Puncta 28.09.20: Rivalitas

0
242 views
Ilustrasi - Persaingan dalam keluarga. (ist)


Lukas 9:46-50

KEHIDUPAN di dunia ini dipenuhi dengan persaingan. Kalau dalam dunia binatang, persaingan bertujuan untuk menguasai wilayah, kelompok dan rebutan hak keturunan.

Singa terkuat berhak memilih pasangan, menguasai kelompok dan wilayah. Begitu pun manusia, saling berebut kuasa, popularitas, sumber daya alam dan hegemoni.

Dalam dunia wayang, Pandawa dan Kurawa, walaupun mereka itu bersaudara, saling berebut kekuasaan, wilayah dan kemenangan. Karna dan Arjuna berusaha saling mengalahkan, siapa yang paling mahir dalam memanah di medan perang.

Deutschland, Deutschland über alles,
Über alles in der Welt,
Wenn es stets zu Schutz und Trutze
Brüderlich zusammenhält.

(Jerman, Jerman di atas segalanya,
segala yang ada di dunia,
Apabila tiba masanya, untuk berlindung dan bertahan,
Persaudaraan kita tegakkan bersama)

Lagu kebangsaan Jerman ini dieksploitasi oleh Nazi Hitler untuk kepentingan kekuasaanya sehingga disalahartikan Jerman ingin menguasai dunia. Jerman berada di atas segala bangsa.

Dalam komunitas kecil, para murid Yesus juga timbul persaingan. Mereka bertengkar berebut siapa yang terbesar di antara mereka.

Bahkan mereka melarang orang di luar komunitas mereka untuk mengusir setan. “Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, dan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.”

melarang mereka.

Tetapi Yesus mengajarkan yang sebaliknya, “Siapa yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”

Demikian juga berhadapan dengan kelompok lain. “Barangsiapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.”

Jangan ada rivalitas atau persaingan berebut kekuasaan dan popularitas. Semangat cintakasih dan persaudaraan di atas segalanya.

Bagi Yesus yang mengajarkan cintakasih, rivalitas bukan dipakai untuk kepentingan keselamatan pribadi, tetapi bersaing untuk mengasihi dan berbuat baik bagi sesama. Mari kita berlomba untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Beli batik kainnya halus.
Warnanya menarik juga bagus.
Kita ini homo homini salus.
Bukan homo homini lupus.

Cawas, wajah baru….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here