Puncta 07.06.20: Curiga Manjing Warangka

0
192 views
Ilustrasi: Tri Tunggal. Mathias Hariyadi

HR Tritunggal Mahakudus
Yohanes 3:16-19

SEORANG empu adalah orang yang ahli membuat keris (curiga). Keris tidak bisa dilepaskan dari warangka-nya (wadah). Curiga dan warangka itu tak bisa dipisahkan.

Keris tidak bisa terpisah dari warangka. Demikian juga warangka tidak berguna kalau tidak ada kerisnya. Mereka menjadi satu kesatuan.

“Curiga manjing warangka”, keris yang masuk di dalam wadahnya itulah sempurnanya. Keris yang tidak disimpan dalam warangkanya sangat membahayakan.

Kita ingat kisah keris Empu Gandring di Singasari sekitar abad ke-11. Keris yang belum dibuatkan warangka-nya karena belum selesai proses pembuatannya, keburu direbut oleh Ken Arok dan dipakai membunuh Empu Gandring.

Keris Empu Gandring menjadi keris yang dikutuk akan membunuh tujuh keturunan keluarga Ken Arok.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Allah yang esa berpribadi tiga. Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Inilah misteri kasih yang sempurna. Tiga pribadi yang menyatu tak terpisahkan. Allah Bapa menciptakan manusia untuk selamat. Namun karena dosa, manusia jatuh dan tidak selamat.

Namun kasih Bapa tetap berlangsung. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita.

Dengan kasih yang sama, Yesus mengorbankan diri untuk keselamatan kita. Ia mati di kayu salib. Ia mengutus Roh Kudus untuk membimbing kita menuju keselamatan kekal.

Allah yang satu itu mewahyukan diri dalam pribadi Bapa yang mencipta, Putera yang menyelamatkan dan Roh Kudus yang menuntun dan membimbing kita menuju keselamatan.

Ketiganya mewujud dalam relasi kasih yang sempurna dan tak terpisahkan.

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup kekal.”

Persatuan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus itu adalah persatuan kasih yang sempurna. Hanya karena kasih kita bisa memahami dan percaya akan karya Allah untuk menyelamatkan kita.

Kasih yang harmonis dan mesra seperti Allah Tritunggal itulah yang memungkinkan kita masuk dalam misteri relasi suci ini. Tanpa mengalami kasih Allah kita tak mampu menjangkau misteri Allah Tritunggal.

Pengalaman dikasihi dan mengasihi, seperti sepasang suami istri yang total memungkinkan kita memahami relasi kasih Allah.

Jika kita punya pengalaman kasih, kita bisa sedikit menguak relasi kasih Tritunggal Mahakudus ini. Yang penting bukan kita mengetahui tetapi bisa mengalami kasih-Nya.

Langit biru terlihat bersih.
Terpesona oleh indahnya senja.
Sungguh indah pengalaman kasih.
Allah menyatu dalam diri kita.

Cawas, bulan purnama…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here