Renungan Harian 24 September 2020: Risau

0
409 views
Ilustrasi: Risau. (Ist)


Bacaan I: Pkh. 1: 2-11
Injil: Luk. 9: 7-9
 
PERAYAAN
Ekaristi pada pagi hari itu agak gaduh. Saya lalu menghentikan khotbah saya. Kejadian itu berawal adanya anak kecil yang menangis menjerit memanggil-manggil mamanya.

“Mamaaaaa,” teriak anak itu sambil menangis.

Sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan anak kecil yang menangis itu, karena memang itulah anak kecil.

Namun tidak berapa lama setelah anak kecil itu teriak, di bangku lain ada seorang ibu yang berteriak-teriak dan jatuh pingsan.                                     

Semua umat terkejut dan sontak perhatian ke arah datangnya suara anak yang teriak dan ibu yang teriak diiringi bunyi sesuatu yang jatuh. Pada awalnya, semua menduga bahwa anak kecil yang teriak itu adalah anak ibu yang jatuh pingsan.

Ternyata bukan. Anak yang nangis langsung digendong ibunya dan dibawa keluar sedang beberapa umat mengangkat ibu yang pingsan itu untuk mendapatkan perawatan.

Setelah situasi agak tenang, saya melanjutkan perayaan ekaristi.
 
Seusai perayaan ekaristi ada seorang ibu menemui saya dan menyampaikan  bahwa ibu yang tadi pingsan sudah pulih. Ibu itu meminta saya untuk mendoakan ibu yang pingsan tadi.

Setelah saya menyapa umat yang pulang gereja, saya menemui ibu yang tadi pingsan untuk mendoakan.
 
“Bagaimana ibu, sudah sehat? Ibu ke gereja dengan siapa?,,” sapa saya.

“Sudah pastor, terima kasih. Saya ke gereja sendiri.“

 “Ibu yakin sudah sehat dan bisa pulang sendiri?”

“Sudah pastor terima kasih, saya sudah kuat, saya tidak apa-apa,” jawab ibu dengan sopan.

“Ibu masuk angin? Atau ibu sebelumnya sudah tidak enak badan?,” tanya saya.

“Tidak pastor, saya sehat. Saya terkejut mendengar teriakan anak kecil itu,” jawabnya.

“Oh, maaf ya, ibu jadi terganggu.”

“Tidak pastor, saya yang minta maaf. Saya boleh cerita sedikit?,” pinta ibu itu.

“Oh, silahkan ibu.”
 
“Pastor, ketika saya mendengar anak kecil itu menangis dan teriak memanggil mamanya, saya tidak tahan. Setiap kali mendengar anak kecil teriak memanggil mamanya, hati saya rasanya seperti disayat-sayat.”

Ibu itu bercerita dengan berurai airmata.
 
“Pastor, kejadian itu kira-kira 15 tahun yang lalu. Saat itu, karena saya tertarik dengan laki-laki lain, saya meninggalkan rumah, suami dan anak saya. Diawali dengan keributan besar dengan suami saya, saya pergi dari rumah. Ketika saya pergi, anak saya yang waktu itu umur 2 tahun, menangis teriak, panggil-panggil saya, di dekapan papanya. Tetapi saya sudah tidak mempedulikan, tekad saya sudah bulat untuk pergi. Maka kalau dengar anak kecil menangis berteriak memanggil mamanya, saya selalu ingat peristiwa itu. Peristiwa yang selalu menghantui hidup saya.”

Ibu itu berkisah.
 
“Ibu, pernah bertemu dengan anak ibu?,” tanyaku.

“Belum dan saya belum mau bertemu,” jawabnya.

“Ibu tahu dimana anak ibu tinggal?”

“Tahu pastor, dia pernah menghubungi saya dan ingin bertemu.”

“Kenapa ibu tidak mau menemuinya? Kiranya perjumpaan itu menjadi saat untuk berdamai dengan anak ibu dan ibu menjadi damai dengan hidup ibu.”

“Tidak pastor, saya tidak mau kalau nanti saya bertemu dan saya dihina dan direndahkan. Biar, saya menderita dengan bayangan yang menghantui saya dari pada saya dihina dan direndahkan.”

Saya diam, tidak bisa mengerti dan tidak tahu apa yang harus saya katakan.
 
Betapa di dalam kehidupanku, aku sering kali lebih memilih penderitaan yang disebabkan oleh bayangan masa laluku, demi memelihara dan menghidupi kesombonganku.

Bukankah setiap dari aku mempunyai bayang-bayang gelap?

Dan bukankah bayangan gelapku akan menjadi komposisi indah bagi hidupku mana kala aku mau menerima, memeluk dan menyelaraskannya?

Betapa aku harus berani dan rela merendahkan diri, serta menderita agar bayangan hitamku menjadi selaras?
 
Kiranya pengalaman Herodes dalam sabda Tuhan sejauh diwartakan Lukas hari ini, menunjukkan kerisauan dan kecemasan akan masa lalu: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”
 
Dalam peziarahan hidup dalam terang dan menuju “Sang Cahaya”, bayangan gelapku selalu muncul dan mengikuti.

Akankah aku mampu melupakan dan menghilangkannya? Bukankah yang dapat kulakukan adalah menyelaraskan dengan hidupku, sehingga menjadi kompisi indah bagi hidupku?

Aku, bayangan gelapku dan “Sang Cahaya” adalah komposisi indah hidupku.
 
Persoalannya adakah kemauan dan kemampuan untuk menyelaraskannya.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here