Rindu Pelayanan Paroki yang Ramah, Jemput Bola, dan Komunikatif

0
325 views
Melayani orang lain. (Ist)

PADA masa pandemi Covid-19, ini toko online dan jasa platform lainnya berlomba-lomba menawarkan produknya. Bukan hanya produknya yang dipromosikan, tetapi service atau layanan yang memuaskan pembeli diiklankan.

Servis mereka benar-benar dihitung dan dinilai oleh para pelanggan. Semakin mereka mendapat 5 bintang, maka level mereka semakin naik. Semakin banyak bintang, maka semakin banyak pelanggan akan memilihnya.

Pelayanan yang tidak memuaskan akan menyebabkan pelanggan pergi.

Bila menengok ke pengalaman, saya kadang merasa jengkel bila mendapat pelayanan yang mengecewakan dari suatu bank atau suatu maskapai penerbangan. Karena pelayanan yang mengecewakan, biasanya mulut saya bercerita kepada orang lain tentang hal tersebut.

Model layanan Gereja

Saya merasa bahwa saya memiliki hak untuk dilayani dengan memuaskan. Hal yang sama pun terjadi dalam pelayanan Gereja.

Pernah beberapa umat bercerita tentang pengalaman mengurus sesuatu di paroki. Mereka tidak hanya nrima in pandung, ketika pelayanan di sekretariat paroki terlalu ribet dan tidak jelas, mereka komplen.

Ada harapan besar bahwa pelayanan di lembaga-lembaga gereja bisa memuaskan umat.

Menurut saya, hal itu dapat dimengerti. Karena memang pelayanan berkualitas merupakan salah satu hal yang esensial.

Dalam dunia bisnis, jelas-jelas banyak perusahaan mengangkat service sebagai salah satu keunggulan mereka.

Demikian pula sekolah-sekolah mati-matian berusaha untuk memberikan pelayanan yang dapat menarik murid baru.

Service sungguh menjadi salah satu keunggulan.

Service di alam bawah sadar umat

Dalam dunia semacam itulah umat Katolik hidup. Secara sadar atau tidak, mereka akan mencari pelayanan yang bagus.

Persepsi tidak dilayani dengan baik menjadikan mereka bersikap negatif atau menjauhi pelayanan. “Kalau kamu tidak melayani dengan baik, ya sudah cari di tempat lain.” 

  • Umat memiliki tendensi ketika Romo A kurang ramah dan terkesan ribet, maka akan mencari Romo B.
  • Kalau Ketua Lingkungan kurang kolaboratif, maka umat bisa saja menerobos struktur.
  • Bila perayaan ekaristi di Paroki A kurang menyentuh dan terlalu lama, maka umat dengan bebas pergi ke Paroki B.

Apalagi sekarang ini, masa pandemi memungkinkan umat mendapat pelayanan dari seluruh ujung dunia.

Ketika paroki tidak memberi pelayanan kepada dombanya, maka dombanya bisa chat dengan paroki lain atau romo lain dari pulau lain untuk memberi pelayanan secara virtual.

Masa pandemi ini juga mengingatkan pembatasan umat untuk berkumpul, maka banyak paroki menggunakan google form untuk membantu beragam keperluan kesekretariatan.

Pernah ada cerita umat merasa keberatan harus mengumpulkan kertas dokumen anaknya yang akan mengikuti persiapan krisma ke sekretariat paroki dengan alasan C-19.

“Mengapa tidak kirim foto pakai WA?”

Syukurlah tak lama kemudian paroki merespon harapan itu dengan pendaftaran online dan memanfaatkan google form untuk mengurus persiapan krisma.

Situasi ini tak perlu diperdebatkan. Ada memang yang menanggapi bahwa umat harus diedukasi ini itu tentang teritori paroki.

Atau komentar bahwa umat harus belajar melayani dan jangan bermental bos dan lain-lainnya.

Menurut saya, budaya mendapat pelayanan berkualitas harus direspon secara positif sebagai motivasi untuk memberi pelayanan berkualitas.

Cobalah berada di posisi sebaliknya. Pelayan Gereja perlu kadang berada di posisi mereka yang dilayani.

  • Bagaimana rasanya seandainya romo paroki harus antri di sekretariat untuk mendapatkan formulir baptis?
  • Bagaimana rasanya bila seorang anggota dewan pastoral paroki mencari informasi tentang kuperper dan tak mendapat jawaban yang memuaskan?
  • Bagaimana kalau salah satu keluarga Anda mencari romo untuk misa, tetapi dilempar ke Romo A lalu ke Romo B lalu ke Romo C dan akhirnya tidak mendapat romo?
  • Pernahkan keluarga Anda minta Sakramen Minyak Suci dan sulit menghubungi romonya?
  • Pernahkah Anda merasakan seorang umat sudah mengendarai motor selama hampir dua jam, pagi-pagi buta ke pastoran dan meminta waktu untuk tanda tangan, namun hanya diterima di parkiran sambil lalu tanpa diajak duduk?

Coba para pelayan di paroki atau lembaga Gereja lainnya menempatkan diri pada posisi tersebut agar pembicaraan kita tentang the qualified service itu riil.

Buah pelayanan yang serampangan

Pelayanan tak berkualitas akan berakibat fatal. Saya pernah mencoba untuk mendata beberapa buah dari pelayanan yang tidak berkualitas seperti ini.

  1. Umat jengkel kepada gembala atau pelayan Gereja.
  2. Umat memutuskan tidak mau aktif sementara dalam hidup menggereja
  3. Umat “jajan” ibadat di paroki atau gereja lain.
  4. Umat meninggalkan iman Katolik.
  5. Umat mengurangi dukungan finansial untuk paroki.
  6. Umat diam-diam mencari pelayan rohani dari luar keuskupan.
  7. Umat menyebarkan cerita negatif tentang pelayanan.
  8. Terjadi perpecahan di antara umat.
  9. Umat merasa menjadi domba hilang .
  10. Paroki sulit mencari sukarelawa dalam pelayanan.
  11. Menurunnya kecintaan kepada paroki asalnya.
  12. Tidak akan menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Katolik.

Silahkan menambahi sendiri hal-hal lain.

Dengan melihat beberapa akibat tersebut, baik kalau aktivitas pelayanan yang menjadi ujung tombak perjumpaan dengan banyak orang mendapat perhatian.

Melayani bukan dilayani

Gereja mengamini “Aku datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.”

Konsekuensi dari sabda Tuhan ini adalah pelayanan Gereja pun harus semakin berkualitas.

Institusi-institusi di bawah naungan Gereja Katolik harus menjauhkan diri dari pelayanan kebutuhan umat yang asal-asalan atau terlalu birokratis dan njlimet.

Jadi pelayanan berkualitas bukanlah demi memanjakan umat tetapi ini adalah konsekuensi dari panggilan Gereja.

Gereja itu melanjutkan pelayanan Kristus. Ingat Gereja itu sakramen Kristus. Pelayanan kita yang buruk bisa menciderai citra Kristus.

Kristus bahkan menganugerahkan karunia-karunia yang dibutuhkan untuk membangun tubuh-Nya yaitu Gereja. Maka seluruh kegiatan pelayanan Gereja hendaknya saling melengkapi dan memperkaya.

Tentu, ini bukan melulu soal pelayan tertahbis. Tetapi ini tentang kita semua.

Tindakan positif pertama yang dapat membantu kita semakin berkualitas adalah sikap responsif.

Responsif berarti berkehendak untuk menolong dan menyediakan kebutuhan. Untuk kebutuhan umat (Gereja) mesti dikenali.

Entah itu kongregasi, lembaga pendidikan katolik, rumah sakit ataupun paroki mesti mengenali dulu kebutuhan umat setempat.

Untuk itulah kita terbiasa pertama-tama dalam menyusun program kegiatan mesti menganalisa dan mengakomodasi kebutuhan setempat.

Tindakan berikutnya menegakkan reliabilitas.

Maksud reliabilitas ialah usaha menjawab kebutuhan-kebutuhan yang memang dapat direspon. Untuk menjawabnya, maka dipikirkan terlebih dulu jawaban seperti apa yang dapat diberikan dan juga seberapa besar kemampuan kita menjawabnya.

Kebutuhan mana yang dapat secara optimal dan total ditanggapi. Artinya, jangan kita menjawab tetapi hanya setengah-setengah saja.

Setelah itu, perlu dibangun sistem pelayanan yang mudah dan tertata.

Perlu dibuat langkah-langkah yang jelas mengenai alur pelayanan dan informasi yang mudah diakses sehingga tidak menimbulkan banyak pertanyaan.

Semakin mudah diakses dan komunikatif maka semakin banyak kebutuhan dapat dipenuhi.

Yang tak kalah penting adalah service attitude.

Semakin orang diperlakukan baik dalam pelayanan itu maka orang akan merasa dimanusiakan.

Personal touch dalam rupa kehangatan, bersahabat, semangat membantu dan tentu kasih akan sangat memberi dampak kepada orang yang dilayani.

Menurut banyak tulisan, bagian inilah yang akan menumbuhkan tingkat kepuasan dalam pelayanan.

Paroki maju, bukan karena mampu menjawab semua kebutuhan umatnya. Tapi karena ditopang oleh service attitude ini.

Keunggulan lembaga keagamaan sudah semestinya di bagian attitude ini. Dan bagi Gereja tentu semangat kasih persaudaraan menjadi daya pikat yang luar biasa.

Saya tidak menutup mata bahwa dibutuhkan tenaga pelayan yang profesional dan fasilitas  representatif. Hal itu dapat diusahakan terus menerus sesuai kemampuan finansial lembaga.

Semoga di masa pandemi ini, Gereja semakin melihat beragam peluang pelayanan yang dapat diambil untuk dikelola guna menanggapi kebutuhan rohani umat Katolik yang semakin jarang bertatap muka dengan gembalanya dan pelayanan sakramental lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here