Renungan Harian 24 Oktober 2020: Dewasa

0
301 views
Ilustrasi - Obat. (Ist)


Bacaan I: Ef. 4: 7-16
Injil: Luk. 13: 1-9
 
SUATU hari saya mengunjungi seorang teman yang sedang sakit. Ia sudah lama menderita sakit dan sudah lama tidak mau dikunjungi oleh siapa pun kecuali keluarga intinya saja.

Dalam perjumpaan itu saya bertanya: “Kenapa kamu menyendiri? Banyak teman ingin bertemu lho. Kehadiran mereka bisa menjadi penghiburan bagimu.”

“Betul Wan, kehadiran mereka bisa menjadi penghiburan bagi saya. Tetapi untuk sekarang, saya masih ingin sendiri dulu,” jawabnya.

“Lho memang ada apa?,” tanya saya.
 
“Wan, berita tentang saya sakit cepat menyebar sehingga banyak teman yang menjenguk. Saya senang mendapatkan penghiburan. Tetapi di antara mereka yang datang, banyak membuat saya berkeputusan untuk menyendiri. Saya merasa dihakimi oleh banyak dari mereka. Saya tahu bahwa saya orang berdosa dan pasti butuh pertobatan. Namun kalau sakit saya dianggap sebagai kutukan, itu menyakitkan. Betapa mengerikan kalau orang sakit dianggap sebagai orang terkutuk.
 
“Wan, saya tidak masalah dengan omongan mereka dan penghakiman mereka. Saya sakit, dan saya terima sakit ini sebagai anugerah. Betul Wan, saya menerima sakit ini sebagai anugerah. Dengan sakit ini saya jadi punya waktu untuk diam, hening dan sendiri. Saya bisa melihat diri sendiri siapa diri saya yang sesungguhnya. Saya sekarang jadi lebih mudah bersyukur dan menghargai apa pun yang dilakukan isteri dan anak-anakku. Aku merasa menjadi orang yang amat beruntung mempunyai mereka.
 
Saya tahu separah dan segawat apa penyakit saya. Saya bersyukur karena dengan ini aku diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri bila saatnya tiba menghadap Dia. Aku juga diberi kesempatan untuk menyiapkan isteri dan anak-anakku.
 
Wan, sering kali badanku terasa sakit yang amat sangat, rasanya aku tidak bisa menahannya. Dalam kesendirian aku berjuang untuk menerima dan tidak mengeluh. Aku selalu berjuang untuk tersenyum dan bahagia.

Satu hal yang kuharapkan agar di saat terakhir hidupku aku selalu berbagi senyum dan kebahagiaan.
 
Wan, kalau aku tidak mau dijenguk, memang awalnya karena aku tidak ingin mereka yang dengan dalih mendoakan tetapi menghakimi datang. Tetapi sekarang alasanku agar aku lebih banyak waktu untuk keluargaku.”

Teman mengakhiri ceritanya.
 
Wow dalam hatiku, sebuah pengalaman iman yang luar biasa. Saya membayangkan kalau ada dalam situasi seperti dirinya belum tentu mempunyai kedewasaan iman seperti dirinya.

Ada keteguhan hati meski dihakimi oleh beberapa orang, ada kepasrahan diri yang luar biasa.
 
Seperti kata St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Dengan demikian kita semua akan mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”
 
Bagaimana dengan diriku, sejauh mana sikap dan penghayatan imanku?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here