Renungan Harian 27 Oktober 2020: Hormat

1
524 views
Ilustrasi (Ist).


Bacaan I: Ef. 5: 21-33
Injil: Luk. 13: 18-21
 
BEBERAPA bulan yang lalu, saya ngopi bareng dengan seorang sahabat saya. Saya beberapa kali ngopi bareng dia, sambil ngobrol-ngobrol tentang berbagai hal.

Sahabat saya bekerja di Jakarta, sedang isterinya berada di kota lain, karena isterinya bekerja di sana, sehingga mereka terpisah.

Menurut sahabat saya, mereka bertemu sebulan sekali atau kadang dua bulan sekali.
 
Hari itu saya bertanya kepada dia bagaimana mereka menjalani hidup berkeluarga yang terpisah seperti itu.

“Wan, kami memanfaatkan tekhnologi yang ada untuk membangun komunikasi yang baik. Sekarang ada media sosial yang memungkinkan kami bisa berkomunikasi dengan amat baik,” jawabnya. Kemudian dia menunjukkan kiriman video dari istrinya yang dibuat hari Sabtu lalu.
 
Video menayangkan isterinya sedang menyiapkan makan kecil di meja dengan mengatakan kurang lebih seperti ini:

“Sayang… aku baru pulang dari pasar, ini aku bawa oleh-oleh kesukaanmu, ini ada klepon, dan ketan bubuk. Mas… maaf jadah  tidak ada, ini aku ganti dengan lemper ya; sedang untuk aku, aku beli lumpia mas. Mas ayo istirahat “dhisik” kita nikmati bareng ya mas, love you n miss you sayang.”

“Wow, luar biasa,” komentar saya.

“Wan, melihat itu aku sedih rasanya pengin menangis, dia pun begitu. Tetapi hal-hal kecil seperti itu menjadikan kerinduan yang luar biasa dalam hidup kami, sehingga kami sehingga cinta kami selalu berkobar-kobar.”
 
Kemudian dia menunjukkan Whatsapp istrinya yang menunjukkan foto isterinya mau ke kantor dan ada pesan:

“Mas, pakaianku dan dandananku bagus kan? Tidak menor?,” dan jawaban dari sahabat saya: “Baju bagus djeng, dandanannya natural, sederhana dan ayu.”

“Lho, sejak kapan kamu jadi stylist?,” komentarku sambil tersenyum.

“Bukan gitu juga Wan. Kami selalu saling meminta persetujuan, karena kami sadar setiap hal yang kami lakukan bukan menampilkan diri sendiri tetapi menampilkan diri kami. Maksud saya, kalau saya pergi meski sendiri, saya tidak sendiri tetapi juga membawa nama isteri demikian sebaliknya. Ini salah satu cara kami untuk menunjukkan hormat dan penghargaan kami satu sama lain,” jawabnya.
 
“Wan, hal yang paling sulit dan paling penting dalam hidup perkawinan menurut kami adalah menghormati. Seperti janji perkawinan yang kami ucapkan: ‘Aku berjanji untuk selalu setia mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku.’ Maka kami selalu memberi informasi, meminta persetujuan itu bentuk usaha kami untuk selalu saling menghormati dan menghargai,” tambahnya.
 
“Wan, satu hal yang selalu kami suka adalah kami selalu mengusahakan doa bareng. Kami doa malaikat Tuhan, doa Rosario dan doa malam bersama. Kami bergantian memimpin doa, aku mendoakan dia, dan dia mendoakan aku. Setelah doa malam, aku memberkati dia, dan setiap sebelum kami tidur saya akan mengatakan:

Djeng, aku sayang banget pada penjenengan.”

Dan dia juga akan mengatakan: “Mas, aku juga sayang banget dengan penjenengan.”

“Wan, kami tidak tahu apakah besok pagi kami masih bisa melihat matahari, maka seandainya kami dipanggil ada satu kalimat terakhir yang kami ucapkan atau kami dengar kalau kami saling menyayangi,” lanjutnya.
 
“Keren, keren, aku merinding lho dengan kemesraan kalian. Luar bias, terima kasih sharing-nya,” jawabku.
 
Hubungan cinta yang indah luar biasa hanya mungkin kalau ada sikap saling menghormati satu sama lain.

Sebagaimana dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, St. Paulus menggunakan hubungan cinta suami isteri yang indah luar biasa ini untuk menggambarkan hubungan Kristus dan Gereja-Nya: “Rahasia ini sungguh besar. Yang Kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
 
Bagaimana dalam keluargaku? Dengan cara apa aku menunjukkan dan menjaga cinta dan hormat?
 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here