RS-nya Diserang, Suster Hentikan Layanan Darurat Malam Hari

0
208 views
RS Mokama di Bihar India yang dikelola oleh Sisters of Charity of Nazareth (Matters India)

KABAR memprihatinkan. Kongregasi Sisters of Charity of Nazareth hari Jumat (16/7/20201) memutuskan telah menutup unit gawat darurat rumah sakit mereka di Bihar, India.

Keputusan diambil setelah terjadi serangan massa atas rumah sakit yang dikelola oleh Kongregasi suster tersebut.

“Kami telah memberi tahu petugas kantor polisi setempat tentang keputusan kami menutup layanan unit gawat darurat,” kata Suster Anjana Kunnath, kepala Rumah Sakit Nazareth di Mokama kepada Matters India.

Kota Mokama terletak sekitar 90 Km tenggara Patna, ibkota Negara Bagian Bihar.

Sebelumnya, dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para simpatisan rumah sakit, Suster Kunnath menceritakan kisah memprihatinkan tersebut.

Gerombolan perusuh itu berjumlah sekitar 30 orang.

Datang langsung main pukul

Mereka tiba-tiba menyerang seorang biarawati, ketika mereka merusak satu-satunya bangsal yang berfungsi di rumah sakit mereka.

Mereka telah membawa seorang pria yang sudah mati karena luka tembak, tetapi bersikeras bahwa dia masih memiliki denyut nadi.

“Massa perusuh meneror staf pekerja, penjaga dan pasien. Sepuluh dari sebelas pasien mengalami demam dan nafas mereka sampai terengah-engah. Takut dan tekanan darah satu pasien menjadi tinggi karena panik,” katanya.

Para perusuh itu menendang dan memukuli Suster Aruna Kerketta yang saat itu sedang bertugas.

Suster Kunnath lebih lanjut mencatat bahwa serangan itu terjadi di bawah “tatapan” segelintir personel polisi Mokama di mana mereka tidak melakukan apa pun guna mencegahnya.

Massa bergegas menuju bangsal RS dan berteriak, “Bersiaplah dengan segala sesuatu dan panggil dokter.”. Mereka lalu mengambil tandu untuk membawa orang itu.

Mereka mendorong tandu sampai ke ujung bangsal tempat dua pasien rawat inap perempuan sedang beristirahat. Satu orang dari massa mencoba memukul salah satu dari mereka.

Saat kepala perawat menanyakan apa yang terjadi, perawat lain memanggil dokter yang bertugas.

Dokter memanggil dua dari massa perusuh dan seorang polisi ke pos perawat dan memberi tahu mereka bahwa pasien itu sudah meninggal.

Beberapa dari massa terus berteriak bahwa ada denyut nadi pada pasien mereka. Ketika mereka mencoba menyerang para perawat, mereka mengurung diri di dalam ruang perawat bersama dengan dokter.

Ketika massa terus menggedor pintu, para perawat memanggil suster yang siap dipanggil.

Suster Kerketta, yang tidak mengetahui keributan itu, bertanya kepada seseorang dari massa perusuh tentang pasien mereka yang tubuhnya berada di luar bangsal.

Ia mengatakan pasien berusia 40 tahun, Pankaj Kumar Singh, ditembak saat pulang kerja dengan sepeda motor.

Mendengar ini, Suster Kerketta mencoba menelepon pimpinan. Tetapi massa memukulinya.

Salah satu dari mereka lalu merampas teleponnya dan mengatakan bahwa nadi pasien itu masih berdenyut.

“Sungguh tragis kehilangan seorang pemuda seperti itu secara tiba-tiba. Lebih tragis lagi meneror perawat dan dokter yang sedang bertugas,” kata surat Suster Kunnath.

Menurutnya, rumah sakit berfungsi dengan segelintir perawat dan dokter, karena sulit merekrut dokter dan perawat terlatih untuk bekerja di dalamnya.

Saat ini, rumah sakit hanya memiliki layanan medis rawat jalan dan rawat inap bersama dengan rawat jalan obstetri dan ginekologi.

Ia juga memiliki layanan seperti laboratorium, X-Ray, ultrasound dan farmasi, selain ‘Pusat Kesehatan’ dan departemen fisioterapi tingkat lanjut.

“Banyak pasien stroke mendapatkan kembali kekuatan untuk menjalani kehidupan yang dapat diatur melalui kedua pusat ini,” bunyi surat Suster Kunnath.

Dia juga mengatakan kepada masyarakat setempat telah meminta pemerintah untuk membuat rumah sakit berfungsi penuh.

Namun, orang yang sama “tidak membantu kami untuk membuatnya berfungsi sebagaimana seharusnya rumah sakit berfungsi,” kata Suster Kunnath dengan menyesal.

Dia juga mengatakan rumah sakit merasa sulit untuk berfungsi di “lingkungan yang tidak bersahabat seperti itu.”

Rumah sakit Nazareth dimulai pada tahun 1948 dengan 25 tempat tidur dan secara bertahap berkembang menjadi fasilitas 150 tempat tidur pada tahun 1965.

Berasal dari Kentucky di AS

Kongregasi ini berbasis di Kentucky di Amerika Serikat. Memulai karya di Bihar, India, atas undangan Uskup BJ Sullivan dari Patna dan Pastor Marion Batson, imam Mokama, keduanya Jesuit.

Enam biarawati berkebangsaan Amerika datang ke India setahun sebelumnya, ketika negara itu merdeka.

Sebuah departemen kesehatan masyarakat dimulai pada tahun 1961 dan pada tahun 1984 rumah sakit diperluas dengan fasilitas 280 tempat tidur dengan bantuan lembaga pendanaan Jerman.

Para suster juga meluncurkan beberapa proyek kesehatan seperti “Mahila Mandal, program imunisasi, program TB dan Kusta.

Pada tahun 2004, rumah sakit memulai Pusat Perawatan Masyarakat untuk merawat pasien HIV/AIDS.

Dalam 73 tahun terakhir, rumah sakit telah merawat ratusan ribu orang, kebanyakan miskin, dari banyak distrik Bihar, Benggala Barat dan bahkan dari perbatasan Nepal.

Namun, para biarawati mulai mundur di rumah sakit pada 2012 karena berbagai alasan.

Sekolah rumah sakit untuk melatih perawat dan apoteker, dimulai pada awal, telah menghasilkan ratusan tenaga kesehatan yang sekarang melayani di India dan luar negeri.

PS: Sumber berita dari Mattters India

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here