Renungan Harian 23 Mei 2020: Penuh

0
167 views
Ilustrasi Bapak by ist
  • Bacaan I: Kis. 18: 23-28.
  • Injil: Yoh. 16:23b-28.

DI suatu sore beberapa tahun yang lalu, ketika saya dan adik-adik sedang liburan, saya bertanya ke bapak saya yang sedang minum teh :

”Pak, sekarang ini apa sih yang masih bapak harapkan atau inginkan? Bapak ngersakake apa utawa ngersakake tindak ngendi?” (bapak pengin sesuatu atau ingin jalan-jalan kemana).

“Pak, kalau bapak menginginkan sesuatu atau ingin pergi kemana, sekarang ini kami bisa memenuhi kok,” tambah adikku.

“Bapak sudah cukup, apa yang bapak terima, bapak lihat dan bapak alami sudah lebih dari cukup. Bapak amat bersyukur untuk semua yang sudah bapak alami,” Jawab bapak.

Bener Pak, gak pengin apa-apa?,” kejarku.

“Tidak, bapak sudah cukup,” Tegas bapak.

Rupanya perjalanan panjang dengan berbagai macam kesulitan dan penderitaan, di ujung usianya bapak menemukan betapa Tuhan mencukupkan semuanya.

Bapak mengalami kasih Tuhan yang luar biasa, sebagaimana selalu diceritakan kepada kami. Maka bapak ketika ditanya pengin apa, akan selalu menjawab sudah cukup dan bersyukur.

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes: ”Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima supaya penuhlah sukacitamu.”

Meminta dalam namaNya.

Apa yang harus kuminta dalam namaNya agar suka citaku menjadi penuh? Kiranya pengalaman bapak yang mengalami kepenuhan sehingga selalu mengatakan cukup dan bersyukur menjadi gambaran sederhana hubungan kasih dengan Tuhan.

Aku selalu minta ini dan minta itu untuk memenuhi keinginanku. Akankah itu membuat suka citaku menjadi penuh?

Satu hal yang membuat sukacitaku menjadi penuh adalah kasihNya. Maka mohon dalam namaNya adalah mohon cinta dan rahmatNya.

Siapa yang minta cinta dan rahmatNya? Dia adalah mereka yang sudah mengalami kepenuhan cinta Allah, sehingga tiada lain selain berjuang agar lewat hidupnya sehari-hari menjadi persembahan  bagi Allah.

Kapan aku mengalami kepenuhan itu?

Jebakan untuk mohon ini dan itu agar kepuasanku terpenuhi itulah, yang menjauhkan aku dari kepenuhan itu.

Mungkinkah selama berziarah di dunia ini, aku lepas dari jebakan itu?

Jawabnya, mungkin, saat aku bisa mengatakan cukup.

Iwan Roes RD.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here