Sabtu, 20 Maret 2021: Bukalah Pintu Hatimu

0
345 views
Ilustrasi - program syering dalam kelompok. (Istimewa)

Bacaan I: Yeremia 11:18-20
Injil: Yohanes 7:40-53

DALAM acara “Bukalah Pintu Hatimu” di aula paroki, sengaja diundang umat yang kurang aktif hidup menggerejanya.

Acara itu bertujuan untuk membawa umat kembali ke Gereja.

Acara diutamakan untuk mendengarkan sharing dari umat yang selama ini tenggelam.

Selain itu, Gereja juga berusaha mendengar masukan dan harapan dari mereka.

“Saya sudah empat tahun tidak masuk gereja paroki kita ini,” kata seorang bapak memulai sharing-nya.

“Rasanya rindu untuk giat dan mengikuti aneka perayaan di gereja, namun setiap kali ingat peristiwa-peristiwa yang mengecewakan dari Gereja ini, saya urungkan niatku untuk kembali,” katanya.

“Saya menyambut baik pertemuan ini, karena saya mencintai Gereja dan tidak ingin jauh lagi,” lanjutnya.

“Saya tidak ke gereja di sini; lebih dari delapan tahun,” sambung bapak yang lain.

“Saya tidak menemukan kemurahan hati dan sikap kasih serta damai dari Gereja,” katanya.

“Sikap dan kata-kata pastor waktu itu telah menghancurkan harapan kami sebagai orangtua yang sedang bingung menghadapi masalah pernikahan anak saya,” katanya dengan sedih.

“Sejak tidak ke gereja paroki ini, saya tetap setiap dengan Gereja Katolik. Saya tidak mau pindah gereja lain,” katanya.

Masih banyak yang sharing, menyampaikan alasan mengapa mereka tidak aktif lagi dalam hidup menggereja bahkan tidak mau tahu dengan dinamika hidup menggereja.

Dalam Injil kita baca, “Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.”

Kita semua pengikut Yesus mencintai Yesus dan Gereja-Nya.

Tetapi sekaligus, kita bisa salah dalam mengungkapkan cinta kita pada Kristus dan Gereja.

Contohnya ketika mau menegakan aturan, pegang erat hukum Gereja, menjaga ketertiban di gereja. Sering kali ada umat yang tidak terima dan tersinggung, kecewa, dan seterusnya.

Kecewaan, tersinggung, marah dengan romo, atau pengurus dewan, konflik antar umat yang lain adalah beberapa sebab yang membuat orang meninggalkan Gereja.

Bahkan tidak jarang muncul kelompok-kelompok dalam Gereja, hingga saling jegal dan tidak saling mendukung.

Gereja masih harus membuka pintu hati untuk satu sama lain. Berani jujur mengakui dan meminta maaf jika ada salah langkah baik itu romo, pengurus dewan, atau antar umat sendiri.

Supaya komunio atau paguyuban yang ada semakin mencerminkan kesatuan Gereja dengan Kristus.

Apakah aku juga akan meninggalkan Gereja, ketika ada permasalahan dan muncul kekecewaan pada Gereja?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here