Puasa Supaya Semakin Dekat Tuhan

0
447 views
Ilustrasi: Berdoa dan berpuasa by Philippine Catholic Mission

Jumat, 3 September 2021

  • Kol.1: 15-20.
  • Mzm.100:2-5.
  • Luk.5:33-39

PUASA bukan sekedar tidak makan dan tidak minum.

Puasa bagi kita adalah suatu tanda pertobatan, dan penyangkalan diri, serta usaha untuk mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Tujuan puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari refleksi, serta pembatinan pengalaman hidup dalam doa.

“Saya pernah dinasehati supaya puasa setiap senin dan kamis karena katanya rumah kami banyak penunggunya,” kata seorang bapak

“Memang saya juga merasakan bahwa segala usaha dan pekerjaan kami sekeluarga banyak gagalnya sejak tinggal di rumah ini. Kami juga sering ribut dan berselisih paham selama di rumah ini,”ujarnya lagi.

“Maka ketika ada teman menasehati untuk puasa, supaya roh jahat atau penunggu yang ada di rumahku menyingkir kami lalu ikuti,” sambungnya.

“Namun, setelah 40 hari kami puasa setiap Senin Kamis, kondisi tidak berubah, malah isteriku kena PHK,” ujarnya.

“Waktu pertemuan lingkungan saya bertemu romo, dan saya cerita padanya tentang kondisi rumah kami dan soal puasa senin yang kami jalani,” katanya.

“Bapak perlu memahami bahwa puasa bagi kita merupakan latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama. Bukan untuk hal lain,” kata romo pada waktu itu.

“Jika kita dekat dengan Tuhan, maka roh jahat dan kuasa kegelapan akan menjauh dari kita. Jadi pertama-tama puasa bukan untuk mengusir roh jahat tetapi kerinduan kita untuk dekat dengan Tuhan,” ujar romo kepada kami.

“Kalau kita berpuasa, tapi hati kita masih dipenuhi ambisi, amarah dengan sesama, bahkan melupakan amal bakti kepada Tuhan dan sesama, maka puasa kita hanya soal menahan lapar dan haus semata,” kata romo.

“Sejak saat itu, kami sekeluarga berusaha membina kerukunan, dan lebih memperhatikan satu sama lain,” kata bapak itu.

“Puasa tidak makan dan tidak minum kami ganti dengan puasa tidak marah, tidak egois, serta mau ambil bagian dalam kesibukan satu sama lain,” sambungnya.

“Dengan puasa seperti itu, suasana keluarga lebih baik, sehat dan ceria. Situasi yang dulu pernah kami rasakan waktu tinggal di rumah lama, kini kami rasakan kembali,” ujarnya.

“Suasana rumah lebih nyaman dan aman, kami tidak lagi berpikir soal setan dan penunggu yang ada di rumah kami, karena kami telah mengalami kedamaian,” katanya.

Puasa dan pantang yang kita lakukan hendaknya memampukan kita untuk hidup baru.

Hidup damai sebagai hasil dari pertobatan dan doa yang tulus.

Puasa yang benar itu akan tampak hasilnya dalam tindakan nyata untuk berbagi harapan, dan kasih dengan sesama. 

Bagaimana dengan diriku?

Apa yang mendorong saya untuk berpuasa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here