RIP Pastor Olivier Maire: Mati di Tangan Emmanuel, Pembakar Gereja Katedral Nantes

2
490 views
RIP Pastor Olivier Maire SMM.

BENAR-benar tidak tahu diri. Kiasan ini sangat tepat untuk memberi gambaran atas peristiwa yang mengoyak perhatian masyarakat Perancis hari-hari ini.

Pastor Olivier Maire adalah Provinsial Serikat Maria Monfortan (SMM). Umurnya 60 tahun dan tinggal di Biara Saint-Laurent-sur-Sèvre, wilayah Perancis bagian barat.

Yang menyedihkan, pastor pemimpin umum SMM Provinsi Perancis justru mati di tangan seorang mantan pengungsi migran asal Rwanda di Afrika yang pernah dia kasih fasilitas hidup dan kemudian ikut “membesarkannya”.

Tersangka orang dekat sendiri

Pembunuh ini bernama Emmanuel Abayisenga. Umurnya baru 40 tahun.

Ketika kabar pembunuhan itu mengemuka, ia lalu menyerahkan diri kepada polisi di Vendée, Senin 10 Agustus 2021 pagi waktu lokal Perancis.

Hari-hari sebelumnya, Emma tinggal di sebuah rumah sakit gangguan kejiwaan sejak 20 Juli.

Begitu dinyatakan sembuh, dia kembali ke “pastoran” Serikat Maria Monfortan di mana Pastor Provinsial SMM Provinsi Perancis itu tinggal.

Kasus pembunuhan yang menelan korban jiwa seorang Provinsial SMM ini meninggalkan dukacita yang mendalam.

Demikian tutur Romo Santino Brembilla, salah satu anggota Dewan SMM kepada France Info Radio.

“Almarhum adalah imam SMM dengan pengaruh yang begitu luas,” tutur Romo Brembilla, seraya menambahkan bahwa Pastor Maire adalah sosok ahli spiritualitas tarekat religius yang sekarang ini dia pimpin.

Sebagai sebuah tarekat religius imam, SMM punya perhatian khusus dan lebih kepada mereka yang termarginalisasi di masyarakat.

Pernah menjadi misionaris di Uganda

Almarhum Pastor Olivier lahir dan besar di Besançon. Ia belajar di Roma dan kemudian terbang ke Afrika menjadi imam misionaris di Uganda sebelum akhirnya bertugas di Vendée sebagai pemimpin SMM Provinsi Perancis.

Presiden Perancis Emmanuel Macron ikut menyatakan dukacitanya atas tragedi ini. “Wajahnya mencerminkan semangat belarasa dan kasih terhadap sesama,” demikian pernyataan Champs Elysées.

Kisah kematian pastor di tangan seorang mantan pengungsi migran ini langsung mengingatkan pada kasus serupa tahun 2016.

Bulan Juli tahun itu, Pastor Jacques Hamel mati dibunuh dengan cara disabet pedang dan digorok lehernya oleh dua orang migran Afrika yang berafiliasi dengan ISIS.

Tersangka pembakar Gereja Katedral Nantes

Emma bukan saja hanya terlibat dalam kasus pembunuhan Pastor Olivier Maire. Ia juga tersangka utama pembakar Gereja Katedral Nantes bulan Juni 2020.

Ia datang ke Perancis tahun 2013 sebagai pengungssi migran dari Rwanda, Afrika. Ia mencari suaka politik ke Perancis.

Ia seorang Katolik dan kemudian malah mendapat kepercayaan di Nantes, setelah sekian lama menjadi tenaga sukarelawan di Keuskupan Nantes.

Isu politik

Merespon insiden pembunuhan oleh tersangka utama pembakar Gereja Katedral Nantes, politisi sayap kanan Marine Le Pen menuduh kaum radikal kini telah “menguasai” Perancis.

“Di negara ini, kalian (para pengungsi migran) memang bukan siapa-siapa. Tapi bisa membakar gereja katedral dan membunuh imam tanpa harus dideportasi ke negara asalnya,” tulis Le Pen.

Mendagri Perancis Gérald Darmanin menangkis tuduhan itu. Alih-alih bersimpati kepada umat Katolik Perancis atas tragedi pembunuhan ini, Madame Le Pen justru ngedumel tak berdasar.

Tersangka pembunuh dan pembakar Katedral Nantes, kata Darmanin, sejatinya sudah bisa dideportasi ke Rwanda sejak tahun 2019.

Namun, tahun-tahun terakhir ini dia tidak bisa dikirim balik ke Rwanda, karena masih dalam proses penyidikan aparat penegak hukum.

Korban kekerasan politik di Rwanda

Harian Katolik La Croix menyebut Olivier berasal dari etnis Hutu yang terlibat dalam aksi pembantaian massal terhadap etnis Tutsi di Rwanda beberapa tahun silam.

Kejadian genosida ini ada di depan matanya, ketika dia baru berumur 15 tahun. Ayahnya dieksekusi karena keterlibatannya melakukan aksi pembunuhan terhadap warga Tutsi.

Pada usia 24 tahun, Olivier mencari suaka politik ke Perancis.

Berkali-kali permohonannya ditolak oleh pemerintah, tapi justru Keuskupan Nantes malah memsponsorinya menjadi tenaga sukarelawan sampai akhirnya diberi kepercayaan sebagai “juru kunci” Gereja Katedral Nantes.

Dan ia kemudian malah berusaha membakarnya.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here