Puncta 24.10.20: Jangan Suka Menghakimi

0
248 views
Pandawa dan Kurawa dalam Perang Bharatayuda by Ist.


Lukas 13:1-9

KURAWA itu adalah bangsa yang “adigang, adigung, adiguna.”

Mereka itu menyombongkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan dan jumlah yang besar. Mereka suka menindas rakyat, menjarah harta orang, menghina orang kecil.

Mereka berlaku sebagai orang munafik, sok kuasa dan mencari menangnya sendiri. Mereka merasa paling benar dan suka menyalahkan orang tak berdosa.

Suatu kali mereka berburu di hutan. Duryudana dan adik-adiknya, para Kurawa kehilangan jejak kijang buruan mereka. Bertemulah mereka dengan seorang brahmana yang sedang bertapa.

Duryudana dengan sombong dan “bedigasan” bertanya kepada brahmana itu, ”Hei brahmana tua bangka, apakah kamu tahu ada kijang lari ke tempat ini?”

Brahmana itu hanya duduk hening dalam tapanya. Ia diam tidak menjawab. Duryudana merasa dihina dan tersinggung, sebagai raja muda bertanya kepada seorang brahmana tidak ditanggapi.

Dia marah dan menghujamkan gada kepada brahmana itu. Seketika gugurlah orang tua itu.

Sebelum meregang nyawa, brahmana itu berkata, “Wahai Duryudana, salahku apa sampai engkau tega memukul aku dengan gadamu. Kalau kamu tidak bertobat, ketahuilah pada Perang Baratayuda nanti, kamu akan mati dengan cara yang aku alami ini.”

Nanti raja Hastina itu mati, dipukul dengan gada rujak polo milik Bima. Ia dihajar habis-habisan oleh Bima sehingga badannya tak berwujud lagi seperti manusia.

Orang-orang Yahudi yang datang melaporkan pembunuhan orang Galilea oleh Pilatus itu merasa sok suci, paling benar dan saleh.

Orang yang dibunuh seperti itu dianggap orang berdosa, najis, kotor, jahat, tidak masuk surga. Mereka menganggap diri benar dan berhak atas kunci surga yang penuh bidadari.

Yesus mengingatkan kepada mereka, “Jikalau kalian tidak bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian.”

Jangan munafik, merasa sok suci dan paling benar sendiri, seolah sudah jelas masuk surga, kemudian menyalahkan orang, mengkafir-kafirkan dan suka melaknat orang lain. Sikap sombong seperti itu justru akan menghancurkan diri sendiri.

Yesus mengajak orang untuk bertobat. Kalau tidak, hukum karma, sebab akibat akan berlaku seperti yang dialami para Kurawa itu.

Siapakah yang mengangkat kita berhak mengadili orang lain? Yang menjadi hakim sesungguhnya hanyalah Tuhan.

Siapakah kita sampai berani berkata, “kamu kafir, kamu laknat, kamu masuk neraka, kamu orang berdosa?”

Sekali lagi Yesus berkata, “Jikalau kamu sendiri tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian.”

Jangan suka mengadili orang, karena hakim yang sesungguhnya sedang memandangi kita dari tahta-Nya.

Badan penuh keringat karena yoga.
Malamnya tidur nyenyak tidak ada yang menggoda.

Kalau kita suka menghakimi sesama.
Kita akan dihakimi Tuhan yang lebih berkuasa.

Cawas, Dewi Wilutama sakti…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here