Riko Stefanus: Sambil Jualan Pempek, Membangun Asa di Objek Wisata Bahari Teluk Kiluan, Lampung (2)

0
436 views
ilustrasi: Menikmati beningnya perairan di kawasan wisata bahari perairan Teluk Kiluan, Lampung. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

NGOMONGIN Teluk Kiluan di perairan Tanggamus, Lampung, dan konservasi lumba-lumba, maka hal itu tak bisa dilepaskan dari sosok Riko Stefanus.

Ia adalah orang yang pertama kali memberi perhatian pada Kawasan Teluk Kiluan, jauh sebelum banyak orang mengenal nama dan potensi wisata di daerah ini. Kecintaannya pada tempat ini berawal dari perjumpaan dengan Lina, seorang warga Teluk Kiluan yang dia jumpai di tempatnya bekerja di Bandar Lampung.

Sejak tahun 2003

Mendengar cerita tentang Teluk Kiluan, Riko yang memiliki hobi memancing itu tertarik untuk datang ke tempat itu.

Ia jatuh cinta pada Teluk Kiluan sejak kunjungan pertamanya ke tempat ini pada tahun 2003. Sejak itu, Riko Stefanus yang saat itu bekerja sebagai penjual pempek, salah satu makanan khas Palembang di Bandar Lampung semakin sering berkunjung ke tempat ini.

Saat itu, akses jalan menuju tempat ini masih sulit. Dari desa terakhir, yaitu Desa Bawang orang masih harus berjalan kaki selama hampir tiga jam melewati jalanan perbukitan yang menanjak, licin dan terjal.

Jika ditotal maka pada saat itu untuk mencapai Teluk Kiluan Riko harus menempuh sekitar 6 jam perjalanan dari Bandar Lampung.

Riko Stefanus, semula hanyalah seorang pedagang pempek dan kemudian beralih profesi menjadi seorang perintis dan penggiat wisata bahari Teluk Kiluan, Tanggamus, Lampung. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Seiring dengan berjalannya waktu, melalui aneka perjumpaan dan setelah melihat kondisi yang ada di sekitar Teluk Kiluan, Riko mulai menangkap permasalahan serta potensi yang dapat dikembangkan bersama masyarakat setempat.

Sampai saat ini, suami Stella Emilia ini memiliki keyakinan bahwa kehadirannya di Teluk Kiluan merupakan rencana Tuhan sendiri yang menggerakkannya untuk pergi ke tempat ini setelah sebelumnya ia menyelesaikan salah satu sesi retret di Lembah Karmel di Cikanyere, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tahun 2003 lalu.

Dihuni 200 KK

Saat ini, di Teluk Kiluan ada lebih 200 kepala keluarga (KK) mendiami pesisir pantai dengan pekerjaan utama sebagai nelayan dan petani pekebun. Hasil laut perairan Teluk Kiluan yang melimpah menjadi berkat tersendiri bagi warga setempat.

Persoalan utama yang dihadapi di Teluk Kiluan saat itu dan telah berlangsung lama adalah illegal fishing dalam bentuk perburuan lumba-lumba.

Para pemburu liar yang datang dari beberapa daerah di Pulau Jawa itu menggunakan potongan-potongan daging lumba-lumba hasil tangkapan mereka sebagai umpan yang biasanya dikaitkan pada ratusan mata pancing untuk memancing ikan hiu di sekitar Selat Sunda.

Sirip Hiu memiliki nilai jual tinggi yaitu sebagai bahan dasar sup sirip Hiu.

Pantang tangkap lumba-lumba

Melihat kenyataan ini, Riko sangat terkejut dan prihatin. Ia menuturkan bahwa para nelayan tradisional di sekitar Teluk Kiluan tidak pernah menangkap ikan lumba-lumba.

Sebab, menurut kepercayaan setempat, lumba-lumba adalah teman sejak zaman nenek moyang mereka dulu.

“Padahal, ikan lumba-lumba itulah yang selama ini menjadi teman bagi para nelayan tradisional di sepanjang pesisir Teluk Kiluan hingga Teluk Semangka di wilayah Tanggamus. 

Lumba-lumba Teluk Kiluan menjadi petunjuk bagi para nelayan untuk mencari ikan. Biasanya di daerah yang banyak ikan lumba-lumbanya akan banyak ikan-ikan besar yang biasa ditangkap para nelayan,” ujarnya Riko menjelaskan.

“Kalau itu dibiarkan lama-lama lumba-lumba di Teluk Kiluan akan punah,” tuturnya sedih.

Menyadari kondisi ini akhirnya pada tahun 2005 Riko mengajak para nelayan lokal untuk melakukan upaya penyelamatan lumba-lumba dengan mengadakan pengamanan dan pengusiran para pemburu lumba-lumba yang datang ke perairan itu.

Semua hal baik dan berdayaguna ini dimulai dari tekad baja seorang Riko Stefanus yang awalnya hanyalah seorang penjual pempek dan kini menjadi perintis dan penggiat wisata bahari di perairan Teluk Kian, Tanggamus, Lampung. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Yayasan Ekowisata Cinta Kepada Alam

Agar tujuan perlindungan dan konservasi lumba-lumba dapat berjalan efektif, terkoordinir dengan baik dan para nelayan di sekitar Teluk Kiluan mendapatkan manfaat ekonomi, maka Riko berbuat sesuatu.

Langkahnya didukung oleh Solihin, Amin dan Egot.

Ia kemudian mengajak puluhan warga di enam perkampungan nelayan di sekitar Teluk Kiluan merintis dan membentuk kelompok ekowisata yang diberi nama Yayasan Ekowisata Cinta Kepada Alam (Cikal).

“Keyakinan bahwa kami bisa mengupayakan konservasi lumba-lumba di tempat ini didasarkan pada sebuah buku yang pernah saya baca di sebuah toko buku pada tahun 2004, berjudul Pengkajian Ekowisata Pesut di Kalimantan Timur yang dipublikasikan oleh LIPI,” jelas pria kelahiran tahun 1971 ini mantap.

Upaya itu pada awalnya tidak mudah.

Kondisi dana yang terbatas dan semangat masyarakat sekitar yang masih rendah untuk terlibat dalam kegiatan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Riko dan timnya untuk mulai bergerak.

Bahkan karena minimnya dukungan, tak jarang ia harus rela merogoh kantongnya sendiri untuk mewujudkan cita-cita dan harapannya itu.

Marry Steve, pengajar di salah satu Lembaga Bahasa di Kota Bandar Lampung dari Canada pada suatu kesempatan di tahun 2005 datang ke Teluk Kiluan.

Riko menemaninya berkeliling menikmati keindahan alam dan menyaksikan atraksi lumba-lumba di Teluk Kiluan.

Kehadirannya di tempat ini rupanya memberi dampak positif, orang semakin bersemangat karena ada bule yang datang berkunjung ke daerah mereka.

Melalui berbagai macam pendekatan dan contoh nyata akhirnya perlahan-lahan banyak warga akhirnya ikut berpartisipasi mendukung program Yayasan Ekowisata Cikal.

Setelah belasan tahun merintis usaha ekowisata dan konservasi satwa bersama para nelayan, kini hasilnya sudah bisa  mereka rasakan bersama.

“Selain mencari ikan di laut, para nelayan tradisional di Teluk Kiluan sekarang juga mulai menyewakan perahunya bagi wisatawan yang mau menikmati sensasi bermain dan menikmati atraksi lumba-lumba di lautan.

Indahnya panorama alam di wilayah perairan Teluk Kiluan, Tanggamus, Lampung yang berada di balik Gunung Tanggang. (Romo Jatra Kelana Pr)

Mereka juga ada yang membangun homestay atau menyewakan rumahnya sebagai tempat menginap bagi wisatawan dengan biaya yang terjangkau.

“Pemerintah daerah dan pemerintah pusat pun kini telah hadir memberi dukungan bagi pengembangan kawasan wisata ini”, kata pria yang tak menamatkan jenjang sekolah menengahnya ini bangga.

Salah satu penginapan itu adalah Cheche Guest House milik Riko dan keluarganya.

Penginapan yang nyaman dengan sajian beragam menu andalan hasil tangkapan nelayan yang segar siap untuk dinikmati bersama keluarga.

Selain program konservasi lumba-lumba, program konservasi lainnya yang telah dilakukan oleh Yayasan Ekowisata Cikal di Teluk Kiluan antara lain rehabilitasi terumbu karang, rehabilitasi hutan Mangrove dan penangkaran Penyu Sisik yang juga terancam punah. “

“Kami juga menjalin kerja sama dengan tim ahli dari Universitas Lampung (UNILA) dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) untuk mengadakan berbagai upaya penelitian yang mendukung kegiatan konservasi bagi kelestarian alam di tempat ini”, papar ayah dari Fransiskus dan Laurentius ini lebih lanjut.

Berbagai undangan pertemuan dan pelatihan tentang isu lingkungan hidup dan konservasi alam skala nasional dan internasional telah ia ikuti.

Kehadirannya itu membuat kawasan wisata Teluk Kiluan pun semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sejumlah penghargaan pun diterima.

Di antarannya adalah peringkat terbaik keempat tingkat Nasional untuk kategori ‘Pokdarwis Berkembang’ yang diraih Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Panggawa Teluk Kiluan yang berada dalam naungan Yayasan Ekowisata Cikal.

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam acara Indonesian Tourism Award 2017 di Hotel Bidakara Jakarta pada Rabu (27/9/2017) kepada Riko Stefanus.

Selain menu aneka masakan laut, kawasan wisata bahari Teluk Kiluan di Kabupaten Tanggamus, Lampung, juga menyuguhkan air laut yang bening untuk mandi dan berenang di tepian pantai. (Romo Jatra Kelana Pr)

Gunung Tanggang

Latar belakang Gunung Tanggang yang berdiri kokoh di kejauhan menambah pesona wisata di Teluk Kiluan. Riko dan masyarakat Teluk Kiluan boleh bersyukur dan berbangga hati karena usaha mereka untuk memperkenalkan potensi wisata daerahnya tidak sia-sia.

Kini, Kawasan Wisata Konservasi Lumba-lumba dan Taman Wisata Perairan Teluk Kiluan telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) yang tertuang dalam SK No. 49/KEPMEN-KP/2019.

Akhirnya Riko berharap agar pengembangan Kawasan Wisata Teluk Kiluan dapat terus mendapat perhatian dan dukungan dari pihak-pihak terkait.

“Saya berharap ke depan kawasan wisata yang sudah dikenal luas ini dapat terus diperhatikan.

Juga bisa didukung oleh banyak pihak serta dapat dibangun kerjasama yang baik antara pengelola, pengunjung, pemerintah dan swasta.

Semua ini untuk mewujudkan program-program dalam upaya menjadikan Teluk Kiluan sebagai wilayah ekowisata unggulan di Kabupaten Tanggamus dan Provinsi Lampung pada umumnya.

Dan semoga semakin banyak orang ikut ambil bagian menjaga kelestarian lingkungan”, tegasnya mantap. (Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here