Pulang

0
270 views
Ilustrasi - Mudik

Sabtu, 11 03 2023

  • Mi. 7:14-15,18-20.
  • Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12.
  • Luk. 15:1-3.11-32.

PULANG selalu mempunyai pengertian yang baik, yang juga dirindukan untuk menemukan situasi yang nyaman penuh kenangan.

Hanya ketika kita pulang dan tinggal di rumahlah kita mengalami damai.

Sebagai perantauan, tidak bisa dipingkiri ada rasa rindu pada kampung halaman, pada keluarga dan sahabat.

Terkadang, rasa rindu kepada keluarga bisa sedikit terobati dengan menelepon atau melakukan panggilan video untuk sekedar menanyakan kabar.

Namun kondusi bisa jauh berbeda ketika kita terpaksa menjadi perantau karena suatu sebab yang membawa duka dan luka.

Seakan ada benteng yang tertutup dan sulit ditembus hingga kerinduan untuk pulang dikubur dalam-dalam.

Kondisi ini jauh berbeda dengan anak bungsu dalam perikope tentang anak yang hilang.

Meski dia telah melukai hati bapanya ketika dia ada dalam situasi sulit dan berat dia ingat kebaikan bapa dan memutuskan untuk pulang.

Padahal sebagian orang justru saat menghadapi persoalan, pergumulan justru menjauh dari Tuhan, meninggalkan rumah hatinya, bahkan jatuh dalam dosa.

Kebanyakan orang saat menghadapi persoalan, lebih memilih sikap menyerah, mengasihani diri bahkan menjadi terpuruk.

Sebagian orang saat diperhadapkan dengan persoalan dan pergumulan, mereka akan menyalahkan orang, menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri bahkan menyalahkan Tuhan.

Si bungsu dia menyesal dan menempatkan diri sebagai orang yang salah dan siap mengakui kesalahannya.

Setelah menyadari akan keadaannya, ia pun Bangkit dan mengaku dosa. Kita dapat belajar dari cerita si Bungsu ini.

Tidak cukup hanya sadar akan dosa dan keadaan kita, tapi kita perlu bangkit dan datang kepadaNya mengaku dosa.

Bukan dengan sikap yang sebaliknya, yaitu meninggalkan persekutuan, tidak berdoa lagi, tidak gereja lagi bahkan anti Tuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Sikap si bungsu yang mau bertanggung jawab atas kesealahannya itu, membuat bapanya bersyukur.

Seperti orang yang mati hidup kembali, itulah perasaan hati bapa menerima anaknya yang telah jatuh dalam kesalahan mau mengakui dan kembali padanya.

Bapa itu gembira dan bahagia menemukan anaknya yang hilang dan di dapat kembali.

Pertobatan itu ibarat pulang ke rumah, selalu ada pintu yang siap dibukakan karena di rumah tinggal orang-orang yang merindukan dan mencintai kita.

Bapa itu merentangkan tangan dan menyambut anaknya yang telah “pergi jauh” dan hidup dalam luka dan kecewa, keputusannya untuk pulang apa pun alasannya adalah sebuah pilihan untuk menemukan hidup baru dalam delapan bapanya.

Bagaimana dengan diriku?

Apa yang membuatku tidak bergegas pulang ke rumah, bertobat dan menerima kerahiman Allah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here