RIP Pastor Constant Lelyemin MSC

0
399 views
Nomor rekening resmi Keuskupan Ketapang di Kalbar.

“IKUT Kau Saja….”

Itulah kata-kata yang selalu diucapkan Pastor Constant Lelyemin OSC, jika salah satu dari kami Komunitas Ureyana bercanda dengan beliau.

Kata-kata itu juga yang keluar, ketika saya dan Dokter Sita (dokter Keluarga MSC Ureyana) bersama Usi Welly Oratmangun dan Bapa Bruno Layan (Keluarga Pastor Constant) memintanya dengan bujuk rayu agar bisa pergi ke Jakarta untuk kontrol rutin jantung dan paru-paru.

Jadwal kontrol seharusnya pada bulan September lalu, namun beliau tidak mau merepotkan orang sehingga selalu beralasan untuk tidak pergi kontrol.

Ia selalu mengatakan: “Biar begini sudah, barangkali besok saya sudah mati.”

Ungkapan kepasrahan dan penyerahan dirinya seperti seorang yang sudah siap untuk menghadap Bapa di surga. Ia telah menantikan datangnya hari untuk kembali kepada Bapa.

Singkat ceritam melalui bujuk rayu akhirnya beliau mau kontrol ke Jakarta, setelah Dokter Sita melakukan pemeriksaan dirinya di RS Margaretris dan mengeluarkan surat rujukan untuk kontrol ke RS St. Carolus Jakarta.

RIP Pastor Constant Lelyemin MSC.

Kontrol kesehatan

Minggu 9 Nopember kami berangkat ke Jakarta. Pada hari Senin keesokan harinya, saya mengantar beliau untuk kontrol di RS Carolus, mendaftar dan menunggu. Kami mendapat kesempatan pada esok hari Selasa, 11 Nopember pukul 21.00 WIB utk pemeriksaan oleh Dokter Garjito (spesialis jantung yang menangani Pastor Constant, sejak operasi bypass jantung 10th lalu).

Dokter Garjito sangat memahami dan mengerti kondisi Pastor Constant. Malam itu pemeriksaan memakan waktu 30 menit dan diminta untuk kembali lagi esok hari untuk pemeriksaan lanjut rekam jantung.

Keesokan hari, pukul 9, saya kembali mengantar beliau kembali ke Carolus untuk rekam jantung. Beliau ada di antrian pertama pasien pemeriksaan jantung.

Dokter Garjito kemudian melakukan pemeriksaan lanjut di Ruang Tindakan dengan alat yang canggih karena menggunakan sistem digital dan layar seperti komputer. Dokter dengan sangat telaten dan teliti memeriksanya dan Pastor Constan menjalaninya dengan sabar dan setia dengan tetap menebarkan senyuman tanpa ada rasa pengeluhan.

Pemeriksaan berjalan lancar dan memakan waktu hampir satu jam. Setelah pemeriksaan, kami menunggu di ruang dokter sambil Dokter Garjito melakukan analisa rekaman yang telah diambil di layar komputer.

RIP Pastor Constant Lelyemin MSC.

Saat dokter melakukan analisa rekaman, beliau berbincang-bincang dengan saya dan mengatakan terima kasih masih setia mengantarnya untuk kontrol jantung.

Beliau kemudian melanjutkan kata-katanya dan itu selalu terngiang-ngiang di telinga saya saat ia meninggal. Ia berucap, Elton, kamu jangan kuatir.

Ini kali terakhir kamu mengantar saya ke Jakarta. Tahun depan kamu tidak usah repot lagi seperti ini”.

Saya menjawabnya, “Pastor tidak usah kuatir, selama saya masih di Saumlaki, saya akan melakukan hal ini untuk Pastor.”

Beliau hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun. 10 menit berlalu akhirnya dokter menemui kami. Dokter menjelaskan kondisi jantung Pastor Lelyemin; jantungnya masih ada pembengkakan dan ada beberapa titik kebocoran masih sama seperti tahun-tahun kemarin.

Fungsi jantung beliau masih 28% seperti tahun kemarin, agak membaik ketimbang tahun 2017 yang hanya 25%.

Dokter kemudian memberikan resep obat; masih seperti sebelumnya dan berpesan untuk tetap minum obat, boleh makan apa saja dan jalan jangan cepat dan terburu-buru. Sambil memberi surat rujukan untuk pemeriksaan paru-paru pada dokter paru-paru.

Setelah semua proses itu, saya mendaftarkan beliau untuk pemeriksaan paru-paru pada dokter Fahmi yang juga menangani paru-paru nya beberapa tahun ini. Setelah proses admin selesai, kami berdua pulang ke Provinsialat.

Bersama Konfrater MSC.

Alat bantu dengar

Sebelum kembali ke Provinsialat, saya mengatakan kepadanya untuk singgah di Pusat Alat Bantu Dengar Salemba (dekat RS Carolus) untuk pemeriksaan alat bantu dengarnya yang sudah tidak berfungsi baik. Tempat di mana dulu alat bantu dengar itu dibeli.

Ia hanya berucap, “Ikut kau saja….,” katanya sambil tersenyum.

Kami mampir dan mengambil nomor antrian dan menunggu. Selang 15 menit kami dipanggil dan melakukan semua pemeriksaan telinganya dan alat bantu dengar. Alat bantu dengar sebelah kirinya ditinggal untuk diperbaiki karena sudah tidak berfungsi lagi. Kami akhirnya kembali ke Provinsialat.

Ia berujar, “Hari ini cukup melelahkan ya,” sambil mengucapkan terima kasih dan melemparkan senyum khasnya.

Keesokan harinya, kami kembali lagi ke Carolus untuk pemeriksaan paru-paru.

Pemeriksaan memakan waktu 20 menit oleh Dokter Fahmi dan hasilnya baik cuma beliau mengalami sedikit sesak napas sehingga dokter memberi rujukan kepada kami untuk ke ruang tindakan untuk melakukan terapi penguapan.

Saya kemudian mengantar beliau ke ruang tindakan dan melakukan terapi penguapan. Kurang lebih 20 menit proses itu usai dan kami pun menuju ke apotek RS untuk mengambil obat dan pulang.

Proses pemeriksaan semuany akhirnya tuntas dan dokter meminta untuk istirahat beberapa waktu di Jakarta sampai kondisi agak membaik dan kuat agar bisa melakukan perjalanan kembali ke Saumlaki.

Akhirnya beliau beristirahat kurang lebih sepekan di Provinsialat sambil menunggu perbaikan alat bantu dengarnya beres.

Hari senin pagi tanggal 18 Nopember, bersama Pater Superior MSC Maluku, Pastor Josep Restoran, kami mengunjungi Pastor Jopy Sumakud di Kramat Jati yang sedang dalam proses terapi.

Mereka berjumpa berpelukan dan saling bercengkerama dan bersenda gurau. Begitu juga keesokan harinya, selasa pagi kami mengunjungi Pastor John Leftew di Apartemen Mansion di Kemayoran.

Mereka bercengkerama dan seolah itu adalah saat terakhir beliau pamitan dengan confrater yang sakit. Sore harinya, beliau diajak jalan oleh Sahabat MSC yang memiliki concern untuk menggalang dana demi kepentingan pastor-pastor lansia dan yang sakit.

Ia berjumpa dengan mereka dengan ucapan terima kasih atas perhatian dan dukungan serta mendoakan mereka, di antaranya Ibu Wediana, Kristian bersama istrinya Jenty dan Herman bersama istrinya Evi.

Setelah semua proses itu usai, kami akhirnya kembali ke Saumlaki pada Jumat, 22 Nopember dinihari 00.10 wib dengan Pesawat Batik Air menuju Ambon. Penerbangan 3 jam 20menit dan tiba dengan selamat di Ambon pukul 05.30.

Kami dijemput Mas Yoyo di Bandara dan kembali ke Gonzalo Veloso untuk sarapan, istirahat dan makan siang sambil menunggu penerbangan siang jam 13.10 menuju ke Saumlaki.

Kami tiba dengan selamat di Saumlaki pukul 14.30. Kondisi kesehatannya baik dan wajahnya cerah ceria, tanpa kelihatan seperti orang yang lagi sakit berat.

Fr Diakon Dayu menjemput di Bandara dengan mobil biara. Kami meluncur kembali ke Biara dan di dalam mobil kami masih bercanda-canda dan beliau hanya tersenyum tanpa kata.

Setibanya di biara beliau mengucapkan terima kasih dan kami mengantarnya ke kamar dan beliau beristirahat.

Meninggal di kamar.

Malam hari beliau masih makan malam bersama dan bersenda gurau dengan frater Diakon Matias, Frater Diakon Dayu dan Bruder Anton.

Frater Diakon Matias menanyakan kondisi kesehatannya dan beliau menjawab seperti biasanya, “Yaa… Saya masih hidup tapi mungkin besok sudah mati.”

Jawaban yang selalu muncul, jika kami menanyakan kondisi kesehatannya atau bagaimana kabarnya hari ini.

Meninggal di kamar

Pagi hari, sabtu 23 Nopember beliau tidak keluar sarapan, kami mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Kami berpikir beliau perlu beristirahat karena perjalanan yang lama dan jauh.

Pagi itu dari kamar sebelah, saya masih mendengar beliau batuk dan masuk keluar kamar mandinya.

Tak lama berselang, ibu-ibu dapur mengetuk pintunya dari belakang kamar, karena ingin memanggilnya untuk sarapan sekitar jam 10. Tapi juga tak ada jawaban dan berpikir beliau masih beristirahat.

Siang hari makan siang pun beliau tidak keluar kamar, kami mengira beliau memang butuh istrahat. Beliau tidak keluar makan, karena ada juga makanan ringan di kamarnya yang biasa ia konsumsi sendiri.

Hingga sore hari tidak ada gerakan, kami akhirnya memutuskan untuk mendobrak masuk.

Frater Diakon Dayu dan Saya, Bruder dan Frater Diakon Matias beserta ibu-ibu harap-harap cemas dan jadi kuatir. Saya meminta Frater Diakon Dayu untuk memecahkan kaca jendela belakang kamar yang dekat dengan pintu kamar agar saya bisa membuka pintu kamar yang terkunci.

Saat kaca terbuka saya memasukkan tangan dan memutar kunci dan membuka pintu kamar bagian belakang.

Hati saya sedih melihat beliau terbujur kaku dengan ujung kuku sudah berwarna biru, saya tak dapat berkata apa-apa lagi dan langsung menelpon Dokter Sita untuk datang memeriksa keadaan, saya menelpon Usi Welly dan kemudian Dokter Lucy Felendity untuk datang.

Serangan jantung

Tak lama Usi Welly Oratmangun dan suami Bapak Bruno Layan beserta Dokter Lucy bersama suami Bapak Ricard Lalamafu tiba di Biara dan memastikan kondisi beliau sudah tidak bernyawa.

Dokter Lucy setelah memeriksa memastikan beliau telah berpulang kurang lebih 8 jam yang lalu karena serangan jantung.

Badannya sudah membiru dan tidur miring ke kanan. Kami semua tak dapat menahan tangis, ia telah berpulang dan di bawah kepalanya, ia meletakan tulisan: “Yesus, Yesus, Yesus, Yesus, Yesus, Yesus.”

Ia telah menyediakan dirinya menghadap Bapa.

Orang Suci dan Bijaksana itu telah pergi. Dokter Lucy kemudian sigap menelpon tenaga medis untuk segera datang ke Biara dan membereskan semua hal bersama Usy Welly dan Mam Regina (Keluarga Pastor Lelyemin).

Mereka membalikkan badannya, memandikan dan mengenakan jubah. Badannya yang semula keras ia lembutkan selembut-lembutnya. Kami meneteskan air mata karena memang beliau tidak ingin merepotkan dan menyusahkan orang.

Setelah mengenakan jubah, proses formalin dimulai namun juga tak menemukan pembuluh nadi untuk masuknya jarum karena semuanya telah diambil dan dipakai saat operasi bypass.

Dokter Sita yang sudah ada menggantikan dokter Lucy yang izin pulang untuk urusan rumah sigap memanggil dokter spesialis bedah, Dokter Josep untuk datang menangani.

Beberapa saat dokter Josep bersama dua dokter specialis lainnya sigap membantu menemukan dan membuka pembuluh darah di bagian leher untuk proses formalin dan prosesnya berjalan lancar.

Setelah proses formalin usai, beliau mengenakan kasula MSC, dipindahkan dan disemayamkan di Ruang Rekreasi untuk didoakan umat. Umat sudah berdatangan sejak sore malam hari itu memenuhi lingkungan Biara.

Para pelayat dan pemerhati

Banyak orang datang membantu, tenaga dan material, natura mengalir ke Biara.

Bapak Bupati Kepulauan Tanimbar (Bp Petrus Fatlolon) menyiapkan peti jenazah* untuk beliau. Kira² sebelum jam 2 pagi peti jenazah tiba di Biara dan jenazah dipindahkan ke Peti setelah keluarga Pastor Lelyemin dari Meyano melaksanakan acara adat penghormatan untuk beliau.

Jam 2 dinihari jenazah dihantar ke Kapel Biara, saya menerimanya di depan kapel dengan doa dan merecikinya dengan air berkat. Kami mengantarnya masuk ke Kapel di mana ia setia merayakan Ekaristi dengan lagu Ave Admirabile dan lagu Maria.

Saat ini, jenazah disemayamkan di Kapel Biara MSC Ureyana dan umat mengalir datang untuk berdoa dan memberikan penghormatan. Ia seolah telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke rumah Bapa.

Ia ke Jakarta, bukan hanya berobat tapi mohon pamit pada Pimpinan Provinsi, ia pamit pada Pimpinan Daerah, ia mengunjungi confratres yang sakit dan pamit pada mereka, ia mampir di Ambon untuk pamit pada confratres di Ambon sambil melihat tempat di mana ia pernah tinggal.

Ia telah pergi dan Kristus Raja Semesta Alam datang menjemputnya untuk kembali ke rumah Bapa dan menajdi pendoa bagi kita.

Menemani mereka menjalani masa tua adalah sebuah berkat yang terberi bagiku. Sebuah kebahagiaan yang tak terucap. Mendengarkan kisah hidup dan karya mereka menjadikanku belajar tentang keteguhan dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Karena kebijaksanaan tidak hanya terlihat dari kata-kata mereka yang meneguhkan saja, tapi tampak dalam jejak-jejak dan tapak-tapak karya yang mereka tinggalkan pada pertumbuhan iman umat yang dilayani.

Saat kaki mereka tak kuat lagi menapak bumi untuk berjalan, diriku belajar kesabaran dan ketabahan untuk menemani, menuntun dan mengantar mereka ke tempat indah yang ingin mereka tuju.

Pada wajah yang tersenyum ramah & sukacita menjalani hidup walau dalam keadaan yang terbatas, diriku belajar untuk tetap setia menjalani hari-hari & memberikan kemampuan terbaikku untuk melayani mereka, karena hidup tak perlu untuk dikeluhkan tapi dijalani dengan sukacita.

Pada ketakberdayaan mereka di hari tua yang membutuhkan tanganku untuk menolong mereka, diriku menyadari dan belajar bahwa kita membutuhkan tangan rekan-rekan seperjalanan untuk tetap bisa berjalan dan menguatkan langkah kita.

Pada kesetiaan mereka menjalani imamat hingga usia senja, diriku belajar komitmen kuat pada pilihan yang telah diambil dan kesetiaan Tuhan yang luar biasa dalam menemani perjalanan imamatku.

Saya tak pernah menyangka beliau pergi begitu cepat. Tak ada tanda apa pun. Tapi saya yakin, iman dan imamatnya yang ia hidupi dengan setia, sabar dan bijkasana menghantar ia kepada kehidupan abadi di surga dan menjadi pendoa bagi kita.

Saya ingat pesannya di Carolus. “Elton, jangan cemas, tahun depan kamu tidak akan repot lagi mengantar saya ke Jakarta seperti ini.”

Pesan kelakar itu kini menjadi nyata di depan mata saya.

Hari ini pertama kali sebagai seorang imam saya menangisi seorang imam senior yg suci yang sangat dekat di hati saya. Dia memberi teladan dengan kata² dan kebijaksanaan hidupnya. Saya sungguh merasa terberkati bisa melayani beliau hingga akhir hayat.

Terima kasih Pastor Constan untuk semua pelajaran hidupnya. Percayakan hidupmu pada Tuhan. Maka Dia akan menyelesaikan dengan baik apa yang telah Dia mulai dalam dirimu…..

Elton Ureyana Saumlaki

Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam

24 Nopember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here