Renungan – Menggapai Surga

0
163 views
Ilustrasi: Dunia kerja sering membuat kita pusing tujuh keliling. (Ilustrasi/Ist)

Senin,  17 Mei 2021

Bacaan:

  • Kis 19: 1-8.
  • Yoh. 16: 29-33.

SEGALA sesuatu akan menjadi indah, mulia dan abadi, bila terarah dan terkait pada kebenaran. Firman-Nya adalah kebenaran.

Luka dan derita, kepedihan dan kesengsaraan sementara di dunia ini akan menjadi pelangi kehidupan, bila kasih menjadi dasarnya.

Seandainya pun tetap ada duka dan kegagalan bahkan kekeliruan, tetaplah mencari nama-Nya, tinggal dalam sabda-Nya, berserah pada kehendak-Nya.

Yesus berkata, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu boleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” ay 33.

Derita batin menggapai surga

“Mo, apa salahku? Apa dosaku ya? Kok hidupku pilu. Anak-anak tidak bisa diatur; maunya hanya uang, uang, uang dan uang. Selalu membantah apa yang saya katakan dan rencanakan. Pedih hati Mo. Aku hanya bertahan untuk hanya sampai membesarkan anak-anak,” kata seorang ibu dengan mata sembab.

“Anak-anak memang sudah berkeluarga. Tetap saja, saya masih direpotkan,” sambungnya lagi.

“Kadang putus asa; tidak tahu lagi apa yang harus dibuat. Saya mendidik mereka sendiri; menyiapkan semua hal; untuk anak-anak, untuk keluarga. Semakin besar rasanya semakin mereka tidak tahu diri. Saya seperti pembantu mereka,” keluhnya lagi.

“Masalahnya opo to?,” kataku.

“Begini Romo. Saya single mother. Anak pertama laki-laki. Menikah. Ia memperhitungkan semua kekayaan keluarga, meminta bagiannya. Ia ingin pergi berusaha sendiri. Ia ngotot. Yo wislah darpada ribut. Saya tidak mau bertengkar,” begitu kisahnya.

“Kan saya berhak,” katanya menirukan suara anak lelakinya dengan nada agak memaksa.

“Ia telah memberi saya cucu tiga. Jarang memberi kabar. Terhadap adik-adiknya, ia suka hitung-hitungan. Saya tidak suka dengan menantu. Sikapnya mau menguasai anak saya. Saya merasa dijauhkan,” ungkapnya lagi.

“Namun saya tetap berdoa untuk keluarga anakku

Yang anak kedua perempuan. Tidak meminta warisan, tetapi ingin sekolah di luar negeri sampai selesai. Cukup bahagia dengan keluarganya di luar negeri. Jarang mengunjungi saya,” tambah ibu itu.

“Yang kecil ini Romo, yang sekarang menjadi focus keprihatinan. Ia sudah menikah, tapi keluarganya hancur; pisah dan sekarang tidak tahu kemana. Anak-anaknya lalu dititipkan ke saya. Isterinya sudah kawin lagi. Tidak mau tahu soal anaknya. Dia ingin bebas dan memutuskan tali kekeluargaan,” sambungnya.

“Memang, anak yang bungsu ini agak nakal. Sejak kecil, saya lebih memanjakannya. Semua keinginannya saya turuti. Saat SMA terjadi perubahan yang mengecewakan.  Maried by accident. Tidak mau diatur. Tidak mau dinasihati. Sesukanya aja. Saya sedikit membiarkan kalau dia melakukan hal yang bodoh. Saya lebih membenarkan dia bila bertengkar dengan kakak-kakaknya,” kisahnya.

“Saya baru menjadi Katolik, ketika SMP. Saya menjalani masa-masa indah, bahagia dengan suami. Ketika ia meninggal, semua jadi berantakan. Saya hidup sendiri bersama dua cucu dari anak si bungsu,” paparnya lagi.

“Ibu masih bisa berdoa dan bersyukur?,” tanyaku.

“Saya hanya bisa menangis dalam doa,” jawab ibu itu.

“Apa Ibu masih percaya, Tuhan itu baik?,” kataku kemudian.

“Kadang. Tetapi saya tetap mengasuh cucu. Saya merasa dipercaya untuk membesarkan. Anak-anak jarang pulang. Pulang kalau membutuhkan sesuatu. Kerinduan untuk berjumpa ibunya pun kurang,” begitu jawabnya.

“Apakah Ibu masih berbahagia melihat mereka?,” tanyaku lagi.

Di dunia ini kasih hanya dilihat dan sebatas emosi sesaat.

Yesus mengajarkan kasih sejati. Kasih yang terbuka dan mengarah pada yang dikasihi; membangun kehidupan dan kebaikan bersama.

Tuhan, bimbinglah kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here