Renungan Harian 25 Januari 2021: Jalan Hidupku

0
493 views
(Sr Ludovika OSA)


Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul
Bacaan I: Kis. 22: 3-16
Injil: Mrk. 16: 15-1
 
DALAM sebuah triduum (retret 3 hari) untuk guru-guru yang berkarya di pedalaman, kami menggunakan metode refleksi dan sharing. Oleh karena itu setiap kali ada satu pokok permenungan untuk diolah secara pribadi, kemudian masing-masing membuat refleksi  dan sharing dalam kelompok.
 
Setiap kali acara sharing, ada satu bapak guru yang tidak mau membagikan pengalamannya. Namun bapak itu serius mendengarkan sharing dari teman-teman yang lain. Dan setiap kali setelah mendengarkan sharing temannya, bapak itu kelihatan termenung sedih seperti menahan sesuatu. Akan tetapi saat diminta sharing selalu mengatakan bahwa dirinya belum siap.
 
Setelah doa malam, saya dengan sengaja mengajak bapak guru itu untuk bicara.
“Bapak, apa yang bapak rasakan, sehingga kelihatan begitu berat untuk berbagi pengalaman. Teman-teman bapak ingin sekali mendengarkan pengalaman bapak,” tanya saya membuka pembicaraan.

“Pater, saya malu untuk sharing. Mendengarkan sharing teman-teman, membuat saya semakin minder. Teman-teman sharing-nya amat bagus, hidup mereka lurus dan selalu dekat dengan Tuhan. Sedangkan saya, Pater, hidup saya tidak layak untuk di-sharing-kan,” jawab bapak itu.

“Bapak, tidak perlu minder dan malu, menurut saya, bapak bisa menjadi seperti ini luar biasa, apa pun masa lalu bapak. Teman-teman mengenal bapak sebagai guru yang luar biasa, dan teman-teman bicara bahwa bapak adalah guru teladan,” kata saya.
 
“Pater, sesungguhnya saya sampai di tempat ini melarikan diri. Saya dulu penjahat Pater, mencuri, mencopet, judi, mabuk dan main perempuan. Karena kelakuan saya ini, saya diusir oleh orangtua. Saya tidak tahu mau kemana, lalu ada kawan mengajak saya ke sini. Saya mau saja, pokoknya jauh dari orangtua dan keluarga.
 
Saya sampai di kota ini menjadi pelayan toko dan pelayan di rumah bos. Bos saya amat baik, beliau selalu kasih nasihat yang baik untuk masa depan saya. Bos bilang bahwa dia dulu hidup tidak baik, tetapi kemudian sadar. Bos kasih saya kuliah dan kemudian saya jadi guru.
 
Saya bertemu dengan bos ini rasanya seperti bertemu malaikat penyelamat hidup saya. Untuk pertama kali saya merasakan yang namanya dicintai. Dan sejak itu saya ingin selalu memberikan hidup saya untuk mencintai anak-anak didik saya. Kalau teman-teman melihat saya itu baik, sebenarnya saya melakukan itu untuk menebus dosa saya,” dia menjelaskan.
 
“Bapak, terima kasih banyak, kisah yang luar biasa. Bapak harus membagikan pengalaman ini agar menjadi inspirasi bagi teman lain,” kata saya.

Malam itu bapak itu mau berbagi pengalaman. “……ini jalan hidupku, dan aku ditangkap oleh Tuhan,” dia menutup sharing-nya.
 
Hal yang mengejutkan bagi kami, para pendamping retret adalah guru-guru yang pada awalnya sharing-nya bagus-bagus dan “suci” tiba-tiba berubah.

Semua bisa menceritakan masa lalunya yang kelam dan bisa melihat bagaimana Tuhan menangkap mereka untuk menjadi guru yang baik.

Mereka tidak lagi melihat masa lalu sebagai beban yang harus disembunyikan akan tetapi masa lalu yang kelam menjadi sarana bagi Tuhan menangkap mereka.
 
Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul, St. Paulus tidak menyembunyikan masa lalunya tetapi mensyukuri masa lalunya karena dalam masa lalu yang seperti itu, Tuhan menangkap dirinya. “Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nasaret, yang kau aniaya itu.”
 
Bagaimana dengan aku?

Apakah aku melihat masa laluku sebagai beban yang harus kusembunyikan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here