Renungan Harian 26 September 2020: Sia-sia

0
490 views
Ilustrasi - Para fotografer mengabadikan panorama alam yang indah. (Istimewa)
  • Bacaan I: Pkh. 11: 9-12: 8
  • Injil: Luk. 9: 43b-45

SEORANG fotografer selalu bepergian untuk mendapatkan karya foto yang bagus. Setiap kali sehabis berburu objek foto, ia selalu menampilkan karya fotonya melalui media sosial.

Banyak orang mengagumi karya fotonya. Ia mampu menampilkan karya-karya indah, baik itu pemandangan alam, binatang maupun sosok-sosok tertentu.
 
Lewat karya-karya yang diunggah, banyak orang mengetahui bahwa ia telah menjelajah banyak tempat. Bahkan sering kali baru saja ia mengunggah hasil karya foto di suatu tempat, pada saat yang sama ia telah mengunggah keberadaannya sudah ada di tempat lain.
 
Banyak teman-temannya berkomentar: “Wah, pergi-pergi terus ya.”

Beberapa teman lain berkomentar: “Banyak duit ya, pergi-pergi terus.”

Teman lain lagi bertanya: “Untuk apa foto-foto itu?”

Komentar-komentar yang tidak salah, karena memang ia bukanlah fotografer profesional yang mendapatkan uang dari karya fotonya. Baginya fotografi adalah hobi dan refreshing.
 
Tak pelak pertanyaan-pertanyaan itu cukup mengganggunya, meski awalnya tidak begitu diambil pusing.

Pertanyaan untuk apa melakukan semua ini? Adalah pertanyaan mendasar yang selalu menghantuinya.

“Apakah aku melakukan semua ini demi sebuah pujian dari banyak orang di media sosial? Apakah aku mencari kepuasan lewat “jempol” banyak orang di media sosial? Apakah aku melakukan semua ini karena aku mencari eksistensi diri?

“Apakah aku melakukan semua untuk membuktikan pada “dunia” bahwa aku mampu dan lebih baik dari orang lain?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang selalu mengganggunya.
 
Suatu saat ia bercerita bahwa dengan melihat alam yang indah bisa menemukan Tuhan. Pada saat ia bercerita seperti itu, teman lain bertanya: “Apakah di sini tidak ditemukan Tuhan? Haruskah Tuhan ditemukan ditempat-tempat yang jauh dan berbiaya mahal?
 
Semua alasan-alasan rasional untuk menjawab pertanyaan yang menggelisahkan tidak bisa ditemukan lagi. “Apakah semua ini hanyalah kesia-siaan belaka? Apakah aku selama ini mengejar kesia-siaan?
 
Sampai suatu saat ketika ia berburu matahari tenggelam, ia melihat dan menikmati langit memerah jingga, dan matahari memancarkan sinar keemasan di batas cakrawala, ia merasakan getaran hebat dalam dirinya.

Air matanya mengucur, entah mengapa tetapi rasa bahagia ia rasakan.

“Aku merasakan cinta yang luar biasa, alam seolah memelukku. Berdiri menatap cakrawala yang luas membentang dengan keagungan-Nya menjadikan aku merasa kecil, dan bukan siapa-siapa. Entah dorongan dari mana, saat itu aku merasakan Tuhan yang begitu dekat, tetapi pada saat yang sama aku merasakan keagungan Tuhan yang menggetarkan.”

Katanya melukiskan pengalaman itu.
 
“Itu yang kucari selama ini, meski pada awalnya aku tidak tahu untuk apa aku melakukan semua ini. Pengalaman akan Tuhan yang begitu menggetarkan dan pengalaman cinta yang begitu hangat menyelimuti diriku yang selama ini tidak kutemukan dalam rasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berurai air mata untuk cinta  dari keagungan semesta yang hadir dalam rasa,” ia meneruskan kisahnya.
 
“Sejak saat itu, hasil karya foto nomor sekian bagiku, saat aku berburu foto. Hal pertama dan utama adalah pengalaman menemukan cinta Allah melalui semesta yang hadir dalam rasa. Kalau sekarang, aku mengunggah karya foto melalui media sosial bukan demi “jempol” dan pujian. Tetapi aku ingin menghadirkan cinta dan sebagai ungkapan syukurku atas anugerah semesta, lewat sepotong karya foto itu.”

Ia menutup kisahnya.
 
Benarlah kata Pengkhotbah melalui bacaan hari ini: “Kesia-siaan atas kesia-siaan kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah kesia-siaan.”

Segala sesuatu di atas bumi akan menjadi sia-sia dan membawaku pada kesia-siaan mana kala aku terjebak untuk menjadi penikmat dan memburu segala sesuatu demi kenikmatanku.
 
Segala sesuatu menjadi berarti manakala segala sesuatu itu menjadi sarana bagiku semakin dekat dengan Tuhan, dan aku pergunakan sebagai pujian, penghormatan dan pengabdian bagi Tuhan agar jiwaku diselamatkan.
 
Bagaimana dengan diriku?

Adakah aku mengejar kesia-siaan?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here