Reva Menghibur Anak-anak yang Menangisi Ibunya

0
109 views
Ilustrasi: Imam memberi Sakramen Perminyakan Orang Sakit. (Adhika Rahardyanto)

REVA bernazar untuk mengampuni sesama yang bersalah kepadanya. Khususnya keluarganya pada Paskah tahun ini.

Diawali dengan mengikuti Misa Rabu Abu, ada tanda salib dari debu di dahi. Sebagai bentuk konkret penyadaran bahwa hanya debulah manusia di hadapan Allah dan akan kembali menjadi debu yang dikubur di tanah di kala mati, sehingga tak layak untuk sombong, pongah, dan jemawa.

Masa Prapaska adalah masa yang disediakan Gereja untuk berefleksi lewat berdoa, berpuasa, berpantang, bermati raga, dan berbagi kepada sesama dengan aksi puasa pembangunan (APP).

Umat berbelarasa dengan penderitaan Kristus di salib sebagai silih atas dosa manusia. Memanggul salib adalah inti iman Kristiani, bukan gebyar Natal dengan pesta pora.

Selain, Hanya Debulah Aku, lagu dalam buku Puji Syukur nomor 490 yakni Dulu Yesus Berpuasa selalu menandai Masa Prapaska.

Reva selalu berhenti bernyanyi saat setan berkata ”Bila Kau Putera Illahi, batu ini jadikanlah roti”, ”Kuberikan bagi Dikau, asal Tuan mau menyembahku”, dan ”Jatuhkanlah diri Anda, dan malaikat-Mu akan menjaga”.  

Reva punya argumentasi yang kuat, dia tidak mau menyanyikannya karena dia bukan setan.

***

Setelah sembuh dengan perawatan intensif dan pendampingan berkala oleh Reva dan Pak Amran, Ibu Suriantini tidak mau diajak pulang ke Kalimantan, karena trauma atas perlakuan ibu mertuanya.

Ia juga tidak mungkin ikut salah satu anaknya, yang memang tidak pernah diasuhnya sama sekali. Tiada ikatan emosional yang positif terhadap para anak-anaknya. Perasaan anak-anaknya juga tawar.

Reva pun tidak mungkin mengajak ibunya tinggal bersamanya. Ibu Suriantini memilih tinggal di panti sosial Bhakti Luhur di Wisma Tropodo Sidoarjo. Ia memutuskan untuk membaktikan masa tuanya di panti tersebut. Walaupun terpaku di kursi roda, karena dampak kecelakaan saat itu kakinya tidak bisa pulih, bahkan menjadi layu, seperti polio, namun jiwanya pulih.

Tangannya begitu cekatan terutama bila sudah berkiprah di dapur. Bermula sebagai penghuni panti yang dilayani, akhirnya ia melayani dengan bekerja sebagai kepala dapur dan mengurusi makan bagi dua ratusan penghuni panti dan sebagian besar adalah anak-anak berkebutuhan khusus atau berkelainan.

Memasak memang passion-nya.

Pengabdian Ibu Suriantini tersebut dilakukan sebagai sulih atas dosanya terhadap salah satu puetrinya yang pernah diserahkan di panti tersebut karena berkelainan dan sekarang telah tiada.

Ternyata tingkah laku ibunya yang negatif seperti tumbu oleh tutup dengan suaminya yang hidupnya bubrah menghasilkan anak yang bermasalah. Kasihan anak yang tak bersalah tersebut harus menanggung kesalahan orangtuanya.

Ia bisa bertahan hidup 17 tahun dan dikuburkan tanpa pendampingan orang tua, saudara, dan kerabat.

***

Menjadi peduli dan empati terhadap anak berkebutuhan khusus dan orang-orang terlantar dan terbuang memang tidak mudah. Ada talenta istimewa yang telah dikumpulkan oleh almarhum Romo Prof. Dr. Paul H. Janssen CM bersama dengan komunitas Suster-suster Alma.

Karyanya diawali di Madiun kemudian memindahkan pusat kegiatan sosial dan kemanusiaannya di Lowokwaru. Malang.

Kecurigaan masyarakat dengan isu Kristenisasi sering dihembuskan, sehingga menghambat karya kemanusiaan Romo Janssen. Namun hal itu tidak menyurutkan usahanya. Romo Janssen sungguh malaikat bagi orang terlantar dan anak berkebutuhan khusus.

Bhakti Luhur telah dengan begitu luhur, memanusiakan manusia yang terbuang, termasuk salah satunya di Sidoarjo yang sekarang ditinggali oleh Ibu Suriantini.

***

Pagi ini, Reva mengunjungi Suster Rita, sebelum mengusik kegiatan ibunya di dapur. Suster sepuh itu telah lama mengenal Reva, terutama saat masih berkarya di Panti Asuhan Bhaktu Luhur di Madiun.

“Ada apa Reva?,” tanya Suster Rita setelah mereka duduk berdampingan di kursi tamu ruang pimpinan panti.

“Apakah saya boleh bertanya?,” pelan dan ragu Reva mengajukan pertanyaan.

“Jangan sungkan, bertanya tentang apa?,” senyum merekah Suster Rita menunjukkan keterbukaannya.

“Saya ragu-ragu, namun membutuhkan konfirmasi Suster,” jawab Reva masih dengan keraguan.

“Tentang apa Reva?,” Suster Rita tampak penasaran.

“Apakah Anita Wilda yang meninggal setelah bertemu dengan saya beberapa waktu lalu adalah puteri Bu Suriantini?,” selidik Reva.

“Ingatlah. Apakah ada getar khusus yang kau rasakan saat memeluk dan menyuapi anak remaja yang tak bisa apa-apa itu?,” tanya Suster Rita.

“Sorot mata yang berbinar ketika menatap saya dan gelak pelan yang saya dengar itu selalu membayangi dan bergaung di telinga saya Suster, terutama setelah ibu bercerita bahwa salah satu putrinya pernah tinggal di sini dan telah meninggal, dan saya menduga dia adik bungsu saya, walaupun beda ayah.”

“Orang Jawa sering menyebut sedulur asu, walaupun yang benar adalah saudara sesusu. Kelihatannya kami berdua tidak pernah disusui oleh Ibu Suriantini,” papar Reva yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Suster Rita.

Lama Suster Rita memandangi Reva.

“Hatimu begitu bening dan tulus Reva. Anita meninggal dengan senyum yang tak pernah lepas sejak bertemu denganmu. Walaupun fisik dan psikisnya berkelainan, tetapi hati dan jiwanya bersih milik Allah. Ia merasakan adanya ikatan darah di antara kalian. Dia memang adikmu.”

”Saat Anita meninggal dalam kondisi penuh kebahagiaan, pernah kami diskusikan. Kami kesulitan mengaitkan hubungan kalian. Tetapi ketika Bu Suriantini menceritakan perjalannan hidupnya, kami yakin bahwa kalian bersaudara dan kamu telah mengantarkan kepergian adikmu dengan penuh kebahagiaan.”

“Sentuhan kasih seorang kakak dibawanya bersama para malaikat menghadap Tuhan. Itu sungguh peristiwa yang sangat mengharukan,” jelas Suster Rita sambil menggenggam erat tangan Reva.

Reva unjal ambegan landhung, menarik napas penuh kelegaan.

Begitu selesai, terjadi keributan dengan teriakan “Kebakaran… Kebakaran…”

Mereka berdua lari keluar mendapati dapur menyala dan terlihat beberapa orang menggotong korban kebakaran, salah satunya Ibu Suriantini.

***

Di ruang perawatan khusus, Bu Suriantini tertidur dengan kondisi badan 80% terbakar. Sudah dua pekan, dia menderita kesakitan.

Melalui pihak Panti, Reva dan saudara-saudaranya hari ini diminta datang. Reva sudah siap menunggu dijemput adik-adiknya. Ketiga adiknya bersama para isterinya serta bulik sudah meluncur dua jam lalu, sebentar lagi pasti tiba.

Ada getar tak nyaman juga. Sudah lama tak bersua. Bahkan dengan para ipar pun ia kurang srawung.

Ketidaknyamanan selama perjalanan ditutupi Reva dengan berdoa. Mohon perlindungan Tuhan agar perjalanan mereka selamat dan dapat bertemu ibu dengan kondisi yang baik juga.

Untung ada jalan tol yang membuat perjalanan bisa singkat, waktu bisa dilipat dan dihemat hampir setengahnya.

Dengan bergegas mereka menuju kamar perawatan khusus. Ternyata kosong. Dengan bergegas Reva bertanya dan mendapat jawaban bahwa sejak semalam Ibu Suriantini ada di ruang ICU.

Mereka bergegas ke sana. Reva mendahului diikuti bulik dan adik-adiknya.

Sesampai di ruang ICU mereka diizinkan berbareng masuk dengan mengenakan baju khusus dan melepas sepatu. Ada remasan di pundak kanan kiri Reva. Bulik dan adiknya merasa takut memasuki ruangan yang berbau kematian.

Mereka memang belum berpengalaman menghadapi dan melihat malaikat penjemput jiwa  melaksanakan tugasnya. 

Begitu melihat sesosok tubuh terbebat perban seperti mummy, isak mereka pecah.

Mummy itu menggumam, Reva mendekat. ”Mana adikmu satunya?,” tanya pelan Bu Suriantini dari balik wajah yang tertutup perban, kecuali kedua mata dan mulutnya.

“Dia bukan cucu kakekmu,” tambahnya.

Reva tidak bisa menjawab.

“Sampaikan maafku untuk adikmu bila kau bisa menemukannya. Maafkan ibu yang tak layak disebut Ibu. Penebusan di panti yang ibu lakukan belum tuntas tapi sudah sampai bataaas,” desahnya semakin pelan dan akhirnya menghilang.

Ada senyum menghias di wajah penuh luka bakar itu. Ia telah berpulang. Semua yang hadir berteriak dan menangis, kecuali Reva.

“Jangan menangis. Ibu telah berpulang dengan damai. Mari kita antar sampai ke peristirahatannya yang terakhir.”

Reva menghibur dan mengajak semua saudaranya mengurus pemakaman ibunya.

Di panti, sore itu ada misa requiem untuk mengantar kepergian Ibu Suriantini dilanjutkan pemakaman di samping makam mungil Anita Wilda. Dan keluarga Reva baru tahu ada adik mereka yang lain yang dikubur di situ.

Tangis mereka pun kembali pecah dan Reva hanya bisa memeluk mereka untuk meredakan tangisnya. Semuanya tak bisa kembali dengan tangisan mereka. 

”Perjalanan hidup ibu  memang sudah menjadi sebuah kisah dan sejarah yang tidak bisa ditolak dan diubah, hanya bisa diterima dan diambil hikmahnya. Semoga kisah kelam Ibu Suriantini tidak terulang dan beliau bisa damai dalam istirahat abadinya.” bisik Reva dalam doanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here