Renungan Harian 4 Desember 2020: Memijat

0
297 views
Ilustrasi - Memijat titik refleksi kaki. (Ist)


Bacaan I: Yes. 29: 17-24
Injil: Mat. 9: 27-31
 
SETIAP selesai Perayaan Ekaristi hari Minggu pagi, saya selalu menikmati pemandangan yang menarik bagi saya dan membuat saya selalu bahagia. Pemandangan itu adalah pasangan suami istri yang sudah cukup sepuh.

Pasangan itu selalu datang ke gereja naik becak. Setiap kali bapak itu turun selalu membantu istrinya turun; kemudian mereka bergandengan tangan, seolah bapak menuntun istrinya masuk ke gereja.

Demikian pula setelah perayaan ekaristi, bapak ibu itu akan bergandengan tangan menuju becak yang sudah menunggu.

Bapak akan membantu ibu naik, baru kemudian beliau naik.
 
Saya melihat kemesraan, dan cinta yang luar bisa yang dipancarkan pasangan yang sudah sepuh itu. Ketika putra-putri mereka sudah jauh dan mereka tinggal berdua, maka mereka saling menjaga dan menuntun satu sama lain.

Pemandangan yang luar bisa bagi saya, dan saya merasakan kebahagiaan melihat pasangan itu.
 
Suatu kali ketika beliau menyapa saya, saya mengatakan:

“Selalu sehat ya, bapak, ibu, supaya tetap awet bergandengan tangan.”

Bapak ibu itu tertawa.

“Terima kasih romo, doa dan berkat romo untuk kami biar sehat,” ibu itu menjawab.

“Baik, saya ikut berdoa. Bapak ibu juga berdoa untuk saya ya,” kata saya.

“Pasti romo, kami selalu berdoa untuk romo,” jawab ibu itu.
 
“Romo, sejak kami menikah, saya selalu berdoa agar bisa terus saling menemani dan menjaga, dan di saat tua nanti kami bisa menikmati usia senja kami berdua,” bapak itu menambahkan.

“Apa yang bapak selalu mohon dalam doa?,” tanya saya.

“Romo, saya itu bukan orang yang bisa berdoa. He…….he, saya tidak bisa membuat kata-kata indah. Jadi saya tidak tahu apakah doa saya ini benar atau tidak. Setiap kali saya mohon “Gusti keparenga kula tansah saged mijiti dlamakan sukunipun semah kula”.

Hanya itu romo yang setiap kali saya mohon,” bapak itu bercerita. (Tuhan perkenankan saya untuk selalu dapat memijat telapak kaki istri saya).
 
Saya tertawa terbahak mendengar cerita bapak itu tentang permohonannya. Bapak itu juga tertawa terkekeh-kekeh, sementar ibu hanya tersenyum malu.

“Lho memang kenapa? Ada apa dengan telapak kaki ibu?” tanyaku penasaran.

“Romo, ibu itu dari dulu susah untuk tidur, tidur paling hanya 2 sampai 3 jam saja. Sedangkan saya itu orang yang mudah tidur. Jadi setiap kali saya terbangun tengah malam atau dini hari, saya melihat istri belum tidur. Saya kasihan dengan istri.  Lalu suatu malam, saya pijat telapak kakinya, ibu rileks dan tertidur romo. Jadi sejak itu tiap malam sampai sekarang sudah tua ini, saya selalu memijat telapak kakinya sampai tertidur. Itulah romo mengapa doa saya seperti itu. Menurut saya yang bodoh ini, doa itu sudah komplit mewakili semua permohonan saya. Dan saya amat yakin Tuhan mendengarkan doa saya,” bapak itu menjelaskan.
 
Meskipun awalnya saya tertawa karena terdengar lucu, tetapi bagi saya doa itu adalah doa  yang luar biasa.

Doa amat sederhana yang didasari cinta yang mendalam pada pasangannya. Sebuah permohonan yang tidak terbayangkan dalam pikiran saya, amat sederhana tidak aneh-aneh, penuh iman dan cinta yang mendalam.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menegaskan bahwa doa yang disertai iman akan dikabulkan: “Terjadilah padamu menurut imanmu.”
 
Bagaimana dengan doaku?

Berpusat pada keindahan kata-kata atau berdasarkan iman dan cinta yang mendalam?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here