Puncta 27.10.20: Petani Itu adalah Bapakku

0
247 views
Para petani tengah panen. (Mathias Hariyadi)

Lukas 13:18-21

BAPAK saya adalah pegawai Kementerian Pertanian yang paling rendah yakni petani dusun. Tidak digaji oleh pemerintah, tapi oleh Tuhan sendiri.

Pekerjaan itu diturunkan dari kakek nenek saya. Musim-musim dulu masih teratur. Para petani tahu kapan harus mulai bercocok tanam. Ada siklus yang terus menerus dikerjakan secara rutin.

Dulu ada upacara “wiwit” untuk bersyukur atas panenan dan mulai memetik padi yang bernas untuk dijadikan bibit padi baru. Upacara wiwit itu sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak karena akan rebutan mendapat makanan yang enak.

Bibit padi yang akan dijadikan benih mesti direndam dulu selama 3-4 hari. Air rendaman itu diberi garam yang cukup sehingga bisa melihat benih yang jatuh di dasar air, benih yang melayang di tengah atau “kampul-kampul” di atas.

Yang dipilih adalah benih yang jatuh di dasar karena itulah yang paling bernas.

Sambil menunggu benih muncul akarnya, bapak menyiapkan “ler-leran” atau lahan persemaian. Dicari area yang subur, cukup pengairannya.

Tanah dibuat lembut, kerikil atau akar-akaran yang ada dibuang. Benih yang sudah direndam tadi kemudian ditaburkan di lahan tempat persemaian. Selalu dipantau agar air tersedia untuk pertumbuhan bibit.

Kira-kira 25-30 hari bibit itu sudah siap ditanam di sawah.

Ketekunan dan kesabaran itulah falsafah para petani.

Bapak selalu bilang, “bekerja dengan tekun dan berdoa dengan rajin itulah yang terus dilakukan sebagai seorang petani. Tentang hasil, kalau kita bekerja dengan baik dan tekun, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Pasti akan berlimpah.”

“Bapak ini tidak hanya menaburkan benih padi, tetapi juga benih panggilan,” katanya.

“Aku bangga dengan umat di daerah Pasang Surut Palembang, sekarang mulai memetik panenan panggilan, ada yang jadi romo, bruder atau suster,” kata bapak mengenang perjuangannya di daerah transmigrasi Pasang Surut.

Ya, buah ketekunan dan kesabaran bapak itu menghasilkan dua imam di keluarga kami.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di kebun, dan tumbuh menjadi pohon dan burung-burung bersarang di rantingnya.

Juga diumpamakan seperti ragi yang dicampur ke dalam tepung terigu dan membuat tepung itu mengembang.

Allah bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Manusia menjadi benih yang ditaburkan. Dengan kemampuan atau talenta kita masing-masing benih itu akan tumbuh berkembang menghasilkan buah.

Sebagai benih semoga kita jatuh di tempat yang subur. Kita jaga benih hidup ini dengan baik, terbebas dari kekeringan, hama dan musim yang jelek.

Tekun, sabar dan percaya kepada pemeliharaan Tuhan, itulah yang kita lakukan.

Di malam penuh bintang bertaburan.
Kita nikmati dengan penuh canda tawa.
Kasih dan kebaikan ditanam oleh Tuhan.
Kita diajak menjaga dan memeliharanya.

Cawas, tak ada yang tidak berbayar…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here