Renungan Harian 15 Agustus 2020: Hukuman

0
438 views
Ilustrasi -Pembabtisan bayi by ist

Bacaan I: Yeh. 18: 1-10.13b.30-32
Injil: Mat. 19: 13-15
 

BEBERAPA kali dalam waktu yang berbeda ada umat yang datang dan meminta untuk doa pembebasan dari kutuk akibat dosa leluhur. Ketika mendengar permintaan itu, saya agak terkejut dan bingung tidak tahu apa yang mesti saya lakukan.
 
Pertama, sejauh saya ingat, selama kuliah tidak pernah ada pelajaran yang berkaitan dengan dosa yang ditanggung seseorang karena dosa leluhur.

Kedua, saya pernah mendengar tentang praktik pembebasan hal seperti itu yang dilakukan oleh beberapa imam; akan tetapi bagaimana rumus dan ritusnya saya tidak pernah tahu.

Dan yang terakhir dalam pertemuan-pertemuan imam di Keuskupan kami, belum pernah dibicarakan berkaitan dengan hal itu.
 
Oleh karenanya pertanyaan besar adalah apakah seseorang harus menanggung dosa yang dilakukan leluhurnya?
 
Ada sebuah cerita yang terjadi di Italia. Ada seorang ibu muda yang mau membaptiskan anaknya yang merupakan hasil hubungan di luar nikah. Ibu muda itu mempertahankan bayi dalam kandungannya dengan akibat ia ditinggalkan pacar yang telah menyebabkan dia mengandung. Ibu dipaksa oleh pacarnya agar menggugurkan kandungannya, tetapi ia menolak maka ia ditinggalkan pacarnya.
 
Ketika ia meminta  pada pastor yang di sana untuk membaptis, permintaan itu ditolak karena status anak itu sebagai anak hasil hubungan di luar nikah.

Ketika Sri Paus mendengar kisah betapa sulitnya ibu untuk membaptiskan anaknya karena penolakan dari para pastor, Sri Paus mengundang ibu itu dan membaptis anaknya. 

Sri Paus dengan tindakannya itu mau menegaskan bahwa anak tidak berdosa dan tidak menanggung dosa orangtuanya.
 
Sebagaimana dalam nubuat Yeheskiel bahwa Allah menghukum seseorang sesuai dengan tindakannya sendiri bukan akibat dari dosa leluhurnya.

Yeheskiel menyebut ada pepatah di Israel “ Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu” yang artinya adalah  anak-anak akan menanggung dosa leluhurnya.
 
Sabda Tuhan sebagaimana diwartakan Yeheskiel menegaskan: “Demi Aku yang hidup, demikianlah sabda Tuhan, kalian tidak akan mengucapkan pepatah itu lagi di Israel. Sungguh, semua jiwa itu Aku yang punya. Baik ayah maupun jiwa anak, Akulah yang punya. Dan orang yang berbuat dosa, dia sendirilah yang harus mati.”
 
Jelaslah bagi saya bahwa seseorang tidak akan menanggung dosa leluhurnya. Maka lebih penting aku bertobat atas dosa dan kesalahanku dan bukan memikirkan dosa leluhurku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here