Puncta 27.11.20: Melihat Tanda-Tanda

0
260 views
Ilustrasi: Berjaga-jaga Menyambut Kedatangan-Nya (Carmelite)

Yen ing wayah bengi (Jika hari sudah malam)
pancen katon sepi (Memang terasa sepi)
angine semilir (angin bertiup sumilir)
mbeningake pikir (menjernihkan pikir)
Jare wulang kae (sesuai yang diajarkan)
sing isuk tangine (barangsiapa bangun pagi)
bening pikirane (akan jernih pikiran dan hati)
cepak rejekine (didekatkan dengan banyak rezeki)

e lha kae jagone kluruk (Itu lho jagonya sudah berkokok)
iku mau tandane wayah bangun esuk (itu adalah tanda pagi sudah tiba)

SEPENGGAL lirik lagu Waljinah itu mau mengingatkan kepada kita semua untuk peka terhadap tanda-tanda alam. Kalau ayam mulai berkokok, itu berarti pagi sudah menjelang.

Kehidupan akan segera dimulai. Orang tidak boleh bermalas-malasan. Rejeki sudah berada di depan pintu.

Dahulu ibu atau nenek akan membangunkan anak-cucunya dengan berkata, “Ayo, segera bangun, jangan kalah dengan ayam.

‘Mengko rejekimu selak dithothol pitik’ artinya kalau bermalas-malasan bangun tidur, rezekimu akan diambil oleh ayam atau orang lain. Ibu mengajarkan anak-anaknya untuk rajin bangun pagi. Suara ayam berkokok itu menjadi tanda hari sudah dimulai. Kita siap beraktivitas.

Yesus memberi perumpamaan kepada murid-murid-Nya, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kalian melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kalian tahu dengan sendirinya, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian pula, jika kalian melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”

Kepekaan untuk melihat tanda-tanda itu penting. Peristiwa-peristiwa alam, sosial kemasyarakatan itu adalah tanda-tanda. Hari-hari ini banyak binatang, misalnya kera mulai turun dari Gunung Merapi, itu adalah bahasa isyarat “Mbah Merapi” sedang punya gawe.

Masyarakat di sekitar mesti waspada untuk mengungsi.

Yesus juga berharap para murid peka melihat tanda-tanda zaman. Dengan kepekaan hati dan pikir, kita bisa mengambil keputusan yang jernih dan benar.

Dengan melihat kejadian dan peristiwa, kita bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi di kelak kemudian hari. Dengan bertindak yang benar, kita berharap akan selamat.

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku takkan berlalu.” Sabda Yesus tetap lestari menjadi pegangan hidup menghadapi segala kemungkinan. Mari kita tetap setia berpegang pada sabda-Nya. Sabda Yesus adalah sabda kehidupan kekal.

Senang-senang pulang dari Honolulu.
Ehh… dijemput KPK setiba di bandara.
Kendati bumi dan segala isinya akan berlalu.
Sabda Yesus tetap abadi sepanjang masa.

Cawas, ada tanda-tanda….

Puncta 27.11.20
Lukas 21:29-33

Melihat Tanda-Tanda.

Yen ing wayah bengi ( Jika hari sudah malam )
pancen katon sepi ( Memang terasa sepi )
angine semilir ( angin bertiup sumilir )
mbeningake pikir ( menjernihkan pikir )
Jare wulang kae ( sesuai yang diajarkan)
sing isuk tangine ( barangsiapa bangun pagi )
bening pikirane ( akan jernih pikiran dan hati )
cepak rejekine ( didekatkan dengan banyak rejeki )

e lha kae jagone kluruk ( Itu lho jagonya sudah berkokok )
iku mau tandane wayah bangun esuk ( itu adalah tanda pagi sudah tiba )

SEPENGGAL lirik lagu Waljinah itu mau mengingatkan kepada kita semua untuk peka terhadap tanda-tanda alam. Kalau ayam mulai berkokok, itu berarti pagi sudah menjelang. Kehidupan akan segera dimulai. Orang tidak boleh bermalas-malasan. Rejeki sudah berada di depan pintu.

Dahulu ibu atau nenek akan membangunkan anak-cucunya dengan berkata, “Ayo, segera bangun, jangan kalah dengan ayam. ‘Mengko rejekimu selak dithothol pitik’ artinya kalau bermalas-malasan bangun tidur, rejekimu akan diambil oleh ayam atau orang lain. Ibu mengajarkan anak-anaknya untuk rajin bangun pagi. Suara ayam berkokok itu menjadi tanda hari sudah dimulai. Kita siap beraktivitas.

Yesus memberi perumpamaan kepada murid-murid-Nya, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kalian melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kalian tahu dengan sendirinya, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian pula, jika kalian melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”

Kepekaan untuk melihat tanda-tanda itu penting. Peristiwa-peristiwa alam, sosial kemasyarakatan itu adalah tanda-tanda. Hari-hari ini banyak binatang, misalnya kera mulai turun dari Gunung Merapi, itu adalah bahasa isyarat “Mbah Merapi” sedang punya gawe. Masyarakat di sekitar mesti waspada untuk mengungsi.

Yesus juga berharap para murid peka melihat tanda-tanda zaman. Dengan kepekaan hati dan pikir, kita bisa mengambil keputusan yang jernih dan benar. Dengan melihat kejadian dan peristiwa, kita bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi di kelak kemudian hari. Dengan bertindak yang benar, kita berharap akan selamat.

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku takkan berlalu.” Sabda Yesus tetap lestari menjadi pegangan hidup menghadapi segala kemungkinan. Mari kita tetap setia berpegang pada sabda-Nya. Sabda Yesus adalah sabda kehidupan kekal.

Senang-senang pulang dari Honolulu.
Ehh… dijemput KPK setiba di bandara.
Kendati bumi dan segala isinya akan berlalu.
Sabda Yesus tetap abadi sepanjang masa.

Cawas, ada tanda-tanda….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here