Puncta 30.11.19 Pesta St. Andreas Rasul: Umat Katolik yang Transformatif

0
703 views
Ratusan Umat Katolik memenuhi Gereja St. Gemma Galgani Katedral Ketapang di hari Minggu tanggal 11 Agustus 2019. (Mathias Hariyadi)


Matius 4:18-22

BEBERAPA waktu lalu sedang diadakan TEPAS (Temu Pastoral) dari masing-masing kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Fokus yang dibahas adalah Umat Katolik yang transformatif.

Umat Katolik adalah kita semua yang sudah dibaptis dan disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus. Transformatif berarti berdaya ubah bagi diri sendiri dan sesama. Tokoh-tokoh dalam Kitab Suci yang telah mengalami transformasi adalah Wanita Samaria, Zakeus, Paulus dan para murid Yesus, seperti Petrus dan Andreas.

Hari ini, kita merayakan pesta St. Andreas, rasul. Bersama dengan Petrus saudaranya, ia mengalami transformasi. Awalnya mereka adalah penjala ikan. Ketika berjumpa dengan Yesus, mereka menjadi penjala manusia.

Mereka hanya hidup di sekitar perahu dan danau. Kini mereka hidup di dekat Yesus berkeliling kemana-mana untuk menyelamatkan manusia. Perjumpaan dengan Yesus membuat hidup mereka berubah.

Mereka tidak lagi hanya mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, tetapi mengupayakan kebahagiaan bagi sesama yakni keselamatan kekal.

Setiap orang Katolik yang dibaptis semestinya mengalami transformasi diri, pertobatan menjadi manusia baru. Baptis itu adalah kunci untuk perubahan diri.

Sebagaimana Andreas meninggalkan perahu dan pekerjaannya, lalu menjadi murid Yesus, begitulah orang katolik yang dibaptis telah berjumpa dengan Yesus. Ia meninggalkan cara hidup lama (perahu) menuju cara hidup baru (Anak Allah).

Transformasi itu adalah gerak keluar kita untuk menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Daya baptis yang kita terima mengarahkan langkah kita untuk mampu berdaya ubah bagi sesama.

Misalnya, kita bisa memberi teladan untuk disiplin, budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, tidak memakai plastik demi kelestarian lingkungan hidup.

Dalam dunia yang diracuni sikap intoleran kita kembangkan semangat kasih. Dalam dunia politik yang disusupi nafsu kuasa, kita kembangkan budaya melayani.

Kita semua dipanggil dalam kapasitas kita masing-masing untuk berdaya ubah. Marilah kita menjadi garam dan terang.

Itulah panggilan kita sebagai orang Katolik. Maka kalau menjadi Katolik berarti mau berubah dan mengubah. Siapkah anda berubah?

Jalan-jalan pakai batik bermotif
Hiasan kepala pakai kain terikat
Kalau jadi umat Katolik yang transformatif
Harus berani menggarami masyarakat

Cawas, udara tetap panas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here