Puncta 07.07.20: Tuaian dan Pekerja

0
275 views
Ilustrasi: Anak-anak Kelas Komuni Pertama berpakaian layaknya imam, suster, dan bruder dalam ranga merayakan Hari Minggu Panggilan di Gereja Sr. Maria de Fatima Paroki Toasebio, Jakarta Barat. (Komsos Paroki)

Matius 9:32-39

PADA masa penerimaan siswa baru, banyak guru swasta bercerita betapa sulitnya mencari murid-murid baru.

Di desa saya, ada Sekolah Dasar Negeri yang juga kesulitan mendapat murid baru. Tahun ini hanya mendapatkan kurang dari sepuluh anak. Itu pun guru-guru sudah door to door mendatangi para orangtua.

Program Keluarga Berencana (KB) sudah berhasil. Apalagi sekarang ada kebijakan zonasi di masing-masing wilayah.

Makin menyulitkan sekolah swasta mendapatkan murid. Sekolah umum saja mengalami kesulitan, apalagi seminari, sekolah khusus calon imam.

Makin hari makin sedikit orang-orang muda yang masuk ke seminari. Sementara tahbisan imam tidak bisa ditentukan jumlahnya. Tidak pernah menembus angka sepuluh orang. Akhir-akhir ini hanya tiga-empat orang saja.

Sementara itu jumlah paroki terus bertambah. Jika satu paroki berkisar antara dua-empat ribu umat, maka jumlah imam tidak sebanding dengan jumlah umat yang terus bertambah.

Hari ini Yesus menghadapi umat banyak. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Ia berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Saya pernah membantu pelayanan di Ketapang. Di sana umat sangat membutuhkan kehadiran imam. Karena jarak yang jauh dan jumlah stasi yang banyak, umat kadang hanya bisa merayakan ekaristi dua bulan sekali.

Tidak setiap minggu bisa bertemu dengan pastor. Sangat dibutuhkan pekerja-pekerja yang memelihara jiwa-jiwa. Tuaian di luar Jawa itu masih bayak sekali yang memerlukan kerelaan para pekerja.

Tuhan menyuruh kita meminta kepada tuan yang empunya tuaian. Artinya kita harus berdoa kepada Bapa supaya mengirimkan pekerja-pekerja. Namun Tuhan memanggil kita untuk mau menjadi pekerja-pekerja-Nya.

Orang-orang muda diajak rela terjun bekerja di ladang-Nya. Keluarga-keluarga juga diajak menyiapkan anak-anaknya agar mau menanggapi panggilan-Nya. Semua orang diundang terlibat bekerja di kebun anggur-Nya.

Mari kita sehati seperasaan dengan Tuhan yang berbelas-kasihan kepada orang banyak. Ladang Tuhan memanggil kita.

Naik-naik ke Banyutemumpang.
Ada gunung-gunung di atas awan.
Tuhan memanggil kita pergi ke ladang.
Menjadi pekerja menuai panenan.

Cawas, jalan Tuhan selalu ada….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here