Renungan Harian 19 September 2020: Neng, Ning, Nung, Nang

0
259 views
Ilustrasi --Doa penyadaran diri (ist)


Bacaan I: 1Kor. 15: 35-37. 42-49
Injil: Luk. 8: 4-15
 
HARI-hari di minggu awal mulai hidup di Novisiat, salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah latihan doa dasar yang biasa kami singkat menjadi latdoda. Setiap hari 60 menit di pagi hari dan 30 menit di sore hari, kami para kandidat novis menjalani latdoda didampingi para frater secundi (tahun kedua). Fr. Sunu dan Fr. Dhesi selalu bergantian mendampingi kami.
 
Kami mulai belajar “ritual”, sebelum memulai berdoa.

“Ritual” itu adalah kami berdiri satu atau dua langkah di belakang tempat kami akan berdoa. “Ritual” itu kami sebut dengan laku penghormatan.

Kami diajak untuk menyadari diri mengenai apa yang hendak kami lakukan, kepada siapa kami menghadap, siapa diriku di hadapan Dia yang pada-Nya aku berhadapan.
 
Setelah itu, baru kami duduk dan mulai berlatih konsentrasi dengan cara penyadaran diri, baik merasakan anggota tubuh, mendengar-dengarkan maupun dengan merasakan nafas.

Berhari-hari itu yang kami latih, agar kami mampu berkonsentrasi, tidak mudah terpengaruh hal-hal di luar diri kami, dan kami menjadi peka dengan sentuhan-sentuhan dan gerak roh.

Setelah semua itu kami jalani, kami baru dilatih untuk berdoa dengan cara meditasi dan kontemplasi.
 
Pada saat itu kami rasakan sesuatu dari bagian yang harus kami jalani. Saya tidak merasakan kedalam arti latihan-latihan semua itu. Bahkan saya merasa bahwa hal itu hanya berlaku dalam upaya agar bisa berdoa meditasi dan kontemplasi.
 
Filosofi Jawa neng, ning, nung, nang menyadarkan saya betapa dalam sebuah pemahaman, apa yang kami jalani dengan latdoda bukan hanya untuk kepentingan doa, tetapi lebih dari itu untuk peziarahan hidup.
 
Neng” adalah kependekan dari “jumeneng” yang berarti sadar, berdiri dan bangun untuk melakukan tirakat atau semedi. Seseorang diajak untuk membangkitkan kesadaran dalam batinnya, mau kemana, untuk apa, mau menghadap siapa dan siapa diriku di hadapan dia yang akan kujumpai.

Dalam praktek hidup sehari-hari adalah kesadaran dan kemampuan menempatkan diri dalam hubungan dengan Tuhan dan sesamaku.
 
“Ning” adalah kependekan dari “mengheningkan”, yang berarti mengheningkan akal, pikiran, perasaan dan perilaku sehingga berkesinambungan. Menyelaraskan daya cipta dan rasa yang selalu terbuka pada kehendak roh baik.

Dalam kehidupan sehari-hari membawa diri untuk selalu “eling lan waspada” (selalu sadar/aware) yang pada gilirannya menjadikan diri mampu mengalahkan ke-aku-an yang menghasilkan ketulusan hati.
 
“Nung” adalah kependekan dari “kasinungan”, yang berarti terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Seseorang akan mendapatkan daya-daya ilahi yang menghantarnya untuk mampu menemukan kasih Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Sehingga tidak ada lain dalam dirinya selain memancarkan kasih.
 
“Nang” adalah kependekan dari “menang” yang berarti seseorang telah menang terhadap dirinya, mampu menguasai diri, mampu dengan jernih membedakan gerakan-gerakan mana yang datang dari roh baik dan mana yang datang dari roh jahat. Seseorang menjadi bahagia lahir batin.

Seseorang yang mencapai tahap ini hidupnya sungguh diletakkan pada Tuhan.
Sehingga ia tidak memilih sehat lebih dari pada sakit; memilih kaya lebih dari pada miskin dan memilih hidup lebih dari pada mati, asal semua demi kemuliaan Allah.
 
Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa menyiap diri, menjadi tanah yang subur bagi Allah. Kiranya itulah yang disabdakan Yesus sejauh diwartakan Lukas: “Barang siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah mendengar.”
 
Aku mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, mempunyai mata tetapi tidak melihat dan mempunyai hati tetapi tidak mencinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here