Renungan Harian 4 Maret 2021: Merana

0
932 views
Pohon meranggas simbol hidup merana. (Ist)


Bacaan I: Yer. 17: 5-10
Injil: Luk. 16: 19-31
 
KETIKA saya mengetuk rumah itu, tidak segera ada jawaban dari pemilik rumah. Setelah berkali-kali mengetok barulah ada jawaban dari dalam rumah, yang diikuti suara sandal diseret.

“Selamat sore, Pak,” sapaku ketika bapak itu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.
 
Bapak itu, berperawakan tinggi, kurus dan dari wajahnya nampak bahwa dirinya bukan orang sehat. Bapak itu tinggal sendirian di rumah itu.

Sore itu, saya mengunjungi bapak itu, karena bapak itu sudah lama sakit. Menurut beberapa umat yang mengenal beliau, beliau kesulitan untuk berobat; sementara beliau tinggal sendirian.
 
Dari cerita beberapa umat yang mengenal bapak itu, bapak itu dulunya orang yang berkelimpahan. Namun karena berkelimpahan itu, menjadikan dirinya seperti lupa diri.

Beliau tidak mau bergaul dengan tetangganya, memang dia hampir tidak pernah di rumah. Hal yang  memprihatinkan adalah meski dia berkelimpahan, akan tetapi beliau menelantarkan isteri dan anak-anaknya.
 
Dengan hartanya yang melimpah itu, ia meninggalkan isteri dan anak-anaknya hidup dengan perempuan lain, bahkan sering berganti-ganti.

Puncaknya bapak itu menceraikan isterinya dan pergi dengan perempuan lain.
 
Setelah usahanya bangkrut bapak itu kembali ke rumahnya dan tinggal sendirian, sementara isteri dan anak-anaknya sudah pindah ke kota lain. Tak berapa lama tinggal di rumahnya, rumah itu dijual dan bapak itu sekarang tinggal di rumah kontrakan yang disewakan oleh anaknya.
 
Dalam pembicaraan, ia mengeluh panjang lebar bahwa dirinya sekarang kesepian. Ia sedikit emosi ketika membicarakan anak-anaknya yang tidak pernah mau menengok dirinya.

Ia merindukan bertemu dengan anak-anak dan cucu-cucunya, tetapi tidak pernah terwujud. Ia juga mengeluh tentang tetangga-tetangganya yang acuh tak acuh dengan dirinya. Ia marah dengan beberapa teman dekatnya yang sekarang semua seolah tidak mengenal dirinya.
 
Sepulang dari rumah bapak itu, saya menghubungi salah satu anaknya dan menyampaikan kerinduan bapaknya. “

Romo, kami sebenarnya tidak keberatan untuk mengunjungi bapak, tetapi sikap bapak tidak menyenangkan. Setiap kali kami datang, bapak selalu marah-marah mengatakan kami anak durhaka, tidak berbakti kepada bapak.

Bapak akan memberi nasehat panjang lebar yang intinya harus berbakti pada orangtua. Bapak selalu menyalahkan orang lain yang tidak peduli dengan dirinya.

Bapak tidak pernah menyadari bahwa semua itu karena perbuatan dia. Bapak tidak sadar bahwa pada waktu beliau masih jaya, seolah-oleh semua bisa dibeli, sehingga tega mengusir kami dan ibu keluar dari rumah.

Bapa selalu meremehkan orang-orang di sekitar sini. Maka kami jadi malas untuk mengunjungi bapak, lebih baik kami tidak pernah bertemu dengan bapak dari pada bikin emosi,” kata anak itu.
 
Bapak tua itu sekarang menderita amat sangat karena kesepian yang berkepanjangan. Bapak itu menuai apa yang telah ditaburnya selama ini.

Saat sedang jaya dan hebat seolah-olah tidak membutuhkan orang lain, ia merasa dengan hartanya bisa mendapatkan segalanya.

Sekarang ketika masa jayanya sudah berakhir dia mengalami hidup yang kering dan tidak mempunyai daya apapun. Sebagaimana yang dikatakannya, ia merasa sudah mati meski kenyataannya masih hidup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Nabi Yeremia: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan.

Ia seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak mengalami datangnya hari baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asin yang tidak berpenduduk.”
 
Bagaimana dengan aku?

Siapa yang kuandalkan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here