Reva Hanya Berhutang Hidup kepada Tuhan

0
89 views
Ilustrasi - Mengerjakan segala sesuatu dengan senang hati sebagai ungkapan syukur by ist

REVA sudah bisa membungkam adik dan iparnya yang merecoki kekayaannya. Keempat keponakannya sudah disiapkan masing-masing deposito Rp 250 juta yang akan diberikan, ketika mereka masing-masing masuk perguruan tinggi.

Namun bunganya dimasukkan ke dalam tabungan atas nama mereka masing-masing dengan qq Reva Riana. Sehingga orangtuanya tak akan bisa mengambilnya. Setiap bulan ada bunga sekitar 1.600.000,00.

Biar diketahui oleh mereka bahwa budhe-nya memberi uang saku yang sudah cukup banyak untuk anak-anak yang masih berada di SD dan SMP. Mereka anak-anak yang layak diberi oleh budhe-nya.

Reva ingat pada masa kanaknya. Saudara dan sepupu  selalu mengerubuti Simbah, Pakdhe, atau Oom yang berkunjung minta sangu, minta angpau, Reva tak pernah melakukannya. Ia mengamati Oom yang begitu royal membagi pitrah pada hari raya.

Hal itu membuat Reva berkhayal. Ia ingin bisa seperti Oom Pribadi, adik bapaknya. Dengan memberi ada kepuasan tersendiri. Bila belum bisa memberi, paling tidak jangan meminta. Prinsip hidup itu tetap dipegang teguh sampai sekarang dan Reva sudah bisa mewujudkan impiannya itu.

Saat ini, ia bisa memberi kepada siapa saja dalam bentuk apa saja.

Keputusan menyisihkan uang untuk keempat keponakannya itu sudah dikonsultasikan kepada Pak Amran. Kakek tua yang semakin sehat karena beban mengelola usahanya sudah didelegasikan kepada orang-orang kepercayaannya itu, menyetujui keputusan Reva.

“Benar Kau Nak, orangtua mereka biar bertanggungjawab atas hidup keluarganya, bantulah anak-anak, tetapi jangan manjakan dia. Buat perjanjian dan suruh mereka membuat pertanggungjawaban keuangan kepadamu setiap dua atau tiga bulan. Menjadikan mereka anak mandiri, bertanggungjawab, dan bermartabat tugasmu juga sebagai budhe-nya.” papar Pak Amran.

***

Beban yang masih terasa mengganggu Reva adalah buliknya. Bulik Suriantanti agak sulit dikendalikan seperti adik-adiknya, ia juga agak segan terhadap orang tua itu. Reva sedang mencari momen yang tepat untuk berbicara kepada bulik-nya itu.

Kesempatan itu akhirnya tiba, yaitu peringatan 1.000 hari meninggalnya ibunya. Misa diselenggarakan di rumah Reno sebagai anak lelaki tertua. Semua biaya ditanggung Reva. Konsumsi diurus oleh isteri Reno.

Timlo dimasak secara istimewa dan khas oleh Melania Catering dan kue bluder khusus disediakan oleh Reva, sedangkan suvenir berupa buku doa, rosario, dan payung diurus Sandrina, isteri Heru.

Hal itu sudah dibicarakan bersama Reno, Heru, dan Heri. Deniya yang mengomel di belakang Reva tak digubrisnya.

***

Misa terselenggara dengan lancar dan khusuk. Ada tangis dari bulik dalam rangkulan Deniya, tangis itu semakin keras ketika semua tamu sudah pulang. Reva mendekati bulik-nya.

“Reva, kamu itu keponakan yang paling tidak bisa membalas budi, kamu berutang hidup pada Bulik,” Teriak bulik dis ela tangisnya.

Reva mengamati mata dan hidung bulik-nya yang tak memerah sama sekali.

Sebagai seorang perawat yang sering menghadapi orang menangis, baik tangis duka maupun bahagia, ia bisa menengarai tangis beneran atau pura-pura. Reva yakin tangis bulik-nya adalah tangis pura-pura, tangis sandiwara, dan hal itu tidak bisa membuat hati Reva gogloh, jatuh kasihan. Tidak.

Reva duduk di kursi di depan bulik-nya, Melania dan Sandrina mendampinginya dan ketiga adiknya berdiri di belakang Reva. Bulik-nya mendongak, matanya terbelalak melihat ada enam orang di hadapannya. Dia hanya bersama dengan Deniya.

Reno sudah mengusir anak-anak untuk menyingkir. Pintu ruang tengah ditutup. Udara ruangan itu terasa panas membuat gerah, terutama bulik dan Deniya yang ada di hadapan Reva.

Reva mulai bicara.

Bulik, saya menghormati Bulik sebagai orang tua. Saya berterima kasih Bulik telah mengurus saya ketika bayi, tetapi saya tidak berutang kepada Bulik. Saya hanya berutang hidup kepada Tuhan, camkan itu. Jasa itu tidak digembar-gemborkan dan mengharap balas. Kalau saya berutang hidup kepada Bulik, Bulik juga berutang hidup kepada ibu, karena saat itu Bulik hidup atas tanggungan ibu.”

Reva berhenti untuk bernapas.

”Kebetulan bicara tentang hitung-hitungan utang, kami  menanyakan rumah kami yang Bulik alihkan menjadi milik suami bulik.” Reva menandaskan.

”Dasar anak durhaka. Kalau tahu seperti ini sikapmu, tak pithes kamu saat bayi dulu,” teriaknya sambil berdiri dan menuding-nuding Reva.

Reva tak gentar, ia pun berdiri sambil menatap bulik-nya, kedua iparnya juga ikut berdiri.

”Kalian berenam mau mengeroyok Bulik?,” teriak bulik keras, walaupun tidak sekeras tadi, ada getar gentar dari suaranya melihat kami berenam kompak.

Dengan pelan Deniya meninggalkan bulik dengan alasan mau ke kamar kecil. Dia pikir dengan bersekutu dengan bulik, ia bisa menekan Reva. Ia salah besar. Sadar akan kesalahannya baru saja diwujudkan dengan melarikan diri ke belakang.

Bulik, kami berempat sudah dewasa dan tahu hukum. Mari kita bicara sebagai orang dewasa. Mari kita hitung utang piutang di antara kita, kalau itu bisa membuat jasa Bulik terhadap kami terbayar,” jelas Reva dengan tegas.

Bulik terdiam. Dia kehabisan kata-kata. Dia sendirian.

Reno menambahkan, “Bulik, kami juga berterima kasih waktu kecil pernah Bulik asuh.”

“Kami juga.” Heru dan Heri hampir berbarengan.

Bulik-nya bingung dan kembali duduk. Ia salah tingkah. Deniya yang tadi mendukungnya telah ngibrit pergi entah ke mana.

Bulik-nya benar-benar sendirian.

”Baiklah. Bulik minta maaf. Tolong jangan tuntut dan ambil rumah kami, kasihan Oommu yang sudah tua harus menanggung malu terusir dari rumah yang selama ini kami tempati.”

”Apakah Bulik ingat telah mengusir kami malam-malam di tengah hujan dari rumah kami?,” teriak Heri.

Kenangan masa lalu itu tentu sungguh pahit dan traumatis bagi dia yang saat itu baru berumur sembilan tahunan.

”Tapi Bulik harus tahu, bahwa kami punya bukti bahwa Bulik dan Oom telah memalsukan data kepemilikan rumah kami,” Reno dengan meyakinkan membuat bulik semakin  memucat dan terpojok.

***

Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Reva, ia tidur di lantai dikelilingi ketiga adiknya.

Sebelumnya mereka berempat menikmati sega kucing dan sate kere yang dibelinya di tempat wedangan yang pada masa lalu merupakan makanan ternikmat yang tak bisa mereka rasakan setiap saat.

Karak dan intip yang seplastik sekarang berharga tiga ribu rupiah itu terasa sangat renyah. Senyum dan tangis berkelindan mengingat nostalgia masa kecil mereka. Ketiga adik ipar dan para anak mereka merelakan suami atau ayah mereka memanjakan Reva.

Pagi-pagi buta, mereka bangun hampir bersamaan dan cepat-cepat pergi mengikuti misa harian pagi, seperti yang pernah mereka lakukan dulu sekali. Mereka berjalan berurutan seperti melewati pematang.

Dan Reva selalu berjalan paling belakang dengan keponthal-ponthal mengikuti langkah ketiga adiknya.

Pagi ini pun Reva juga tetap keponthal-ponthal juga.

Selesai misa Reva secara khusus dan khusuk berdoa dengan bersujud di hadapan Bunda Maria. Reva mengakhiri doanya dengan:

”Ya, Bunda, izinkan aku meneladan Engkau. Menjadi ibu dan pelindung bagi adik-adikku. Bantulah kami agar tetap rukun dan damai, tidak lekat, terikat, dan terpikat pada harta duniawi, melainkan selalu mengusahakan harta surgawi. Amin.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here