Puncta 28.07.20: “Ngundhuh Wohing Pakarti”

0
311 views
Menuai hasil perbuatan.


Matius 13:36-43

PAGELARAN wayang menggambarkan pergelaran hidup manusia. Kelir atau layar adalah dunia tempat hidup manusia. Maka dijejerlah aneka wayang dengan sifat-sifatnya.

Di sebelah kanan adalah sifat baik terdiri para ksatria, brahmana, raja. Sebelah kiri adalah sifat buruk atau jahat yang diwakili para raksana-raseksi, gandarwa, buto.

Kisah pewayangan selalu menggambarkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Inti nasehatnya adalah semua yang hidup bakal “ngundhuh wohing pakarti.

Semua orang akan memetik hasil dari apa yang ditanamnya. Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang. Kejahatan akan dihukum.

Realitas kehidupan manusia juga diwarnai dua unsur yang saling berhubungan dan berlawanan. Ada siang ada malam, matahari-bulan, terang-gelap, besar-kecil, baik-buruk, benar-salah, yin-yang, positif-negatif, maskulin-feminim, berkat-kutuk, surga dan neraka.

Ada kawan ada lawan. Ada rahmat, ada dosa. Sejak manusia ada, dua unsur itu silih berganti selalu muncul.

Semua itu untuk mengingatkan manusia agar selalu berusaha mengejar hal yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Supaya hidupnya dilimpahi berkat dan dijauhkan dari segala kutuk.

Dalam Injil, Yesus menjelaskan arti perumpamaan gandum dan ilalang.

“Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur benih lalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman, dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikianlah juga pada akhir zaman.”

Manusia diberi kebebasan untuk memilih, apakah mau jadi benih gandum atau benih lalang. Apa yang dipilih akan menentukan pada akhirnya. Gandum akan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lumbung. Tetapi lalang akan diikat dan dibakar ke dalam api. Kalau memilih hidup baik berarti berkat, jika memilih yang buruk berarti menuai kutuk. Yesus mengingatkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan.”

Ini adalah warning, peringatan agar kita memilih yang benar. Kebebasan memilih diberikan kepada manusia tetapi konsekuensi atas pilihan itu juga harus ditanggungnya.

Silahkan anda bebas mau memilih yang mana; kebaikan atau kejahatan, jadi gandum atau ilalang, berkat atau kutuk.

Ke Kali Adem naik kijang roda empat.
Menikmati puncaknya gunung Merapi.
Pilihlah kebaikan maka hidupmu jadi berkat.
Jangan sampai dibuang ke dalam tanur api.

Cawas, jadwal praktikum ….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here