Renungan Harian 29 Januari 2021: Warung Nasi

0
335 views
Ilustrasi -Banyak makanan. (Ist)


Bacaan I: Ibr. 10: 32-39
Injil: Mrk. 4: 26-34
 
BEBERAPA tahun lalu, dalam sebuah perjalanan, saya mampir ke sebuah warung nasi kecil dan sederhana untuk makan siang. Pilihan untuk makan siang di warung itu karena saya melihat banyak kendaraan yang parkir di situ.

Berdasarkan pemandangan itu, saya berpikir warung itu pasti enak.
 
Ketika saya masuk ke warung itu, orang-orang yang berada di situ sudah selesai dan mulai meninggalkan warung itu, karena memang waktu itu sudah lewat pukul 14.00.

Warung itu ternyata menyediakan masakan rumahan, jadi menarik bagi saya, meski warungnya kecil dan sederhana.
 
Sembari melayani pesanan saya, penjaga warung yang kemudian saya tahu pemiliknya bertanya: “Maaf, Mas itu romo atau bekas seminaris?”

Saya agak terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Saya romo. Lho kok ibu tahu kalau saya romo atau bekas seminari?,” jawabku sembari bertanya.

“Saya lihat kaos yang romo pakai itu kaos seminari, karena romo paroki saya juga pernah pakai kaos seperti itu.”
 
Sambil saya menikmati makan siang, kami bisa ngobrol karena memang tinggal saya sendiri saja yang ada di warung itu. Dalam obrolan itu, ibu pemilik warung itu bercerita bagaimana beliau memulai berjualan di warung itu.
 
“Romo, ketika saya baru menikah dua tahun, suami saya dipanggil Tuhan secara mendadak. Dia tidak pernah sakit, saat dia sedang minum kopi, tiba-tiba gelas kopinya jatuh dan ketika saya mendekat suami saya sudah tidak sadar dan menurut dokter, dia sudah meninggal saat itu.
 
Romo, dunia saya hancur dengan ditinggal suami. Memang banyak teman dan saudara-saudara yang menghibur dan menguatkan saya. Mereka selalu mengatakan, jangan khawatir, kami, saudara-saudaramu selalu ada untuk kamu. Tetapi kemudian setelah beberapa hari, semua saudara dan teman telah kembali ke kehidupannya masing-masing dan saya sendiri.
 
Saya selama ini tidak bekerja dan hidup dari gaji suami. Sekarang, saya tidak punya pegangan lagi. Amat berat dan sungguh-sungguh gelap hidup saya.

Saya tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup ini, sementara ada anak kami yang baru berumur 6 bulan. Tidak mungkin saya mengeluh dan minta bantuan saudara maupun teman-teman, mereka juga punya hidupnya sendiri.

Saat itu saya sungguh-sungguh merasa sendiri,  Tuhan pun rasanya terlalu jauh bagi saya bahkan saya sempat bertanya Tuhan itu sungguh-sungguh ada atau tidak.
 
Saya harus menjalani hidup saya, saya harus bangkit demi si kecil ini; walaupun sebenarnya saya bingung mau berbuat apa untuk mendapatkan penghasilan.

Saya mulai memasak, dan saya tawarkan ke tetangga- tetangga, karena itu satu-satunya kebisaan saya.

Masakan saya selalu habis dan beberapa tetangga pesan masakan saya setiap hari. Kalau bicara untung sebenarnya tidak seberapa, yang pasti saya bisa ikut makan dan beli kebutuhan si kecil.
 
Romo, syukur pada Allah, saya bisa menjalani hidup dengan menjual masakan ke tetangga hingga satu tahun.

Kemudian ada saudara jauh yang punya warung ini, menawarkan agar saya melanjutkan jualan di warung ini. Dan sejak saat itu saya mulai berjualan di sini.
 
Romo, kesulitan dan penderitaan bukan hanya soal bagaimana saya menghidupi diri sendiri dan si kecil, tetapi  godaan dan pandangan miring dari banyak orang lebih berat dan menyakitkan.

Banyak orang memandang saya sebagai janda dan buka warung nasi, semacam ini seolah-olah perempuan murah. Banyak laki-laki yang datang menawari untuk dijadikan simpanan, banyak yang menggoda untuk jadi perempuan murahan, dan itu terjadi hampir setiap hari. 

Belum lagi ada beberapa perempuan yang melabrak saya karena dikira menggoda suaminya.

Apa yang saya alami amat menyakitkan.
 
Romo, sering saya berpikir:

“Ya sudah saya terima aja jadi simpanan orang-orang yang mau menjamin hidup saya. Saya kerja keras, seperti ini toh, selalu mendapatkan perlakuan seperti itu.”

Tetapi saat pikiran datang seperti itu datang, saya ingat bahwa saya orang Katolik yang punya Tuhan.

Tetapi kok Tuhan seperti membiarkan saya mengalami seperti ini.
 
Romo, jalan hidup saya sungguh-sungguh berat selalu berada di persimpangan antara percaya pada Tuhan dengan akibat saya mengalami kepahitan dan lari dari Tuhan dengan segala kemudahan yang akan saya dapat.

Hampir tiap malam saya sulit tidur, pikiran saya penuh.

Syukur pada Allah romo, sampai sekarang saya masih memilih Tuhan dengan segala akibat yang saya alami, tetapi membuat saya lebih damai. Satu-satunya pegangan saya rosario ini, Romo; rosario yang saya terima sebagai bekal hidup dari orangtua saat kami menikah.
 
Saya tidak bisa berdoa, saya sudah lelah untuk mengeluh pada Tuhan, yang saya lakukan tiap kali saya berdoa rosario.

Maaf romo, mungkin saya salah, tetapi ini yang alami, rosario itu menjadi “jimat” saya menjalani hidup ini.

Dengan doa rosario membuat saya tidak kehilangan harapan dan tidak pernah takut untuk selalu memilih Tuhan,” ibu itu mengakhiri kisah pergulatan iman yang luar biasa.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada jemaat Ibrani: “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan akan binasa. Sebaliknya: kita orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.”
 
Bagaimana dengan aku? A

pa yang kupilih ketika aku dalam persimpangan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here