Renungan Harian: Khawatir

0
202 views
lustrasi -Bulir-bulir padi siap panen (Ist)


Minggu Prapaskah II
 
Bacaan I: Kej. 22: 1-2. 9a. 10-13. 15-18
Bacaan II: Rom. 8: 31b-34
Injil: Mrk. 9: 2-10

SENJA itu, sepulang dari sawah, saya dan bapak petani yang saya ikuti, ngobrol di balai-balai teras rumahnya.

“Frater, padi-padi di sawah tadi, sudah berisi semua dan “mentes-mentes” (bulirnya penuh dan bagus). Kalau tidak ada halangan musim tanam kali ini hasilnya bagus. Kalau benar, maka dari hasil panen nanti, kami bisa membayar hutang pupuk dan obat-obatan,” bapak itu bercerita dengan bahagia penuh harap.

“Amin, Pak, semoga nanti panennya bagus,” jawabku.
 
“Semoga hujan yang akan turun tidak terlalu deras dan tidak dengan angin. Di langit mendungnya sudah menggelayut mau tumpah,” bapak itu berharap.

“Kalau hujan bikin tanaman jadi busuk pak?,” tanyaku.

“Kalau hujan deras dengan angin, padi-padi itu bisa roboh dan gak bisa dipanen Frater,” jawab bapak itu.

Jawaban bapak itu membuatku ikut khawatir.
 
Saat kami berangkat tidur, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Beberapa kali terdengar bunyi petir yang menggelegar seperti bersaut-sautan.

Bapak itu membuka pintu dan melihat keluar. Saat pintu dibuka terdengar suara pepohonan yang bergoyang-goyang diterpa angin.

Aku ikut bangun dan menemani bapak itu di teras. Kami diam tidak bicara apa pun, tetapi saya melihat ada rona kekhawatiran di wajahnya.
 
Kira-kira pukul tiga dini hari saya dibangunkan diajak ke sawah untuk melihat tanaman padi yang sudah mulai berbulir.

Kekhawatiran bapak itu menjadi kenyataan. Sebagian besar dari tanaman padi itu roboh dan terendam air. Bapak itu mencangkul pematang sawah membuat jalan bagi air agar tidak menggenangi sawah.

Setelah selesai beliau mengajak saya pulang. “Frater, kita pulang dulu, nanti kita babat padi-padi yang roboh,” kata bapak itu.

“Wah, sayang tinggal menunggu panen tetapi banyak yang roboh,” kata saya menanggapi.

“Tidak apa-apa frater, nanti bisa untuk makanan sapi, sehingga untuk beberapa hari tidak perlu “ngarit” (mencari rumput),” jawab bapak itu.
 
Sore hari, setelah seharian babat tanaman padi yang roboh, kami duduk di balai-balai teras rumah.

“Wah Pak, kali ini gagal panen. Bagaimana dengan hutang pupuk dan obat-obatan?,” tanyaku.

“Yaaa itulah frater, sering kita itu berangan-angan semua akan baik dan luar biasa, tetapi pada saatnya tidak seperti yang diharapkan. Kalau dibilang cemas dan khawatir bagaimana nanti, pasti cemas dan khawatir itu ada.

Tetapi dalam situasi seperti ini cemas dan khawatir tidak perlu, “Gusti ora sare” Gusti Allah pasti mencukupkan.

Kenyataannya bapak sekeluarga sampai sekarang tetap bisa hidup meski tidak berlebihan. Setiap musim tanam masih selalu bertanam; hutang sering nunggak tetapi pelan-pelan terbayar.

Pengalaman mendidik saya untuk semakin pasrah, tidak hidup dengan kecemasan dan kekhawatiran,” bapak itu menjelaskan.
 
“Wow, iman yang luar biasa,” batinku.

Aku merasakan betapa pengalaman jatuh-bangun bapak itu mendidiknya untuk mempunyai iman yang luar biasa.

Sebagaimana yang sering dikatakan dalam pembicaraan: “Segala sesuatu yang baik itu harus melalui proses, bukan tiba-tiba. Seperti kata orang-orang tua dulu, “ngelmu itu kelakoni kanthi laku” (Ilmu itu diperoleh dengan perjuangan).

Saya disebut petani, karena setiap hari bergumul dengan tanah dan senjatanya pacul.”

Dengan ceritanya, saya mengerti bahwa pengalaman hidup mendidiknya untuk bisa pasrah dan mempunyai iman yang besar.

Iman bertumbuh dalam pergulatan hidupnya.
 
Sebagaimana pengalaman Abraham sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian.

Abraham dengan rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, yang telah ditunggu begitu lama karena pengalaman hubungan dengan Tuhan, telah mendidiknya menjadi pasrah penuh pada Tuhan.

“Kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah imanku bertumbuh dalam pergulatan hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here