Puncta 29.10.20: The Burning Season, Perjuangan Tanpa Kekerasan

0
175 views
The Burning Season. (Ist)


Lukas 13:31-35

KEPALA kambing yang baru dipenggal itu tergantung di depan pintu rumah Wilson Pinheiro, pimpinan serikat pekerja di Chacoeira. Wilson dan teman-temannya menentang program pemerintah dan investor yang menebang hutan hujan Amazon, Brasil.

Kepala kambing itu adalah teror, peringatan bagi Wilson dan serikat pekerja agar menghentikan perlawanan.

Benar saja, ketika sedang mandi di biliknya yang sederhana, Wilson ditembak oleh orang tak dikenal.

Francisco Alves Mendes Filho Cena, atau yang lebih dikenal sebagai Chico Mendes di dilahirkan di Chacoeira, Brasil pada tanggal 15 Desember 1944. Dialah yang melanjutkan perjuangan Wilson dan kaum pekerja dari penindasan pejabat korup dan pengusaha tamak, Darly Alves da Silva.

Intimidasi, teror dan ancaman pembunuhan juga dialami oleh Chico Mendes tetapi dia terus berjuang tanpa kekerasan.

Chico Mendes pernah diingatkan oleh seorang wartawan, sahabatnya agar pergi meninggalkan desanya, karena anak buah Darly Alves mengincar nyawanya.

“…Hanya satu hal yang saya inginkan, kematian saya akan menghentikan impunitas terhadap para pembunuh yang dilindungi oleh polisi Acre…Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin”, katanya.

Chico Mendes hanya mengandalkan kata-kata, ide gagasan, pikiran jernih dan loby-loby sebagai senjata melawan penindasan terhadap petani karet. Ia terus berjuang di Chacoeira melawan penguasa korup dan pengusaha licik, kendati nyawa Chico Mendes menjadi taruhannya.

Pada akhirnya ia ditembak oleh preman Darly Alves. Namun perjuangannya terus menggema seantero Amerika selatan. Namanya diabadikan menjadi nama Taman Nasional Hutan Amazon di Brasil.

Yesus diperingatkan orang akan munculnya ancaman, teror dan intimidasi oleh penguasa. ”Pergilah, tinggalkan tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.”

Namun Yesus tak gentar dengan ancaman itu.

Dia menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.”

Herodes digambarkan sebagai serigala, karena binatang itu kejam, rakus dan menakutkan. Serigala membunuh mangsa tanpa ampun.

Yesus tidak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan kebaikan. Pejuang kemanusiaan memang harus menghadapi resiko kematian.

Nyawanya sendiri menjadi taruhan. Begitulah Yesus berjuang sampai mati di salib. Perjuangan-Nya menjadi inspirasi bagi Chico Mendes, Martin Luther King, Munir, Marsinah.

Makan tengkleng isinya balungan.
Yang paling enak otak isi kepala.
Mari kita berjuang tanpa kekerasan.
Itulah ajaran Yesus kepada kita.

Cawas, mau beli tabernakel…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here