Quo Vadis Pendidikan Pasca Pandemi Covid-19

1
136 views
Ilustrasi - Murid melakukan pembelajaran sekolah secara daring atau sekolah online. (Ideas next door)

PRAKTIK pembelajaran dari rumah dahulu tak pernah terbayangkan akan terjadi. Namun, kini sudah hampir setahun lebih telah dijalani oleh sekolah-sekolah di Indonesia.

Kesenjangan digital sungguh terasa pada masa pandemi.

Banyak sekolah -khususnya di luar Pulau Jawa- mengalami kendala melakukan praktik pembelajaran dari rumah. Tidak hanya jaringan internet yang jauh memadai. Justru terkadang jaringan listrik pun masih belum tersambung secara optimal.

Suka tidak suka, teknologi digital di masa pandemi ini malah semakin terasa urgensi kebutuhannya. Untuk  kegiatan pembelajaran. Sejatinya, kehadiran beragam produk teknologi mengubah lanskap kehidupan manusia..

Perkembangan teknologi dipercaya akan menciptakan pekerjaan baru yang belum ada saat ini. Penelitian Dell bersama Institute for the Future (IFTF) mengungkap temuan ini. Sebanyak 85 persen pekerjaan baru akan muncul tahun 2030 mendatang.

Penelitian tersebut mengupas fakta. Yakni, bagaimana teknologi komunikasi digital nirkabel telah secara drastis dan radikal mampu mengubah cara hidup dan kerja masyarakat. Kehadiran beragam aplikasi teknologi juga menyebabkan hilangnya sejumlah pekerjaan.

Sisi berbedanya, teknologi juga bisa melahirkan jenis pekerjaan baru.

Pendidikan dan teknologi

Juga tak terkecuali bidang pendidikan. Bidang pendidikan pun perlu beradaptasi dengan laju kecepatan teknologi. Pola pembelajaran perlu diadaptasi agar sesuai dengan beragam penemuan teknologi digital.

Di era teknologi yang semakin dapat menyerupai kecerdasan manusia, maka kemampuan pedagogi para pendidik harus terus ditingkatkan.

Reposisi peran guru

Strategi mengajar pendidik perlu berinovasi. Pendidik perlu mengondisikan peserta didik semakin terampil berpikir lebih kritis, kreatif, dan inovatif.

Ketua Divisi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Smart Learning Center, Prof. Richardus Eko Indrajit mengungkapkan berikut ini. Kemampuan para guru untuk mendidik pada era pembelajaran digital perlu disiapkan. Yakni, dengan memperkuat pengetahuan pedagogi siber (cyber pedagogy) pada guru.

Pedagogi siber mereposisi peran guru.

lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Pemanfaatan teknologi digital juga perlu dikuasai oleh guru agar mampu mendesain pembelajaran lebih dan semakin kreatif.

Quo vadis pendidikan pasca pandemi?

Pendidikan terdisrupsi oleh pandemi. Tiba-tiba semua insan pendidikan perlu mengubah diri.

Lekas cepat beradaptasi dengan metode dan aplikasi teknologi yang sesuai dengan situasi kedaruratan pandemi.

Teknologi digital mampu menjadi solusi agar pembelajaran dapat terus berlangsung.

Pedagogi siber yang bertumpu pada teknologi digital mengubah lanskap pendidikan. Guru dituntut lebih kreatif dalam mendesain pembelajaran.

Prof. Eko mengingatkan bahwa dalam semua hal, mulai dari cara mengajar, membuat soal, dan hal lainnya harus diubah menjadi lebih inovatif.

Lebih lanjut, ia juga memberi contoh. Dalam menyusun soal,  guru jangan lagi membuat soal yang mudah dicari jawabannya di internet.

Sebaliknya, guru perlu membuat soal yang dapat mengarahkan peserta didik untuk berproses.

Berproses dalam arti peserta didik memerlukan beberapa tahapan hingga akhirnya mampu menjawab suatu pertanyaan.

Proses tersebut meliputi memahami alur pertanyaan, mengumpulkan beragam data melalui membaca, menarik kesimpulan terhadap kecocokan data, dan mendengarkan pendapat orang lain.

Soal yang menuntut jawaban pada ranah C1 sudah layak tidak dibuat lagi. Sebaiknya kondisikan dan arahkan peserta didik untuk dapat lebih kritis dan mengalami proses.

Prof. Eko menegaskan, benar atau salah saat menjawab pertanyaan tidak lagi penting.

Proses penemuan jawaban terhadap soal merupakan hal penting sebab itu melatih proses berpikir seperti mengumpulkan hipotesa, mengecek keabsahan data, lalu menyimpulkan jawaban.

Proses tersebut sungguh melatih peserta didik agar kelak semakin sigap menyambut beragam perubahan dalam kehidupan.

Pedagogi siber bersifat multi arah. Dengan teknologi digital peserta didik semakin mudah memperoleh informasi. Mereka dapat paham dan mampu mengerjakan sesuatu hanya bermodal berselancar di internet.

Medium interaksi

Peran teknologi digital semakin hari semakin membuat interaksi antar manusia semakin dinamis. Melalui teknologi digital, interaksi antara pendidik dengan peserta didik jadi nirbatas.

Kapan pun dan di mana pun dapat terjadi interaksi, asalkan jaringan internet lancar. Kini mudah dijumpai peserta didik yang bertanya kepada guru melalui media sosial tentang suatu tema pembelajaran.

Tidak semua peserta didik berani bertanya kepada guru dalam kelas. Hadirnya media sosial mendekatkan interaksi peserta didik dengan guru.

Mereka dapat mengirimkan pesan langsung ke kotak masuk akun medsos sang guru.

Jawaban dari guru kepada peserta didik yang bertanya menimbulkan komunikasi virtual. Terkadang jika dirasa kurang memahami jawaban guru, peserta didik menggunakan fasilitas panggilan video (video call).

Fernando Uffie, pengamat pendidikan yang menjabat sebagai Country Manager Extramarks Education Indonesia mengungkapkan, belajar berbasis teknologi harus bisa menghadirkan sekaligus menguatkan interaksi antara siswa, guru, sekolah, dan orangtua murid. Tidak hanya di dalam sekolah, tapi juga di luar sekolah.

Pendidikan pasca pandemi tetap wajib menjalankan pembelajaran dengan beberapa penyesuaian.

Salah satunya dilakukan dengan memaksimalkan beragam teknologi digital. Untuk menyelenggarakan hybrid learning.

Mengubah metode pengajaran

Inovasi atau punah. Satu-satunya yang pasti dalam hidup adalah perubahan. Semakin berkembangnya teknologi digital membuat guru perlu berinovasi dalam mengajar.

Metode mengajar yang menganggap peserta didik sebagai obyek perlu dihilangkan.

Pada era teknologi digital peserta didik bukan lagi seperti kertas putih yang siap diisi oleh materi apa pun. Kini peserta didik dapat lebih cepat mengetahui sesuatu hal dibandingkan si guru dengan pemanfaatan teknologi yang tepat.

Metode pengajaran perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Mendikbudristek, Nadiem Makarim memaparkan, kurikulum yang disusun pun harus fleksibel dan sederhana, serta berorientasi peningkatan kompetensi peserta didik.

Metode pengajaran dapat semakin menarik dan variatif dengan pemanfaatan platform-platform daring (online).

Penerapan dalam pembelajaran

Pembelajaran pascapandemi memasuki era pedagogi siber. Oleh sebab itu, perlu menyiapkan peserta didik yang mampu memanfaatkan teknologi demi kehidupan manusia yang lebih baik.

Berdasarkan penelitian Dell bersama Institute for the Future (IFTF) pada 2030, ketergantungan manusia terhadap teknologi akan semakin berkembang. Kemampuan manusia yang terbatas akan ditunjang dengan kelebihan teknologi digital.

Teknologi digital semakin membuat pekerjaan manusia lebih efisien, cepat, dan terukur hasilnya.

Kolaborasi keduanya akan menghadirkan beragam perubahan. Penerapan pembelajaran yang menyiapkan peserta didik adaptif terhadap kemajuan teknologi digital akan mendorong mereka semakin lebih kreatif dan inovatif sehingga dapat melahirkan industri-industri baru yang berbasiskan teknologi digital.

Pedagogi siber juga menampilkan guru sebagai salah satu motor penggerak perubahan. Guru sebagai agen pencipta perubahan merupakan manusia pemelajar. Guru yang berhenti belajar sama saja “membunuh” kehidupan murid-muridnya.

Sosok guru yang mau terus belajar adalah guru yang peka terhadap kebutuhan peserta didik dan tuntutan zaman. Zaman berganti.

Inovasi harga mati

Pendekatan pembelajaran pun perlu bertransformasi menyesuaikan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan peserta didik.

Keunikan tiap peserta didik dapat diakomodasi dalam tiap proses pembelajaran.

Penggunaan sumber belajar yang berbasis lingkungan, memerhatikan kearifan lokal, menciptakan kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi digital membuat peserta didik semakin berakar terhadap realitas kehidupan yang nanti akan dihadapinya.

Daftar pustaka

  • Darmawan, Cecep, Menyambut Digitalisasi Pendidikan, Harian Kompas (2020).
  • Indrajit, Richardus Eko, Webinar Cyber Pedagogy, April 2020.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here