Ruang Edukatif, Mengolah Rasa Malu Jadi Berkat

1
330 views
Ilustrasi: Menanggung rasa malu.

KISAH ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jaksel.

Beberapa tahun silam, Agata (bukan nama sebenarnya) mendapat kesempatan mengunjungi Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata di siang hari. Waktu itu siang hari, udara terasa panas, dan matahari bersinar terik.

Agata bersama beberapa sahabat berjalan menyusuri blok-blok pemakaman. Agata berhenti pada salah satu makam. Ia berdiri, mengamati, sampai akhirnya tidak terasa airmata terurai, menangis haru mengenang sosok pahlawan yang sesungguhnya belum dia kenal.

Setelah agak tenang, sahabatnya Roni (bukan nama sebenarnya) menyapa, “Agata kamu kenal dengan pahlawan yang baru saja ditangisi?”

Agata diam, menggeleng lalu berkata, “Tidak… Saya menangis, karena merasa malu dengan diri sendiri. Kendati belum kenal, sosok pahlawan yang berada dalam makam itu telah berjasa bagi negeri ini, sedangkan saya belum ada apa-apanya.

Yang membuat tambah sedih lagi orang yang berjasa itu dimakamkan di dalam tanah satu kali dua meter, sama seperti saya kalau nanti meninggal. Akan tetapi bedanya saya belum berjasa apa-apa.”

Roni tersenyum, dan berkata, “Agata, kamu berbakat jadi pahlawan. Karena sudah punya salah satu modal besar, yaitu adanya kesadaran akan rasa malu. Tenangkan hatimu, dan mari kita ke makam pahlawan yang lain.”  

Lalu, Agata melanjutkan perjalanan menuju blok makam selanjutnya. Agata berjalan pelan sambil merenungkan kata Roni terkait rasa malu.

Benarkah yang disampaikan Roni itu?

Ilustrasi: Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang. (Mathias Hariyadi)

Esensi rasa malu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia rasa malu mengandung beberapa makna. Salah satu arti, yaitu merasa sangat tidak enak hati, karena telah melakukan sesuatu yang kurang baik (kurang benar, atau berbeda dengan kebiasaan).

Rasa malu oleh banyak orang dianggap buruk, racun dan destruktif.

Menurut Maxwell (2001), rasa malu merupakan jebakan atau perangkap mental yang dapat menghambat seorang berani mengambil risiko. Perangkap rasa malu perlu diatasi,dan diolah secara benar. Rasa malu yang sudah diolah dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan perubahan positif.  

Dalam konteks individu, kesadaran akan rasa malu dalam diri merupakan auto-kritik seseorang untuk berbenah memperbaiki kualitas diri. Rasa malu dalam gerak batin yang disadari dapat diolah menjadi alat yang ampuh untuk mengubah perilaku dan adab seseorang, menjadi pribadi yang berkualitas.

Banyak orang besar dunia, yang dulunya diremehkan orang-orang di sekitarnya. Sebut saja Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, Alexander Graham Bell, dan James Cook. Akan tetapi, mereka mampu mengolah rasa malu menjadi kekuatan untuk melangkah lebih jauh, guna mencapai cita-cita mereka.

Ilustrasi: Rasa malu. (Ist)

Mengolah jadi berkat

Rasa malu perlu diolah menjadi berkat. Rasa malu yang direfleksikan itu bersifat formatif, membangkitkan seseorang dari keterpurukan hidup. Agar seseorang tidak jatuh pada lubang kesalahan yang sama, orang perlu belajar memperbaiki diri. Belajar memperbaiki diri dari keterpurukan merupakan formasi hidup bagi seseorang untuk berjiwa besar, dan rela berkorban.

Soekarno dan Hatta, keduanya Bapak Proklamator, mengalami proses hidup yang tidak mudah. Mereka pernah ditangkap, dipermalukan penjajah, dibuang, dan diasingkan ke tempat-tempat jauh. Kondisi buruk yang dialami, tidak membuat mereka menyerah, dan surut ke belakang, melainkan terus maju berjuang untuk negeri yang dicintai.

Refleksi diri

Adanya manfaat di balik rasa malu bukan berarti seseorang mendapat legitimasi untuk mempermalukan orang lain. Manusia dengan sesama seharusnya saling menghargai. Tidak dibenarkan orang melakukan penghinaan yang dapat menimbulkan rasa malu bagi sesama. Seandainya, ada kejadian yang membuat seseorang merasa malu, jangan pernah berkecil hati.

Karena bisa jadi, rasa malu tersebut menjadi pemacu semangat seseorang untuk berubah.

Menurut teori ketahanan rasa malu Brown (dalam positivepsychology.com, 2022), seseorang dapat mengatasi rasa malu secara konstruktif.  Melalui kemampuan mengenali pengalaman yang tidak mengenakan. Orang yang sudah memahami diri, khususnya yang terkait peristiwa yang tidak mengenakan dapat mengontrol emosi secara baik, dan tidak mudah masuk perangkap belenggu rasa malu berkepanjangan. 

Manusia yang mempunyai kesadaran diri kuat seperti para pahlawan, Orang Kudus, dan pemimpin berkualitas sudah terbiasa mengolah mental mereka sendiri melalui refleksi atas pengalaman. Kendati mengalami peristiwa yang berpotensi menimbulkan rasa malu, mereka sudah siap mengatasi persoalan tersebut.

Pengalaman hidup yang menyakitkan, termasuk yang menimbulkan rasa malu bagi orang yang mempunyai kesadaran baik dapat dijadikan modal awal untuk bertumbuh menjadi pribadi tangguh. Peristiwa menyakitkan -jika diolah baik- dapat mendewasakan seseorang, semakin kreatif dalam memecahkan masalah, dan menjadikan pribadi tahan uji dalam menghadapi tantangan zaman.

Ilustrasi – Malu hati lalu ingin mundur saja. (Ist)

Kesimpulan

Sebagai catatan akhir, rasa malu bukan merupakan akhir dari segalanya. Rasa malu yang diolah merupakan berkat; menjadi salah satu pemicu motivasi seseorang untuk berubah.

Dengan merefleksikan kejadian yang menimbulkan rasa malu, orang akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, dan berkualitas.

Hasil kerja dan belajar yang tidak memuaskan atau kegagalan di dalam hidup bukan merupakan peristiwa yang harus mematikan orang untuk kemudian bisa bertumbuh kembali. Dalam situasi demikian, bisa jadi rasa malu akan muncul.

Akan tetapi, rasa malu itu ibarat “pupuk”, karena kejadian-kejadian yang tidak mengenakan tersebut dapat menjadi unsur “hara” yang mampu menyuburkan pertumbuhan personal seseorang menjadi lebih baik.

John Maxwell mengatakan bahwa kegagalan dapat diubah menjadi batu loncatan meraih kesuksesan yang lebih baik.

Semoga sekolah-sekolah di Indonesia mempunyai ruang formatif yang dapat mengubah rasa bersalah, merasa malu, atau gagal menjadi berkat bagi para murid yang mengalami perasaan demikian.

1 COMMENT

  1. rasa malu memang menjatuhkan mental, orang yang mampu mengolah emosi akan mampu berdiri kembali. sementara orang yang kurang mampu merefleksikan diri akan marah dan cenderung menjadi pendendam.
    untuk itu dibutuhkan lingkungan yang dapat mendukung seseorang untuk mengolah emosinya agar dapat menjadi berkat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here