Renungan – Pejuang Kemanusiaan

0
113 views
Ilustrasi - Para nakes mengenakan APD guna mencegah dirinya kena tertular Covid-19. (Ist)

Renungan Harian
Selasa, 18 Mei 2021
Bacaan I: Kis. 20: 17-20
Injil: Yoh. 17: 1-11a
 
BEBERAPA waktu yang lalu saya mendapat pinjaman sebuah buku fotografi berjudul Pandemi karya J. Teguh Widjaja, seorang dokter spesialis paru.

Dalam buku itu menampilkan karya foto beliau tentang para tenaga medis yang berkarya dalam situasi pandemi covid 19.
 
Menikmati foto-foto dalam buku itu, saya  tidak melihat keindahan foto atau teknik fotografi. Tetapi saya melihat sebuah perjuangan para tenaga medis yang berjuang untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

Mereka yang telah bersumpah untuk menyelamatkan sejak awal mula kehidupan, sekarang berhadapan dengan begitu banyak orang yang berada pada situasi terminal.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada awal-awal pandemi, berita kematian korban virus Covid-19 begitu banyak. Sehingga seolah mereka yang terpapar Covid-19 identik dengan orang yang menjemput kematian.
 
Menikmati foto-foto itu anganku melayang pada berita dan kisah tenaga medis yang harus mengorbankan nyawanya untuk melayani para pasien yang terpapar virus Covid-19.

Ada kengerian yang luar bisa muncul dalam diriku. Mereka berjuang di garis depan, garis paling dekat dengan situasi pandemi Covid-19. Mereka berjuang dan di “lempar” dari batas kenyamanan dan rasa aman mereka.

Mereka bukan hanya berjuang untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Tetapi mereka juga berjuang mengalahkan rasa takut dan rasa aman serta nyaman bagi hidup mereka sendiri.
 
Menikmati foto-foto para tenaga medis dengan pakaian khususnya, aku melihat kerelaan mereka untuk berjuang mengalahkan rasa tidak enak, tidak nyaman bahkan derita karena pakaian khusus itu.

Aku terbayang ketika melayani Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk pasien covid dan harus mengenakan pakaian khusus itu.

Meski hanya sebentar kurang dari 1 jam, saya sudah merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa.

Gerak terbatas, rasa panas dan gerah, rasa pengap sehingga bernapas lebih berat, dan segala ketidaknyamanan memakai pakaian itu.

Dan mereka mengenakan tiap hari berjam-jam.
 
Menikmati buku itu aku menikmati sebuah kisah heroik pejuang-pejuang kehidupan. Mereka berani mengalahkan diri dan hidup mereka demi kehidupan orang lain.

Mereka berani mengalami dan menikmati penderitaan demi sebuah pelayanan yang paripurna. Mereka berjuang mengalahkan rasa rindu dan kekhawatiran akan keluarga mereka. Kebahagiaan mereka adalah keselamatan sesamanya.

Karya kemanusiaan yang luar biasa, karya kasih yang amat dalam.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Paulus dalam Kisah Rasul: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku telah berjuang untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadaku?
 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here