Renungan Harian 23 Februari 2021 – Luka Batin

0
285 views
Ilustrasi - Kenangan akan masa lalu yang suram dan kelam dan belajar mengampuni. (Ist)


Bacaan I: Yes. 55: 10-11
Injil: Mat. 6: 7-15
 
IBU itu duduk di bangku baris hampir belakang di rumah duka tempat mantan suaminya terbaring dalam peti jenazah. Sedang di baris depan nampak perempuan dengan seorang anak kecil dan beberapa anak yang sudah besar.

Menurut ceritanya, itu adalah “isteri” dan “anak-anak” bapak itu. Itu pun entah perempuan yang keberapa hasil selingkuhan almarhum.
 
Ibu itu di baris belakang memeluk ketiga putera-puterinya untuk menenangkan mereka. Anak-anaknya menangis.

Kira saya, bukan pertama-tama karena kehilangan bapaknya; tetapi karena mendengarkan kemarahan omanya.

Oma itu di tengah pelayat marah ke ketiga anak itu dengan suara keras: “Kalian itu anak-anak durhaka, kalian tidak menghormati papa kalian, padahal dia selalu mencintai kalian. Kalian tidak tahu balas budi, dasar anak durhaka.”
 
Sementara banyak orang tahu bahwa anak itu mengalami luka batin yang amat mendalam, karena ulah papanya. Berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana mamanya dihina oleh selingkuhan papanya yang datang ke rumah mereka untuk minta uang hasil jualan di toko, padahal yang bekerja di toko adalah mamanya.

Anak-anak itu menyaksikan bagaimana mereka diusir oleh keluarga papanya, ketika orangtua mereka berpisah. Padahal rumah itu adalah hasil kerja keras mamanya.

Dan masih banyak lagi peristiwa yang diketahui oleh para kerabat dan teman-temannya.
 
Saya duduk di belakang ibu dan putera-puterinya, mendengar bagaimana ibu itu menenangkan anak-anaknya.

“Sudah kalian diem, dengarkan saja dan ditelan. Tidak usah melawan dan juga tidak usah membenarkan diri, karena semakin kamu membenarkan diri hanya akan semakin menyakitkan. Satu hal yang penting, kalian harus selalu berdoa untuk papa, meski kalian belum bisa mengampuni dan masih dendam dengan papa.”
 
Tanpa terasa, saya menitikkan air mata, saya bisa merasakan betapa sakit yang dialami oleh ibu dan anak-anaknya.

Saya membayangkan andai saya dalam posisi ibu dan anak-anak itu, akankah aku bisa memberikan penghormatan dan cinta pada papanya?

Pertanyaan besar bagaimana cara agar saya mampu mengampuni dan menghilangkan dendam?

Bahkan mungkin nasehat agar aku mendoakan tak bisa dilakukan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius, Tuhan mengajarkan berdoa Bapa Kami.

Salah satu bagian berbunyi: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Dalam situasi seperti yang dialami oleh ibu dan anak-anaknya, akankah mampu melakukannya?

Mohon ampun dengan syarat mengampuni yang bersalah kepadanya.

Entahlah, namun kiranya nasehat ibu kepada anak-anaknya untuk selalu mendoakan papanya adalah cara yang paling mungkin untuk dilakukan meski itu pun amat sulit.
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah aku mudah mendoakan doa Bapa Kami?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here