Renungan Harian 6 Agustus 2020: Syukuran

0
549 views
Ilustrasi - Pesta dengan makan enak sesuai tatakan di meja by ist


Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Bacaan I: Dan. 7: 9-10.13-14
Injil: Mat. 17: 1-9
 
BEBERAPA waktu yang lalu, saya diundang pesta perayaan syukur sebuah keluarga. Perayaan syukur ini diadakan sebagai ungkapan syukur dan pujian pada Allah, karena keluarga merasakan berkat berlimpah dari Tuhan.

Bapak kepala rumah tangga sembuh dari penyakit yang sudah lama diderita, syukur atas rezeki yang melimpah. Meskipun bapak sakit, tetapi perusahaan tetap jalan dan memberi keuntungan yang luar biasa. Dan syukur, karena si bungsu telah menyelesaikan kuliahnya.
 
Perayaan syukur ini dibuat luar biasa. Banyak tamu yang datang, hidangan yang luar biasa dan hiburan yang keren. Menurut saya, pesta ini melebihi pesta perkawinan
 
Pada saat sambutan, tuan rumah menyampaikan alasan mengapa perayaan syukur ini dibuat. Bapak itu memberi kesaksian betapa Tuhan itu begitu luar biasa dan cinta-Nya kepada keluarganya sungguh luar biasa.

Bahkan menurut bapak itu, tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan lagi. selain syukur dan puji Tuhan.
 
Dua hari kemudian bapak itu datang ke pastoran menemui saya. Begitu bertemu, saya langsung memuji pesta syukur yang luar biasa dan kesaksian bapak yang luar biasa tentang kebaikan dan cinta Allah.

Namun apa yang saya katakan tidak mendapatkan tanggapan. Bapak itu wajahnya kelihatan sedih dan kusut.

Beliau mengatakan: “Romo, saya amat sedih dan marah.”

Saya kaget dan menyesal karena ketika bertemu langsung nyerocos memuji pestanya.

“Romo, saya marah dan kecewa dengan Tuhan. Kenapa Tuhan memperlakukan saya seperti ini. Baru saya bersyukur, kenapa saya sekarang seperti dibanting oleh Tuhan. Romo, semua tender saya kalah. Gak ada satu pun romo yang berhasil. Padahal saya mengikuti prosedur yang ada dan selama ini kami selalu melakukan dengan amat baik.
 
Saya kalah dengan pemain-pemain baru yang belum pengalaman di bidang ini, tetapi kuat bermain lewat pintu belakang. Kenapa kami yang bermain baik, lurus, ikut prosedur malah kalah. Kenapa Tuhan membiarkan yang menang justru mereka yang tidak ikut aturan. Saya merasa Tuhan tidak adil romo.”

Saya hanya diam mendengarkan bapak itu mengeluarkan kemarahannya.

Setelah tenang saya bertanya: “Waduh, kalau begitu bapak tidak ada projek sama sekali ya tahun ini?”

“Proyek masih banyak romo, cuma yang bikin saya marah karena tender-tender yang saya ikuti terakhir-terakhir ini kalah semua,” jawab bapak itu.

Saya bingung, mau bicara apa. Dalam hati saya bertanya: “Kemana pengalaman syukur dan kesaksiannya dua hari lalu?”
 
Pengalaman seperti bapak tadi sering dialami banyak orang. Ketika sedang bergembira, maka bersyukur dengan luar biasa, seolah-olah hanya dirinya yang paling beruntung mendapat kasih Allah.

Tetapi saat bersedih begitu terpukul seolah-olah dirinya orang yang paling menderita karena ditinggalkan Allah.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius, bukankah tiga orang murid perkenankan melihat kemuliaan Yesus untuk meneguhkan mereka? Agar ketika datang penderitaan datang mereka tidak tergoncang imannya?
 
Pengalaman bahagia dan syukur seharusnya menjadi sumber kekuatan disaat sedang menderita.

Menumbuhkan keyakinan bahwa penderitaan itu tidak hanya berakhir dengan penderitaan, karena Tuhan pasti memberikan jalan. Menjadi penegasan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita.
 
Maka pertanyaannya adalah kemana pengalaman syukurku di saat aku mengalami penderitaan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here