6:14-18;
  • Luk. 10:1-12,17-20

KESETIAAN pada proses yang benar menjadi hal langka. Bahkan kerap dianggap aneh oleh orang lain pada zaman ini.

Segala yang nyata, cepat, dan instan disukai. Hingga lama-kelamaan, orang lupa akan proses. Segala yang diinginkan tinggal pesan dan sudah diantar ke depan pintu rumah.

Kebiasaan mendapatkan segalanya dengan mudah membuat orang jadi menolak atau menghindar jika harus berhadapan dengan tahapan hidup. Yang kadang rumit dan perlu kesabaran serta ketekunan.

Namun dalam hati, kita menjetujui bahwa hanya melalui proses yang benar kita akan bisa membangun sesuatu yang kokoh dan benar.

Kita sadari pula bahwa banyak hal dalam hidup ini harus dicapai dengan mengikuti proses bahkan harus melalui banyak kesulitan dan penderitaan.

Seorang bapak mensyeringkan awal dia bisa berenang dan menyukai olahraga renang.

Waktu itu dia merakan sakit punggung yang sangat keras. Bahkan ia sempat berobat sampai ke luar negeri. Di rumah sakit itulah dokter menyarankan dia untuk untuk berenang sebagai salah satu terapinya.

Namun sayang, ia tidak bisa berenang. Hingga satu-satunya jalan adalah mencari pelatih renang untuk mengajarinya.

Pada awalnya, ia merasa malu harus belajar renang dengan anak-anak kecil. Namun ia merasa lebih baik belajar renang daripada menanggung sakit pinggang yang sangat menganggunya.

Awalnya, ia disuruh jalan ke tempat yang dalam. Dan pelatih renangnya jalan di pinggir kolam.

Ketika sudah sampai di tempat yang dalam, ia diminta menggerakkan tangan dan berusaha supaya tidak tenggelam.

Ketika ia kalut dan gelagapan, pelatih itu meloncat dan menolongnya. Namun kemudian, ia disuruh lagi masuk ke kolam yang cukup dalam.

Tidak sedikit air kolam yang terminum olehnya; bahkan sampai batuk-batuk.

Setelah dua tiga kali melakukan itu, ia mulai tahu gunanya menggerakkan tangan dan kaki dan da tidak merasa panik lagi. Kemudian dia merasakan sensasi yang luar biasa, tubuhnya mengambang dan tidak tenggelam.

Setelah tiga hari melakukan latihan seperti itu, pertemuan selanjutnya dia mulai diajari gaya berenang dan cara mengatur napas.

Selanjutnya bapak itu, berlatih terus hingga bisa berenang namun bahkan kemudian ia menyukai dan menikmatinya.

Proses latihan renang dijalani tahap demi tahap, hingga kemudian dia bisa punya keterampilan bahkan kemudian sakit di punggungnya sembuh dan tidak terasa lagi.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian

“Tuhan menunjuk tujuh puluh murid. Ia lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.

Kata-Nya kepada mereka,

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Sebab itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu.”

Hari ini, kita melihat proses pematangan para murid supaya siap menjalankan tugas pengutusan.

Yesus menunjuk dan mengutus para murid-Nya untuk pergi mendahului Dia mewartakan datangnya Kerajaan Allah.

Ini tugas yang tidak mudah. Bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia mengutus mereka seperti domba ke tengah serigala.

Yesus mengutus mereka bukan karena mereka hebat namun mereka dipandang mau bekerja dan mau dibimbing oleh Tuhan.

Para murid Yesus harus berani belajar menghadapi hal-hal berat dalam perjalanan mereka menjadi utusan Yesus.

Kesulitan itu tidak bisa dihadapi lagi dengan kekuatan sendiri.

Mereka hanya bisa mengandalkan nama Yesus dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Dan hasilnya, luar biasa.

Saat mereka setia dengan apa yang Yesus katakan, mereka melihat hasilnya.

Kecemasan dan ketakutan mereka berubah menjadi sukacita luar biasa. Mereka berangkat dengan ketakutan, pulang dengan sukacita.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku setia dengan proses kemuridan hingga siap menjalankan pengutusan Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here