Renungan Harian 5 Desember 2020: Curug

0
247 views
Ilustrasi - Air Terjun. (Ist)


Bacaan I: Yes. 30: 19-21. 23-26
Injil: Mat. 9: 35-10: 1. 6-8
 
PAGI itu, saya dan rekan-rekan muda di paroki mau pergi rekreasi ke curug (air terjun). Kami sepakat berangkat dari gereja, maka pagi itu pukul 06.00 sesuai kesepakatan kami berangkat.

Kami berangkat bersama menuju rumah salah seorang kenalan untuk menitipkan kendaraan, karena untuk sampai ke curug, kami masih harus berjalan kurang lebih 2 km.

Sesampai rumah yang kami tuju kami menitipkan kendaraan. Sebelum berangkat jalan kaki menuju curug, kami bertanya kepada tuan rumah, jalan yang harus kami lalui, karena tidak satu pun dari kami yang sudah pernah sampai ke curug itu.
 
Setelah mendapat petunjuk arah, kami bersama-sama berjalan kaki menyusuri pematang sawah. Setelah berjalan cukup jauh, kami belum menemukan tanda-tanda bahwa kami sudah dekat dengan curug.

Maka setiap kali kami bertemu dengan petani yang sedang bekerja, kami bertanya apakah jalan ini benar menuju ke curug dan apakah sudah dekat. Jawaban yang kami terima kurang lebih sama bahwa jalan ini benar menuju ke curug dan sudah dekat.
 
Namun setelah lebih 1 jam kami berjalan, kami mulai kelelahan, lebih-lebih cuaca mulai terasa panas karena matahari mulai meninggi. Kami sejenak beristirahat di bawah pohon besar yang bisa menaungi kami.

Kami semua mulai ragu dengan perjalanan ini.

Informasi yang kami terima perjalanan ini kurang lebih 2 km saja, namun sudah berjalan lebih dari 1 jam, kami belum menemukan curug yang kami tuju. Setiap orang yang kami tanya mengatakan jalan ini benar dan tidak jauh tetapi kenyataannya, sudah jauh kami berjalan belum sampai.

Beberapa mengusulkan agar kami pulang saja, khawatir kalau tersesat atau berjalan terlalu jauh. Beberapa dari kami mengatakan, kami harus terus berjalan, sayang kalau kembali karena kami sudah berjalan cukup jauh.

Beberapa dari kami mulai meragukan informasi yang kami terima dari orang-orang yang kami temui, sedang beberapa dari kami tetap yakin bahwa informasi yang kami terima adalah benar.

Setelah pembicaraan yang cukup alot, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
 
Kami melanjutkan perjalanan meski kegembiraan dan semangat di awal perjalanan mulai menghilang. Beberapa dari kami berjalan sambil menggerutu sementara teman-teman lain mencoba menghibur dan menyemangati.

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, sampailah kami di curug yang kami tuju.
 
Sesampai di tempat yang kami tuju, kami disuguhi pemandangan yang indah, luar biasa. Curug bertingkat dengan air jernih yang deras jatuh ke kolam yang ada di bawahnya.

Kolam yang tidak begitu luas dengan airnya yang jernih sehingga kami bisa melihat bebatuan di dasarnya. Sungguh-sungguh tempat yang tersembunyi jarang dikunjungi dan masih alami terjaga.

Kami semua bersorak senang, bahagia. Kelelahan, kemarahan, gerutu dan kesedihan sekejap hilang.

Kami segera menikmati dinginnya air yang terhampar. Tidak ada satupun dari kami yang masih ingat akan kesulitan kami, yang tertinggal adalah kebahagiaan luar biasa.
 
Kiranya sabda Tuhan sejauh terungkap dalam nubuat nabi Yesaya menegaskan  bahwa kalau manusia mau mendengarkan dan menuruti jalan-Nya, manusia akan sampai pada kebahagiaan sejati.

“Kalian akan terus melihat Dia dan entah kalian menyimpang ke kanan entah ke kiri, sabda-Nya ini akan kalian dengar dari belakangmu, inilah jalannya, ikutilah jalan ini.”

Meski jalan sulit, penuh penderitaan dan sering kali nampak tidak jelas namun bila setia dan tekun di jalan-Nya akan sampai pada kebahagiaan.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku akan setia di jalan-Nya?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here