Renungan Harian 25 November 2020: Kesempatan

0
245 views
Ilustrasi - Menjadi guru. (Ist)


Bacaan I: Why. 15: 1-4
Injil: Luk. 21: 12-19
 
BEBERAPA tahun yang lalu, ketika saya bertugas mendampingi guru-guru inpres di Keuskupan Bandung, saya mengunjungi seorang ibu guru yang bertugas di tempat terpencil.

Di desa tersebut, ibu guru itu satu-satu orang asing.

Di sekolah tempat beliau mengajar hanya ada 3 orang guru, 2 orang guru asli desa itu dan 1 lagi ibu guru itu.

Ibu guru itu bukan hanya sebagai satu-satunya pendatang di desa itu akan tetapi ibu guru itu satu-satunya orang memeluk agama yang berbeda.
 
Dalam perjumpaan itu, pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah:
“Apa yang ibu pikirkan dan bayangkan ketika mendapat tugas di desa ini?”

Pertanyaan itu muncul berdasar kekaguman saya dengan ibu guru itu.

Beliau pergi menjalankan tugas di tempat yang asing itu, ketika beliau masih berusia 18 tahun, saat setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Sebuah keberanian yang luar biasa untuk menjalankan tugas.
 
“Romo, saat saya mendapatkan penugasan di desa ini, saya amat sadar bahwa saya akan menjadi orang asing. Dalam bayangan saya, di desa ini pasti ada guru-guru lain yang datang dari tempat lain. Pada saat pembekalan di Kabupaten, saya tahu bahwa satu-satunya orang yang beragama lain. Kemudian saat sampai di desa ini saya baru tahu ternyata saya satu-satunya pendatang.
 
Awal tinggal di desa ini amat berat bagi saya. Rasa khawatir, takut dan sedih campur aduk dalam diri saya. Pada awal saya datang, penduduk desa belum banyak yang mengerti bahasa Indonesia mereka menggunakan bahasa Sunda. Tidak ada satu kata pun yang saya mengerti.
 
Saya hanya bisa berdoa dan berdoa mohon diberi kekuatan dan keberanian. Saya ingat nasehat ibu ketika saya mau berangkat:

“Nak, jangan takut, Tuhan pasti menjaga dan menuntun. Dan lihatlah keberadaanmu di tempat asing sebagai kesempatan untuk memberi kesaksian tentang kasih, hormat, dan menghargai orang lain. Bagaimana caranya Tuhan yang akan menunjukkan jalan dan caranya.”
 
Saya berpegang pada nasihat ibu itu maka saya selalu berdoa dan mohon. Ternyata dalam perjalanan saya tidak banyak mengalami kesulitan seperti yang saya khawatirkan dan takutkan.

Saya diterima di sini, dibimbing dan dituntun untuk mengenal bahasa dan adat istiadat di desa ini.

Penduduk desa tidak menganggap saya sebagai orang asing, tetapi menjadi bagian dari mereka. Bahkan saya sering diantar ke kota untuk ke gereja.
 
Romo, saya mengalami mukjizat luar biasa di desa ini. Saya merasakan sungguh kasih Tuhan, dan bagaimana Tuhan membimbing serta menuntun saya.”

Ibu itu membagikan pengalaman hidupnya.
 
Pengalaman luar biasa.

Kisah ibu guru itu membuat saya terharu sekaligus kagum luar biasa. Kepasrahan pada tuntunan dan kasih Allah. Dan yang lebih penting lagi bagaimana ibu guru itu menghayati pengutusan di tempat yang asing dan sulit sebagai kesempatan untuk memberi kesaksian lewat hidupnya.

Benarlah sabda Tuhan  sejauh diwartakan St. Lukas: “… Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi… Tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang. Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu.
 
Bagaimana dengan aku, adakah aku menghayati tantangan dan kesulitan hidup sebagai kesempatan untuk bersaksi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here