Refleksi Perjalanan Pagi Menuju Biara Monfortan

0
211 views
Refleksi Perjalanan Pagi Menuju Biara Monfortan. (Fr. Willy)

JALAN pagi mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa. Tetapi bagi seorang calon imam, aktivitas biasa harus mampu dimaknai dengan luar biasa.

Dari aktivitas paling awal, bangun tidur, mandi, ibadat pagi hingga rutinitas harian dijalani dengan penuh sukacita sebagai perenungan hidup untuk ‘menjadi’.

Sebagaimana buku Romo Armada yang saya baca akhir-akhir ini, istilah ‘menjadi’ merupakan perziarahan untuk menggapai kepenuhan cinta. Kaitannya dengan perjalanan pagi ini, setiap langkah, bunyi suara di kiri dan kanan, serta wajah orang-orang yang sibuk di pagi hari, menjadi gambaran manusiawi.

Inilah perziarahan hidup para manusia dalam realitas sehari-hari.

Sepanjang perjalanan aneka ragam pemandangan menghiasi benak. Kami yang terbiasa diam di bawah atap seminari sejenak melongok ke luar kompleks dan memandangi sekeliling.

Ada orang yang berjualan, ada yang tengah sibuk bekerja, mengantar anaknya sekolah, dan beberapa orang sibuk dengan gadget yang ada di tangannya masing-masing. Tetapi di tengah-tengah kehidupan serba sibuk itu, ada juga pemandangan bagi kaum papa yang meminta, mengais sampah demi sesuap nasi, manula berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya dan beberapa jam itu takkan ada habisnya untuk mengamati ironi itu.

Syukurlah Romo G. Tri Wardoyo CM yang menjadi kepala perjalanan ini menjadi teladan hidup di tengah-tengah empat orang pemuda lainnya (Fr. Alex, Fr. Willy, Fr. Juandi dan Fr. Julio).

Berlima itu berjalan kaki dengan aneka cerita dan keheranan seperti dua pemuda Emaus berbincang selagi berjalan. Nanti di akhir cerita, ada pernak-pernik indah yang boleh jadi memukau rasa panggilan di dada semakin membara.

Taman Doa Rosario di Biara Monfortan (SMM) Malang.

Biara Monfortan (SMM)

Biara Monfortan itulah tujuan kami. Memang jaraknya terlalu jauh dari Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang, tetapi cukup menggugah kekaguman atas perjuangan para frater Monfortan yang juga mencari ilmu di STFT Widya Sasana Malang. Bagaimana tidak kami merasa kagum, kontur tanah yang menanjak-menurun bukan medan yang biasa.

Memang satu tujuan baik frater diosesan dan frater Monfortan arah tempat studinya. Dari pengalaman mendaki menuju biara Monfortan, saya tersadar bahwa frater Monfortan sudah terlatih dalam perenungan perjalanan. Setibanya di biara tarekat dengan nama SMM ini, hati terasa lega, ternyata suaka di sana terlihat indah seperti di taman doa di Eropa sana.

Sejenak memandang sekeliling, memutari dan terhenti pada titik ziarah doa. Suasana yang sangat cocok untuk menemukan jejak Tuhan dalam doa bersama Bunda Maria.

Ada taman rosario yang menarik mata dan hati, cukup memukau para pendoa untuk mendaraskan rosario di sana. Ada pula kolam ikan berisi ikan koi yang besar, menyejukkan hati dengan deru air yang mengalir di sekitarnya. Di sana, di dekat patung Pieta, momen diabadikan bersama kelima peziarah perjalanan pagi itu. Perjalanan belum berhenti saat itu, manakala kami harus turun kembali menuju peziarahan selanjutnya yaitu pulang.

Biara Monfortan (SMM) Malang.

Setelah berjumpa dengan Allah di atas bukit, turunlah guru dan murid untuk membagikan kabar sukacita. Persis seperti cerita dalam Alkitab ketika Musa berjumpa dengan Allah dan turun dari gunung atau kisah Injil di mana Yesus bersama murid naik ke gunung Tabor dan turun untuk melayani.

Dalam perjalanan pulang, kami berhenti sejenak untuk mengisi tenaga. Rawon hangat dua porsi dan tiga lainnya menu nasi ayam, cukup berat untuk disebut sarapan. Makanan-makanan ini menjadi tenaga untuk melanjutkan perjalanan, dan ini patut disyukuri.

Wacana untuk memulai membuat tulisan ini dimulai dari atas meja kedai makan. Mengumpulkan ide bersama untuk mengabadikan kisah sederhana dalam perenungan yang sederhana pula.

Proses ‘menjadi’ untuk mencintai hobo, saya memaknai itu dengan penuh semangat. Begitu juga Fr. Julio, hendak menggoreskan kisah serupa dengan pikiran berbeda. Misi terus berlanjut, kami pulang sejenak dan singgah untuk membeli nasi bungkus. Untuk apakah ini? Apakah kami masih lapar? Ternyata tidak.

Nasi bungkus yang dibeli oleh Romo Tri adalah bentuk kasih untuk diberikan kepada orang-orang yang berkekurangan sepanjang perjalanan pulang itu. Misi kasih ini yang sederhana ini sengaja tidak diekspose dengan rekaman digital supaya tangan kanan memberi tidak diketahui oleh tangan kiri.

Sembari menguji diri dengan diskreasi, kami mengamat-amati kerumunan yang ada. Ada seorang bapak renta yang menjajahkan kerupuk, juga seorang tua yang berjalan dengan tongkat, para pemulung, tukang parkir; menjadi tujuan misi hari ini.

“Maaf pak, mungkin ini tidak seberapa, tetapi semoga bermanfaat untuk bapak,” kira-kira itulah yang kami ucapkan sembari pulang dengan sukacita.

Teringat akan kegiatan yang dalam waktu dekat dilaksanakan para frater Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni.

Aktivitas pagi ini menjadi trial untuk membagikan kasih serupa di hari mendatang. Sungguh indah melihat perjalanan peziarahan pagi ini berakhir bahagia, penuh sukacita dan damai sejahtera. Istilah pemantik lagi-lagi keluar untuk menyulut api panggilan yang ada dalam hati kami.

Di Bawah Patung Pieta Biara Monfortan Malang.

Melihat sawah

Kisah ini tidak terhenti sampai di situ saja, ada kebetulan lain yang cukup indah untuk dilewatkan. Kami memutar jalan pulang dan mengitari sawah-sawah di sekitar dan melihat hijaunya tanaman padi yang baru tumbuh. Ikan-ikan berenang di aliran tepian pematang sawah.

Di jalan setapak itu, kami menemukan tiga burung kecil yang terkapar. Sepertinya burung-burung pipit ini terkena racun dan kami lekas mengambil ketiganya. Sayang sekali, satu di antara tiga burung ini tidak terselamatkan karena hanyut.

 Sementara yang dua, saya dan Fr. Willy mencoba menyelamatkannya dengan memberinya air minum yang kami bawa. Kami mencoba melepaskannya, tetapi mereka tiada mampu mengepakkan sayap.

Menyelamatkan burung.

Sembari berjalan pulang, burung-burung kecil itu kami bawa dalam genggaman. Burung kecil ini mungkin bukan apa-apa dibandingkan dengan banyak hal, tetapi kehidupan layak untuk perjuangkan. Burung kecil ini mungkin hama bagi tumbuhan padi dan para petani, tetapi burung ini tetap perlu melanjutkan kehidupannya.

Setibanya di Seminari, kedua burung pipit itu kami lepas dan mereka terbang dengan gembira menyatu dengan kawanan brung-burung pipit yang ada di Seminari.

Teringatlah pada suatu nas tentang burung pipit yang dipelihara Tuhan, demikian pula manusia dijaga dan dirawat oleh-Nya. Perjalanan menjadi-mencintai diawali dengan langkah berat dan menukik untuk menuju puncak.

Selanjutnya, perjalanan itu dilanjutkan dengan proses kebaikan berikutnya yakni melayani. Begitu juga proses perjalanan ini dimaknai sebagai bagian dari perjalanan panggilan, di mana Tuhan mau mengatakan apa kepada saya, anda dan kita semua tentang kehidupan sebagai manusia.

Apakah selagi dalam perjalanan, kita sempat untuk peduli pada sekeliling kita sekalipun itu bukanlah hal apa-apa? Tentu saja, siapa yang setia pada perkara kecil, pasti akan setia pula pada perkara besar (bdk. Luk. 16:10).

Foto: Fr. Willy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here