Puncta 30.12.18 Lukas 2: 41-52 Pesta Keluarga Kudus Nasaret

0
755 views
Keluarga Kudus. (Ist)

SAYA diajak oleh teman SMP ikut sembahyangan seribu hari wafatnya ibu teman kami. Keluarga itu mengumpulkan seluruh anak cucu buyut untuk berdoa bersama. Mereka menanggap pementasan wayang kulit dengan lakon Pandu Swargo.

Inti cerita lakon ini adalah sebagai berikut: ke-5 anak Pandu yang disebut Pandawa datang ke Kahyangan untuk melihat nasib orangtua mereka sesudah meninggal. Mereka protes kepada pada dewa karena Pandu menderita sengsara di Kawah Candradimuka.

Para Pandawa tidak terima mengapa Pandu, Ibu mereka Kunti dan Madrim tidak diangkat ke swargaloka. Kalau orangtua mereka tidak dimuliakan di surga mereka akan ikut tinggal di Kawah Candradimuka.

Tentu saja hal ini membuat gusar para dewa. Bagaimana jadinya dunia kalau para ksatria Pandawa yang bertugas membasmi angkara murka ngambeg dan berniat tinggal di neraka demi orangtua mereka?

Begitulah akhirnya Pandu dan isterinya diangkat oleh dewa ke surga.

Anak yang baik berusaha “nyuwargake wong tuwa” membahagiakan orangtua. Surganya orangtua kalau anak-anaknya mampu “mikul dhuwur mendhem jero” (menjunjung tinggi martabat dan nama baik keluarga). Pastinya hal itu sudah ditanamkan sejak dini dari orangtua.

Menanam nilai-nilai itulah yang dibuat oleh Maria dan Yusuf. Begitupun Hana ibu dari Samuel. Samuel diserahkan kepada Imam Eli untuk mengenal Allahnya.

Yesus pun dipersembahkan di Bait Suci dan Yesus mengenal siapa BapaNya: “Aku harus berada di dalam rumah BapaKu”.

Karena penanaman nilai sejak dini, Yesus makin bertambah besar dan bertambah pula hikmatNya. Ia makin dikasihi Alkah dan manusia. Orang yang makin dekat dengan Allah, mengenal Allah, ia makin dikasihi dan mengasihi manusia.

Saya yakin nilai-nilai itu diajarkan oleh Yusuf dan Maria. Membahagiakan orangtua (nyuwargake wong tuwa) tidak harus menunggu mereka wafat. Tetapi justru ketika orangtua masih hidup kita berusaha sekuat tenaga “mikul dhuwur mendhem jero”.

Yesus menjunjung martabat keluarganya dengan hidup makin mengasihi Allah dan manusia. Kitapun juga bisa menjaga martabat keluarga dengan menghargai dan menghormati orangtua kita. Berenang di sungai melawan arus.

Menangkap ikan tinggal ekornya. Selamat Pesta Keluarga Kudus. Mari kita meneladaninya. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here