Renungan Harian 22 Januari 2021: Pantang dan Puasa

0
702 views
Ilustrasi - Menahan diri untuk tidak marah. (Ist)


Bacaan I: Ibr. 8: 6-13
Injil: Mrk. 3: 13-19
 
HARI Kamis malam, pada Masa Prapaskah, ibu bicara kepada kami anak-anaknya, tetapi lebih tepat pengumuman untuk kami. Ibu mengumumkan bahwa besok hari Jumat, ibu akan menjalani pantang dan puasa.

Ibu akan pantang marah, karena ibu sering marah, maka beliau memilih untuk pantang marah. Karena ibu pantang marah, maka ibu meminta kami anak-anaknya agar tidak membuat ulah yang menyebabkan ibu marah.

Kami semua mengiyakan permintaan ibu, karena kami takut.
 
Suatu saat ketika kami sudah besar, ketika kami libur, saya waktu itu masih frater dan adik saya paling kecil juga frater, ibu membuat pengumuman yang sama, bahwa besok ibu akan pantang marah sehingga kami semua diminta tidak membuat ulah yang menyebabkan ibu marah.
 
Adik saya yang paling kecil komentar: “Ibu sebaiknya tidak usah pantang marah.”

“Lho, kamu ini bagaimana, ibu sudah niat kok malah baiknya tidak, frater kok malah tidak jelas,” jawab ibu.

“Bu, orang puasa dan pantang itu belajar untuk melawan hawa nafsu dan godaan. Kalau orang mau pantang dan puasa tetapi godaannya dihilangkan terus gunanya apa?,” kata adik saya.

“Ah embuh, ibu gak ngerti,” jawab ibu.
 
Banyak orang yang sering kali seperti ibu, ketika puasa dan pantang berharap atau kalau punya kekuasaan, menghilangkan segala bentuk godaan yang mengganggu puasa dan pantangnya.

Mereka merasa hebat kalau puasa dan pantangnya berhasil.
 
Orang-orang semacam ini lupa tujuan diadakan puasa dan pantang. Puasa dan pantang adalah sarana untuk melatih diri mengenali godaan-godaan dan belajar melawan godaan-godaan itu sendiri.

Dengan demikian puasa dan pantang bukan tujuan tetapi sarana. Oleh karena itu, betul apa yang dikatakan adik saya, adalah tidak berguna puasa dan pantang; tetapi dengan kekuasaannya menyingkirkan segala hal yang menimbulkan godaan demi keberhasilan puasa dan pantang.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Markus, Yesus memberi kuasa untuk mengusir setan kepada orang-orang yang diutus untuk memberitakan Injil.

Yesus mengutus mereka ke tengah dunia dengan segala kesulitan, tantangan dan godaan yang menghalangi para utusan itu untuk mewartakan injil.

Namun Yesus walaupun punya kuasa untuk menyingkirkan kesulitan, tantangan dan godaan tidak melakukannya tetapi memberi kuasa agar para utusan dapat mengatasi segala kesulitan, tantangan dan godaan itu.

“Ia menetapkan dua belas rasul untuk menyertai Dia, untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan.”
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah aku punya keberanian untuk bergulat dengan kesulitan, tantangan dan godaan atau aku melarikan diri?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here