Puncta 31.10.20: Abimanyu dan Buta Cakil

0
188 views
Buta cakil by YouTube


Lukas 14:1.7-11

PEPATAH tong kosong nyaring bunyinya mau mengatakan bahwa tong yang bunyinya nyaring, keras dan lantang biasanya tidak ada isi sama sekali.

Ibarat orang yang banyak omong tetapi tidak ada isinya.

Orang menyombongkan dirinya, tetapi ternyata kosong tidak sesuai dengan kenyataannya.

Pernah melihat adegan perang kembang dalam pewayangan?

Di situ diceritakan seorang ksatria menghadapi Buta Cakil. Ksatria itu tenang, diam, tak banyak bicara, menguasai diri. Tetapi Buta Cakil itu “pethakilan” banyak tingkah, banyak bicara, menyombongkan dirinya.

Ketika perang, yang banyak tingkah, ”pethakilan” yang sombong itu dengan mudah dikalahkan oleh ketenangan ksatria.

Orang sombong, omongannya tinggi-tinggi, muluk-muluk, mengaku anak pejabat atau orang kaya, ngaku punya barang mewah, mahal bermerek, cerita sering bepergian ke luar negeri, tetapi kalau diajak iuran, keluar sepeser pun tidak.

Suka reuni ngumpulin teman-teman di rumah makan, tapi waktunya membayar di kasir, dia ngumpet ke WC alasannya sakit perut.

Kesombongan diri sebetulnya hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Terlalu banyak bicara tetapi tidak ada kenyataannya hanyalah tong kosong.

Lebih baik berbicara sesuai dengan faktanya. Itu akan membuat seseorang dipercaya. Tetapi terlalu banyak bicara yang tidak ada kenyataannya, justru tidak akan dipercaya dan orang lain tidak akan menghargainya.

Yesus membuat perumpamaan untuk orang-orang yang suka mengejar penghormatan diri. “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu.”

Orang mengira kalau berada di depan itu akan dihormati. Kalau tampil di muka dan banyak bicara itu akan dihargai.

Bukan penampilan dan banyaknya kata-kata, tetapi justru tindakan nyata tanpa banyak kata-kata itulah yang akan membuat kita dihormati.

Jadi bukan apa yang nampak – penampilan lahiriah itu sering menipu – yang menumbuhkan harga diri. Tindakan nyata itulah yang paling penting.

Yesus menasehatkan supaya kita merendahkan diri. “Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Orang yang merendahkan diri di hadapan teman-temannya justru akan disegani dan dihormati. Tetapi orang yang suka menyombongkan diri justru tidak akan dipercaya dan dijauhi.

Jalan pagi memakai topi.
Biar tidak hitam kulitnya.
Marilah kita merendahkan diri.
Supaya kita banyak temannya.

Cawas, mencari pisang segede pepaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here