Renungan Harian 13 Januari 2021: Senasib

0
417 views
Ilustrasi - Senasib (Ist)


Bacaan I: Ibr. 2: 14-18
Injil: Mrk. 1: 29-39
 
KETIKA saya berkunjung ke Panti Rehabilitasi Narkoba, saya bertemu dengan konselor-konselor yang mendampingi para resident (pecandu yang direhabilitasi). Saya kagum dengan para konselor-konselor itu karena mereka dengan sepenuh hati mendampingi para resident.

Para konselor hampir 24 jam mendampingi para resident.

Saya semakin kagum kepada para konselor ketika melihat perilaku para resident yang sungguh-sungguh “aneh” dan “sulit”.
 
Dalam perjumpaan dengan para konselor saya bertanya kenapa para konselor tahan untuk mendampingi para resident.

Salah satu konselor menjawab:

“Romo, saya dulu adalah pecandu seperti mereka, bahkan saya lebih parah dari kebanyakan mereka. Saya mau menjadi konselor karena saya ingin menolong mereka. Melihat teman-teman yang masuk ke sini, saya kasihan dan saya seperti melihat diri saya yang dulu.

“Melihat teman-teman satu perasaan yang selalu muncul adalah dorongan agar mereka sembuh dan berani berubah menjadi manusia baru. Bukan hanya lepas dari kecanduan tetapi bisa melihat masa depan dan berani berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.
 
Karena itu romo, jam berapa pun saya dipanggil, tengah malam sekalipun saya tidak pernah merasa lelah. Tidak tahu kenapa, tetapi bertemu dengan teman-teman ini seperti bertemu dengan adik-adik saya sendiri.”
 
Pengalaman para konselor pada masa lalu ini menjadikan para konselor mudah diterima oleh para resident dan juga lebih mudah memotivasi. Para konselor tahu bahasa mereka, mengerti perasaan mereka, mengerti kegundahan mereka.

Para konselor karena punya pengalaman yang sama dengan para resident menjadikan para konselor bekerja penuh empati dan compassion.
 

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada umat Ibrani: “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena percobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.”

Pengalaman menjadi guru yang luar bisa dan sekaligus mendorong untuk lebih berempati dan compassion.
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah pengalaman hidupku mendorongku untuk lebih berempati dan ber-compassion?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here